In Memoriam: HUT Alm Romo Mangun (YB.Mangunwijaya) 6 Mei 1929.

  • Whatsapp

JAKARTA – Mengenang 93 tahun wafatnya Romo Mangun atau yang lebih dikenal YB. Mangunwijaya seorang budayawan dan pejuang kemanusiaan.

“Saya adalah seorang yang menyakini kebenaran agama saya. Tetapi ini tidak menghalangi saya untuk merasa bersaudara dengan orang yang beragama lain di negeri ini, bahkan dengan sesama umat manusia”

Bacaan Lainnya

Dalam sebuah seminar, mendiang Romo Mangun berkata tentang Alm. Gus Dur, “Beliau ini jauh lebih Katolik dibanding saya, hanya saja belum dibaptis”

Sambil terkekeh Alm. Gus Dur menjawab “Panjenengan itu juga lebih Islam dari saya, Hanya saja tidak hapal syahadat”

Suatu saat Gus Dur main ke rumah Romo Mangun di Mrican, Yogyakarta. Pada waktu itu suara azan terdengar, Romo Mangun segera bilang ke sahabatnya itu: “kae nek arep sholat, sajadahe wis tak cepakke”.

Romo Mangun juga merancang sebuah masjid sederhana di tengah Kampung Code. Benar, masjid!

Alih-alih mengajak warga Code ramai-ramai berpindah agama, Romo Mangun lebih suka memfasilitasi mereka untuk bisa mendalami Islam dengan lebih baik.

Adapun Yusuf Bilyarta Mangunwijaya atau biasa dipanggil dengan Romo Mangun adalah sosok pastor Katolik yang unik dan langka. Semasa hidupnya Romo Mangun tak hanya berkiprah sebagai pemimpin gereja. Dia juga dikenal sebagai arsitek, sastrawan, pendidik, dan pejuang kemanusiaan.

Kampung Code menjadi salah satu mahakarya paling terkenal. Kiprah Romo Mangun di kampung ini bermula saat Pemerintah Kota Yogyakarta merencanakan penggusuran kampung tepi sungai ini sebagai jalur hijau. Romo Mangun berusaha menggagalkan rencana tersebut dengan cara menata kampung ini agar warga setempat dapat terhindar dari penggusuran.

Tak hanya sukses melawan penggusuran, kampung ini bahkan meraih penghargaan arsitektur prestisius, Aga Khan Award. Tangan dingin Romo Mangun yang rela tinggal Bersama warga mampu mengubah wajah kampung ini.

Awalnya, upaya cawe-cawe Romo Mangun sempat menuai kecurigaan. Predikatnya sebagai pastor yang bersedia terjun langsung membantu kaum marjinal masih dianggap aneh bagi masyarakat.

“Pastor seharusnya bekerja di gereja saja.” Mungkin demikian pikir banyak orang.

Apalagi Romo Mangun menolak bermukim di pastoran selama mengurus Kampung Code. Romo Mangun meminta izin Uskup untuk tinggal bersama warga yang dia bantu.

Romo Mangun membangun gubuk sederhana di bawah jembatan Gondolayu sebagai tempat tinggal. Tak ayal, banyak orang menyindir Romo Mangun tengah melakukan upaya kristenisasi di Yogyakarta.

Pandangan ini didukung juga dengan profil warga setempat. Kampung Code memang kampungnya orang-orang yang tersisihkan dari deru pembangunan Yogyakarta.

Penghuninya terdiri dari segala macam profesi yang biasa dianggap sebagai sampah masyarakat. Mulai dari pengamen, pedagang asongan, loper koran, maling, preman, hingga pelacur. Demografi seperti ini membuat warga Code tak terlalu acuh dengan agama.

Dengan kondisi demikian Romo Mangun mulai masuk dan menata Kampung Code. Dia datang ke kampung tersebut dengan “filsafat lonte”, sebuah filsafat jalanan bikinannya sendiri. Sudah jelas filsafat ini tak ada dalilnya dalam ajaran resmi agama Katolik.

Melalui filsafat ini, Romo Mangun menasehati anak-anak di kampung tersebut dengan bahasa yang membumi agar mereka tetap mau bersekolah sebelum atau setelah mereka menjadi loper koran atau mengasong.

“Oleh wae ibumu lonte, tapi kowe ra oleh dadi lonte.” “Boleh saja ibumu seorang pelacur, tapi kamu tidak boleh jadi pelacur juga,” pesan Romo Mangun.

Kehadiran Romo Mangun dan pendekatannya yang sederhana ternyata mengena di hati warga Code.

Orang-orang kecil merasa dirangkul dan dipandang sebagai manusia beradab. Mereka pun termotivasi untuk ikut berpartisipasi menata tempat tinggal mereka menjadi lebih bermartabat. Romo Mangun berperan mendesain rumah-rumah warga agar terhindar dari banjir Kali Code dan sedap dipandang mata.

Warga juga mendukung dengan perubahan perilaku. Mereka bersatu menjadi sekumpulan warga yang guyub. Dengan modal tersebut mereka turut serta menghijaukan kampung, menghilangkan kebiasaan buang sampah di kali, dan mendorong anak-anak memperoleh pendidikan yang layak.

Perubahan perilaku ini tampak juga di aspek religiusitas. Warga Code yang semula berjarak dengan agama mulai mau lebih mengenal agama.

Romo Mangun merancang sebuah masjid sederhana di tengah Kampung Code. Benar, masjid. Romo Mangun tak pernah membangun gereja ataupun membaptis orang di Code.

Alih-alih mengajak warga Code ramai-ramai berpindah agama, Romo Mangun lebih suka memfasilitasi mereka untuk bisa mendalami Islam dengan lebih baik.

Hingga kini, Masjid Kalimosodo karya Romo Mangun masih berdiri kokoh di Kampung Code. Selain masjid, warga Code juga memiliki fasilitas umum lain berupa balai pertemuan dan perpustakaan.

Masyarakat yang sempat menaruh curiga bisa bersorak gembira. Romo Mangun bisa dibilang “gagal total” dalam upaya mengkristenkan Code. Umat Islam masih menjadi kelompok mayoritas dalam demografi penduduk Kampung Code.

Sejatinya, niat Romo Mangun datang ke Code bukan untuk menambah jumlah statistik pemeluk Katolik. Romo Mangun tidak hadir untuk menyebarkan agama Katolik.

Romo Mangun hadir untuk menyebarkan nilai-nilai Katolik yang membawa damai bagi semua umat manusia.

Karya Romo Mangun murni karena alasan kemanusiaan. Sebuah nilai universal yang, sayangnya, selama ini lebih sering terdengar di mimbar kotbah daripada dihadirkan secara riil bagi masyarakat yang terpinggirkan.*

Bicara soal persahabatan Habibie dan Romo Mangun, salah satu kalimat Habibie yang sungguh berkesan adalah ketika ia memasuki gedung Gereja Katolik dan bahkan shalat di dalam Gereja Katolik:

“Saya tahu Tuhan, orang yang membuat tempat ini adalah mereka yang percaya bahwa hanya ada satu Tuhan. Saya tidak mengganggu mereka, saya hanya ingin berdoa di tempat ini karena saya tidak mempunyai tempat”.

Disitulah juga, Rudy Habibie juga bertemu dengan Romo Mangun yang sedang studi arsitek di Aachen Jerman. Pertemuan ini terjadi setelah Rudy untuk beberapa kalinya sholat di dalam gedung Gereja.

Awalnya Rudy menyangka ia akan mendapat marah tetapi senyatanya tidak. Mereka malahan menjadi sangat akrab. Kata Rudy Habibie: “Terima Kasih Romo, Anda Mengajarkan Saya Ber-Islam.”

Romo Mangun dalam perjumpaannya dengan Habibie yang akrab disebutnya, “Mas Rudy” ini konon memberikan semangat kepada Rudy Habibie yang sedang mengalami masa sulit yang pernah membuatnya hampir putus asa. Rudy pun menjadi kuat kembali dan mengucapkan terima kasih kepada Romo Mangun di akhir perjumpaan mereka. Dan quote favorit dari film Rudy Habibie, datang dari Romo Mangun: “Tuhan lebih besar dari tempat ibadah.”

Rudy Habibie cukup penasaran kenapa laki-laki itu bisa berkhotbah di depan, padahal dia anak baru. Bagaimana bisa orang Indonesia disuruh memimpin ibadah untuk umat di Jerman?

Romo Mangun tersenyum saja melihat Rudy shalat di pojok belakang gereja. Biasanya Rudy menunggu sepi untuk shalat di gereja. Namun, karena hatinya sangat kacau pada saat itu, dia masuk saja walau sedang ada misa. Selesai ibadah, Romo Mangun menemui Rudy di belakang gereja.

“Lho, Mas Romo. Kok, kamu tadi di depan dan sekarang di sini?”

Romo Mangun hanya tertawa. “Ada juga saya yang bertanya, Rud. Mengapa kamu shalat di sini?”

“Sebelum Mas Romo ke sini, saya juga sudah sering shalat di sini. Aku menumpang saja, Mas. Aku butuh kedamaian Allah. Di sini, kan, tak ada masjid,” jelas Rudy.

“Rudy … Rudy … Seandainya satu dunia ini sepertimu,” Romo Mangun tersenyum.

“Seperti saya? Tukang ngotot maksudnya?”

“Bukan, tetapi orang yang selalu yakin kalau Tuhan adalah yang Maha Pengasih. Apa yang dibuatNya, segala cobaanNya, segala perbedaan di bumi, adalah bentuk cintaNya,” jawab Romo Mangun. “Senang sekali melihat kamu nyaman berdoa di gereja dengan caramu sendiri. Ini justru bukti keimananmu tak mudah goyah, Rud.”

Rudy terdiam. Dia menatap Romo sambil tersenyum, “Ah, Mas Romo ini bijak sekali, seperti pastor saja.”

“Lho, selama ini kamu memanggil saya Romo, kan? Kok kaget kalau saya pastor?”

“Nama Mas itu ‘Rama’ kan? Romo?”

“Bukan! Saya ini ‘romo’ alias ‘pastor’! Nama saya Y.B. Mangunwijaya. Romo itu panggilan untuk pastor dalam bahasa Jawa.” Romo Mangun tertawa.

“Oooh, saya pikir ‘Romo’ itu panggilan ‘Rama’ dalam bahasa Jawa!”
(“Rudy, Kisah Masa Muda Sang Visioner”)

Tentang pemakaman Romo Mangun: Setelah dimandikan di RS Carolus, saat jenasah Romo Mangun disemayamkan di Gereja Katedral Jakarta, selain Gus Dur datanglah juga si Rudy Habibie, dan dengan lugas dia langsung bertanya: “Apakah boleh saya berdoa dengan cara saya, Romo Mangun adalah sahabat saya”.

Esok harinya, karena jenazah Romo Mangun akan dibawa dari Jakarta ke Yogyakarta, ternyata Rudy Habibie mengirim pesawat Hercules untuk sahabatnya ini.

Ya. Alm Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, seorang imam diosesan Keuskupan Agung Semarang yang berulang tahun hari ini adalah splendor veritatis – yang penuh dengan warna-warni pelangi kemanusiaan, dimana pergulatan hidupnya tercermin dalam beragam karya monumental. Novel “Burung Burung Manyar” (1979), menyabet penghargaan The South-East Asian Award (1986).
Sentuhan arsitektur yang berbasis masyarakat terpinggirkan di tebing Kali Code
telah membuatnya dianugerahi Aga Khan (1990-1992). Belum lagi, kepeduliannya
terhadap karya pendidikan dasar dan orang-orang miskin. Ia jugalah yang
mendirikan Dinamika Edukasi Dasar (DED).

Sebagai penutup, saya kutipkan sepenggal sajak indah dari nenek moyang kita,
yang dituliskan kembali oleh Mangunwijaya dalam bukunya Wastu Citra (hal 2):

“Kang ingaran urip mono mung jumbuhing badan wadag lan batine, pepindhane
wadhah lan isine …” (Yang disebut hidup sejati tak lain adalah leburnya tubuh jasmani
dengan batinnya).

Gereja pun diajaknya mencapai hidup sejati, maka Mangunwijaya pun dengan lantang menyerukan hati nurani kemanusiaan kepada seluruh warga Gereja.

“Di Asia, khususnya di Indonesia, manusia kecil, lemah, miskin umumnya tidak dihargai. Yang dihargai ialah mereka yang kaya dan berkuasa … Hukum rimba: siapa kuat, dia menang. Hukum ini nyata hidup dalam keseharian manusia, yang juga masih dianut oleh umat Katolik Indonesia.”

“Kelakar adalah kelakar, tidak perlu diambil serius 100 %. Namun, setiap rohaniwan Gereja Katolik (yang nota bene terkenal
sebagai agama yang kaya raya dan kuasa) sedikit banyak telah “terperangkap” dalam suatu sistem yang memang memberinya kesempatan dan fasilitas besar untuk memberi kepada kaum miskin, tetapi sangat menghalangi dia untuk menjadi kaum miskin,”.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.