YOGYAKARTA, ifakta.co – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah kebutuhan kompetensi di dunia kerja. Kondisi ini menuntut perguruan tinggi untuk mengevaluasi kembali pola pendidikan agar lulusan tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu menghadapi persoalan nyata.

Dosen Teknologi Informasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus pakar pembelajaran elektronik, Dr. Ir. Dwijoko Purbohadi, M.T., mengingatkan kampus agar tidak terlambat merespons perubahan tersebut. Menurutnya, perguruan tinggi perlu membekali mahasiswa dengan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan memecahkan masalah.

Tanpa pembaruan metode pembelajaran, kampus berisiko menghasilkan lulusan yang memiliki gelar akademik, tetapi belum menguasai keterampilan sesuai kebutuhan masyarakat dan industri.

Dwijoko bahkan menggunakan istilah “sarjana zonk” untuk menggambarkan kesenjangan antara pencapaian akademik dan kemampuan nyata lulusan.

“Tantangan perguruan tinggi saat ini bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, melainkan memastikan proses pendidikan tetap menghasilkan lulusan yang mampu berpikir kreatif, beradaptasi, dan menciptakan solusi di tengah perubahan dunia kerja,” ujar Dwijoko.

Ia menjelaskan, kampus perlu menghindari pola pendidikan yang hanya mengutamakan hafalan. Sebaliknya, mahasiswa harus memperoleh kesempatan untuk mengembangkan gagasan, menguji pengetahuan, dan menghasilkan solusi secara mandiri.

Penguasaan Teori Harus Beriringan dengan Kreativitas

Kemudahan memperoleh informasi melalui AI membawa perubahan terhadap proses pembelajaran di perguruan tinggi. Mahasiswa kini dapat mengakses berbagai pengetahuan dalam waktu singkat. Namun, kemudahan tersebut tidak serta-merta menjamin pemahaman terhadap suatu persoalan.

Dwijoko menegaskan bahwa penguasaan ilmu tetap menjadi fondasi penting dalam pendidikan tinggi. Mahasiswa membutuhkan pengetahuan yang kuat agar mampu memahami persoalan, memeriksa kebenaran informasi, serta menilai jawaban yang AI hasilkan.

Selain itu, mahasiswa perlu mengembangkan kemampuan mengolah informasi menjadi gagasan dan inovasi. Dengan begitu, mereka tidak sekadar mengandalkan teknologi untuk menyelesaikan tugas perkuliahan.

Perubahan ini juga menuntut dosen untuk mengevaluasi metode pengajaran dan sistem penilaian. Menurut Dwijoko, tugas yang hanya mengukur kemampuan menghafal atau menghasilkan jawaban akhir berpotensi kehilangan relevansi ketika AI mampu membantu mengerjakannya.

Karena itu, dosen perlu memberikan penilaian yang turut mengukur proses berpikir mahasiswa. Aspek tersebut mencakup alasan memilih suatu pendekatan, kemampuan menyusun argumentasi, hingga keterampilan menguji hasil pekerjaan.

Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya mengejar nilai akademik. Mereka juga belajar mengambil keputusan dan menyelesaikan persoalan melalui kerja mandiri maupun kolaborasi.

Pemanfaatan AI Membutuhkan Etika dan Tanggung Jawab

Dwijoko menilai perguruan tinggi tidak perlu menolak kehadiran AI secara menyeluruh. Sebab, teknologi tersebut telah menjadi bagian dari perkembangan masyarakat dan industri.

Namun, kampus harus mengarahkan penggunaannya agar tetap mendukung tujuan pendidikan. Perguruan tinggi perlu menyusun aturan mengenai etika akademik, keterbukaan penggunaan AI, pemeriksaan informasi, dan tanggung jawab mahasiswa terhadap hasil pekerjaannya.

“Mahasiswa harus memahami bahwa AI merupakan alat bantu untuk memperluas kemampuan berpikir dan berkarya, bukan pengganti proses belajar. Penggunaan AI yang hanya bertujuan menghasilkan tugas secara instan justru dapat menghambat pembentukan kompetensi yang seharusnya diperoleh selama perkuliahan,” ucapnya.

Oleh karena itu, dosen perlu merancang tugas yang mendorong mahasiswa menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. Misalnya, mahasiswa dapat mengidentifikasi kesalahan jawaban AI, membangun argumentasi berdasarkan sumber tepercaya, serta menerapkan teori untuk menyelesaikan persoalan di lingkungan sekitar.

Pendekatan tersebut membuat AI berfungsi sebagai sarana pendukung pembelajaran, bukan jalan pintas untuk memperoleh hasil akademik.

AI Berbasis Agen dan AGI Jadi Tantangan Baru Kampus

Selain pemanfaatan AI dalam kegiatan akademik, Dwijoko turut menyoroti perkembangan agentic AI atau AI berbasis agen. Teknologi ini memungkinkan sistem merencanakan langkah, menggunakan perangkat lunak, dan menjalankan serangkaian tugas untuk mencapai tujuan tertentu dengan tingkat otonomi yang telah ditentukan.

Sistem tersebut dapat memanfaatkan large language model (LLM) sebagai salah satu komponen pendukung. Keduanya memiliki fungsi yang berkaitan, tetapi tidak termasuk kategori teknologi yang sepenuhnya sama.

Dalam lingkungan akademik, AI berbasis agen berpotensi membantu mahasiswa dan peneliti melakukan pencarian literatur, mengolah data, menulis program, hingga menyusun draf penelitian. Meski demikian, manusia tetap perlu memeriksa ketepatan informasi, metodologi, orisinalitas, dan integritas akademik.

Dwijoko juga membahas artificial general intelligence (AGI), yaitu konsep kecerdasan buatan yang memiliki kemampuan kognitif umum dan dapat menangani beragam jenis pekerjaan intelektual.

“Meski waktu pencapaian dan bentuk kemampuan AGI masih menjadi perdebatan, arah perkembangan AI saat ini sudah cukup menjadi alasan bagi perguruan tinggi untuk menyiapkan mahasiswa menghadapi perubahan pola kerja,” tegasnya.

Menurutnya, perkembangan otomatisasi berpotensi mengubah kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor. Oleh sebab itu, kemampuan memahami konteks, mengevaluasi hasil, mengambil keputusan, dan menangani persoalan kompleks akan semakin penting.

Dwijoko juga mengingatkan bahwa pencapaian peringkat institusi tidak boleh menjadi satu-satunya tolok ukur keberhasilan perguruan tinggi. Kampus harus mengutamakan peningkatan kompetensi mahasiswa melalui pembelajaran inovatif dan pengalaman praktik.

“Transformasi tersebut tidak cukup dilakukan dengan menambah mata kuliah AI ke dalam kurikulum. Integrasi AI perlu disesuaikan dengan karakteristik setiap bidang ilmu, supaya mahasiswa bisa menggunakan untuk memperkuat kompetensi profesional masing-masing,” tutupnya.

Dwijoko menegaskan bahwa keberhasilan perguruan tinggi menghadapi era AI harus terlihat dari kualitas kompetensi lulusannya. Mahasiswa perlu memiliki kemampuan belajar mandiri, berpikir kritis, dan menciptakan solusi yang bermanfaat.

(naf/lex)