BANJARNEGARA, ifakta.co – Perubahan fisik mulai tampak pada bangunan eks Stasiun Kereta Api Banjarnegara. Sejumlah bagian bangunan bersejarah tersebut mengalami pembongkaran pada Selasa (15/9).

Kondisi itu memicu perhatian Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara. Sebab, eks Stasiun Banjarnegara memiliki status sebagai Objek Cagar Budaya.

Ketua TACB Banjarnegara Heni Purwono mengatakan masyarakat lebih dulu memberi informasi mengenai aktivitas pembongkaran tersebut. Setelah menerima kabar itu, Heni langsung mengecek kondisi bangunan pada Selasa malam.

Iklan

Hasil pengecekan menunjukkan sejumlah bagian bangunan utama sudah berubah. Bagian pintu dan jendela kantor telah dibongkar. Selain itu, pekerja juga menambahkan sekat tembok pada beberapa ruangan.

Perubahan juga tampak pada bagian belakang bangunan. Heni menyebut terdapat penambahan bangunan pada area tersebut.

“Saya dikabari masyarakat hari Selasa pagi kalau stasiun Banjarnegara sedang dibongkar. Malam saya langsung cek lokasi, dan benar, bangunan utama kantor sudah dibongkar bagian pintu dan jendela, bahkan bagian ruangan ditambahi sekat tembok dan bagian belakang juga ditambahi bangunan,” jelas Heni.

Heni menyayangkan perubahan tersebut. Apalagi, aktivitas itu berlangsung tidak lama setelah masyarakat memperingati 130 tahun Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS).

Banjoemas History and Heritage Community (BHHC) menggelar kegiatan peringatan tersebut. Acara itu menghadirkan pameran arsip sejarah perkeretaapian.

Antusiasme masyarakat juga cukup tinggi. Lebih dari 1.600 orang mengunjungi pameran tersebut.

Menurut Heni, kondisi eks Stasiun Banjarnegara perlu mendapat perhatian karena bangunan itu memiliki nilai sejarah. Pemerintah Kabupaten Banjarnegara bahkan menetapkan bangunan tersebut sebagai Objek Cagar Budaya melalui Keputusan Bupati Banjarnegara Nomor 400.6.2/1111 Tahun 2024.

Karena itu, setiap pemanfaatan bangunan perlu mempertimbangkan status tersebut. TACB juga berharap pihak terkait menjaga bagian bangunan yang memiliki nilai sejarah.

Pada Rabu (16/9), TACB Banjarnegara menindaklanjuti persoalan tersebut. Tim mengirim surat kepada Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX Jawa Tengah, PT KAI Daop V Purwokerto, dan Satpol PP Banjarnegara.

TACB meminta proses pembongkaran maupun pembangunan di lokasi tersebut segera berhenti. Langkah itu bertujuan memberi ruang bagi pihak terkait untuk membahas pemanfaatan bangunan tanpa mengabaikan aspek pelestarian.

Eks Stasiun Banjarnegara Punya Peran Penting dalam Sejarah SDS

Heni juga berharap pemerintah dapat mempertahankan status cagar budaya eks Stasiun Banjarnegara. Bahkan, TACB memiliki harapan untuk meningkatkan status bangunan tersebut ke tingkat yang lebih tinggi.

“(Bangunan) itu sudah ditetapkan jadi cagar budaya. Bahkan kami berharap ke depan bisa dinaikkan peringkatnya menjadi cagar budaya provinsi atau nasional. Kalau begini kami khawatir justru status cagar budayanya dicabut,” tambah Heni.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinparbud Banjarnegara Kuat Hery Isnanto mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait kondisi bangunan tersebut.

Kuat menyebut pembangunan untuk sementara berhenti. Menurut informasi yang ia terima, PT KAI Daop V memiliki rencana membangun perkantoran pada kawasan tersebut.

“Pembangunan sementara dihentikan. Rencana akan dibangun perkantoran PT KAI Daop V. Kita berharap kaidah-kaidah cagar budaya diperhatikan. Semoga nanti ada titik temu yang tepat dalam pelestarian dan pemanfaatan stasiun bersejarah ini,” harap Kuat.

Selain bangunan fisiknya, eks Stasiun Banjarnegara juga memiliki hubungan erat dengan sejarah SDS. Pendiri BHHC sekaligus Rumah Arsip Banjoemas, Jatmiko Wicaksono, sebelumnya menjelaskan posisi kawasan tersebut dalam operasional perusahaan kereta api uap itu.

Menurut Jatmiko, Stasiun Banjarnegara dahulu tidak hanya melayani aktivitas naik dan turun penumpang. Kawasan itu juga memiliki depo yang menunjang kegiatan operasional SDS.

“itu bukan sekadar stasiun pemberhentian, namun Depo SDS juga. Jantung SDS ya ada di Banjarnegara,” ujar Jatmiko.

Catatan sejarah tersebut membuat keberadaan eks Stasiun Banjarnegara memiliki nilai lebih dari sekadar bangunan lama. Karena itu, perubahan fisik pada kawasan tersebut turut menyangkut upaya menjaga jejak sejarah perkeretaapian Banjarnegara.

Iklan