BANYUMAS, ifakta.co – Pemerintah Kabupaten Banyumas mulai menjajaki penggunaan armada listrik sebagai alternatif transportasi publik yang lebih hemat biaya. Rencana tersebut muncul seiring upaya pemerintah daerah menekan pengeluaran operasional sekaligus mengurangi kebutuhan subsidi untuk layanan Trans Banyumas.
Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, mengungkapkan, pemerintah daerah berencana menguji satu unit bus listrik sebelum mempertimbangkan penggunaannya secara lebih luas. Melalui pengujian tersebut, Pemkab ingin mengetahui kemampuan armada listrik dalam menunjang aktivitas transportasi publik sehari-hari.
Sadewo menjelaskan, uji coba akan melibatkan satu unit bus listrik. Pemerintah daerah selanjutnya akan mengevaluasi kinerja kendaraan tersebut, terutama dari aspek efisiensi dan kebutuhan biaya operasional.
”Nanti mau ada test drive (uji coba) penggunaan bus listrik. Ada satu unit bus listrik yang akan kita uji cobakan,” kata Sadewo.
Menurut Sadewo, pengadaan satu unit bus listrik membutuhkan anggaran sekitar Rp2,8 miliar. Nilai tersebut memang cukup besar jika pemerintah atau pengelola transportasi ingin menambah armada dalam jumlah banyak.
Namun, harga pengadaan bukan satu-satunya pertimbangan. Pemerintah daerah juga ingin menghitung potensi penghematan selama kendaraan beroperasi. Sebab, penggunaan energi listrik berpeluang menekan pengeluaran operasional dibandingkan armada konvensional.
Dengan demikian, hasil pengujian akan menjadi bahan pertimbangan sebelum pihak terkait mengambil keputusan mengenai penggunaan bus listrik dalam layanan Trans Banyumas.
Sadewo juga berharap efisiensi tersebut mampu membuka peluang pembiayaan pengadaan armada melalui konsorsium pengelola Trans Banyumas. Artinya, pengelola tidak hanya mempertimbangkan harga pembelian, tetapi juga menghitung kemampuan penghematan untuk membayar angsuran kendaraan.
”Dengan biaya operasional yang kecil tersebut, nanti kira-kira konsorsium bisa tidak untuk membiayai angsurannya. Bus listrik ini bukan punya pemda,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa bus listrik yang akan menjalani pengujian bukan merupakan aset milik Pemkab Banyumas. Karena itu, pemerintah daerah ingin melihat kemungkinan keterlibatan konsorsium dalam pembiayaan armada tersebut.
Uji Coba Berlangsung Satu Bulan di Sejumlah Koridor
Selain mempertimbangkan efisiensi operasional, Pemkab Banyumas juga ingin mengurangi beban subsidi transportasi publik. Selama ini, pemerintah daerah perlu menyiapkan anggaran untuk mendukung keberlangsungan layanan Trans Banyumas.
Oleh karena itu, penggunaan bus listrik menjadi salah satu alternatif yang tengah pemerintah pertimbangkan. Jika armada tersebut mampu menekan pengeluaran secara signifikan, pengelola berpeluang mengalokasikan penghematan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan lainnya.
Meski demikian, pemerintah tidak ingin mengambil keputusan hanya berdasarkan perkiraan. Pemkab Banyumas akan terlebih dahulu menguji kemampuan kendaraan dalam kondisi operasional sebenarnya.
Sadewo menyebut, pemerintah merencanakan uji coba pada November mendatang. Pengujian akan berlangsung selama kurang lebih satu bulan dengan melibatkan beberapa koridor Trans Banyumas.
Selama periode tersebut, bus listrik akan menjalani aktivitas operasional untuk memberikan gambaran mengenai kebutuhan biaya dan kemampuan kendaraan dalam melayani penumpang. Pemerintah kemudian akan menghitung apakah efisiensi yang dihasilkan sebanding dengan biaya pengadaan armada.
”Kami akan melakukan uji coba selama satu bulan di beberapa koridor yang ada. Nanti dihitung kira-kira masuk tidak biaya operasionalnya,” terangnya.
Hasil perhitungan tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kelanjutan rencana penggunaan bus listrik. Jika pengelola mampu memperoleh penghematan yang memadai, konsorsium berpeluang mempertimbangkan pembiayaan angsuran pengadaan kendaraan.
Sebaliknya, apabila biaya operasional maupun skema pembiayaan belum memberikan keuntungan yang sesuai, pemerintah perlu mengevaluasi rencana tersebut sebelum menerapkannya secara lebih luas.
Terkait kendaraan yang akan mengikuti pengujian, Sadewo menyebut bus listrik tersebut merupakan produk buatan dalam negeri. Ia menyampaikan bahwa produsen armada yang akan menjalani uji coba berasal dari VKTR.
”Nama produsen dari bus listrik itu kalau tidak salah VKTR,” tambahnya.
Melalui rencana tersebut, Pemkab Banyumas ingin melihat peluang pemanfaatan teknologi kendaraan listrik dalam layanan transportasi publik. Namun, keputusan penggunaan armada secara berkelanjutan tetap bergantung pada hasil pengujian, efisiensi biaya, serta kemampuan pembiayaan konsorsium.
Dengan demikian, uji coba selama satu bulan pada November mendatang akan menjadi tahap awal untuk menilai kelayakan bus listrik sebagai bagian dari operasional Trans Banyumas.
(naf/lex)






























