LAMPUNG, ifakta.co – Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau mulai menunjukkan perkembangan positif pada Selasa, 8 September 2026. Kondisi tersebut membuat sejumlah aktivitas yang sebelumnya terganggu perlahan kembali berjalan normal.
Salah satu dampaknya terlihat pada aktivitas penerbangan. Sejumlah bandara yang sempat terdampak abu vulkanik mulai kembali beroperasi seiring perubahan arah dan berkurangnya sebaran abu.
Meski demikian, pemerintah dan pihak terkait tetap melakukan pemantauan karena abu vulkanik masih dapat mengganggu jarak pandang serta penerbangan pada ketinggian tertentu.
Iklan
Erupsi Anak Krakatau Terjadi Delapan Kali
Badan Geologi mencatat Gunung Anak Krakatau mengalami delapan kali erupsi pada Selasa, 8 September 2026. Aktivitas tersebut berlangsung ketika sejumlah bandara yang sebelumnya terdampak erupsi mulai membuka kembali operasionalnya.
Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan, delapan erupsi tersebut berlangsung dalam rentang waktu singkat. Setiap erupsi hanya berlangsung sekitar 10 hingga 15 detik.
Menurut Lana, aktivitas tersebut tidak menyebabkan sebaran abu vulkanik dalam radius yang luas. Abu masih berada di sekitar kawasan gunung.
“Kita apa namanya hari ini kita melihat gitu ya ada sebanyak 8 kali gitu ya, tetapi ini dalam rentan yang sangat pendek begitu ya, pendek dan hanya 10 sampai 15 detik. Jadi tidak ada penyebaran (abu vulkanik), penyebarannya hanya di sekitar gunung saja,” kata dia saat diwawancarai wartawan, Selasa.
Badan Geologi tetap menetapkan radius aman di sekitar pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Masyarakat dilarang memasuki area dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung.
“[Radius erupsi] Tidak melebihi 3 kilometer. Jadi memang kita masih menetapkan radius aman untuk tidak dimasuki sejauh 3 kilometer dari aktivitas, dari pusat aktivitas,” imbuhnya.
Lana mengatakan Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau berstatus Siaga. Saat ini, gunung tersebut terpantau memasuki fase Strombolian yang sesuai dengan karakter aktivitas vulkaniknya.
“Di mana di dalam fase ini terjadi erupsi dalam amplitudo yang tidak terlalu luas, tidak terlalu panjang, dan juga durasi waktu hanya beberapa detik,” ujarnya.
Sebaran Abu Vulkanik Mulai Menjauh
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau pergerakan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang mulai menjauh dari puncak gunung pada Selasa.
Berdasarkan pemantauan tersebut, abu bergerak ke arah selatan-barat daya. Pergerakan itu mencakup wilayah Samudera Hindia bagian barat dan Laut Banten.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta turut menyampaikan hasil analisis pemantauan satelit melalui akun Instagram @dkijakarta. Analisis tersebut menggunakan informasi dari PVMBG, VAAC Darwin, serta citra RGB Himawari-9.
Hasil pemantauan menunjukkan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terdeteksi dari permukaan hingga ketinggian 6.000 kaki. Arah pergerakannya menuju selatan-barat daya dan semakin menjauhi puncak gunung.
“Hasil pantauan BMKG menunjukkan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau diperkirakan bergerak menjauhi wilayah Indonesia menuju Samudera Hindia,” tulis akun Instagram @dkijakarta.
Sementara itu, berdasarkan informasi dari akun resmi BMKG @infobmkg, kondisi cuaca di sekitar Gunung Anak Krakatau dan perairan Selat Sunda relatif cerah hingga berawan sejak pagi sampai malam.
Namun, kondisi tersebut tidak berarti seluruh wilayah terbebas dari dampak abu vulkanik. Sisa material vulkanik masih berada di udara dan berpotensi menurunkan jarak pandang.
Situasi itu juga dapat mengganggu aktivitas penerbangan pada ketinggian tertentu. Karena itu, pemantauan terhadap sebaran abu vulkanik tetap diperlukan meski kondisinya mulai membaik.
PJJ Jakarta Berakhir, Sekolah Kembali Tatap Muka
Perkembangan sebaran abu vulkanik juga berdampak pada kebijakan pendidikan di Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menghentikan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang sebelumnya diterapkan sebagai langkah antisipasi dampak abu vulkanik Anak Krakatau.
Mulai Rabu, 9 September 2026, sekolah di wilayah DKI Jakarta kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM). Keputusan tersebut diambil setelah sebaran abu vulkanik di Jakarta mulai berkurang.
Meski PTM kembali berlangsung, sekolah tetap diminta memperhatikan kesehatan dan keselamatan peserta didik. Siswa juga diimbau menggunakan masker ketika melakukan aktivitas di luar ruangan.
Dinas Pendidikan DKI Jakarta turut meminta seluruh pihak di lingkungan sekolah membatasi kegiatan di luar ruangan.
Sebelumnya, PJJ berlangsung sejak Senin hingga Selasa sebagai respons terhadap sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau yang mencapai wilayah Jakarta.
Selain pembatasan kegiatan luar ruangan, satuan pendidikan juga diminta menutup pintu dan jendela dengan rapat untuk mencegah abu masuk ke dalam ruangan.
Pembersihan abu juga harus dilakukan dengan cara membasahinya terlebih dahulu atau menggunakan kain lembap.
“Dengan berkurangnya abu vulkanik di wilayah Provinsi DKI Jakarta serta dalam rangka mengoptimalkan capaian belajar dengan tetap mengutamakan kesehatan dan keselamatan warga satuan pendidikan, kegiatan belajar mengajar secara Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di seluruh satuan pendidikan DKI Jakarta akan kembali dilaksanakan mulai Rabu, 9 September 2026,” dikutip dari Instagram resmi Dinas Pendidikan, Selasa (8/9).
Lima Jurnalis Hilang Kontak di Selat Sunda
Di tengah perkembangan kondisi erupsi Gunung Anak Krakatau, operasi pencarian terhadap lima jurnalis dan awak kapal masih berlangsung. Mereka sebelumnya berlayar di Selat Sunda untuk meliput aktivitas gunung dari titik terdekat yang dinilai aman.
Kepala Basarnas Banten Al Amrad menjelaskan rombongan tersebut bertolak dari wilayah perairan Banten pada Senin, 7 September 2026.
“Pada hari Senin tanggal 7 September 2026 pada pukul 14.00 WIB, jurnalis Banten bertolak dari dermaga Pagedongan Carita untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau,” kata Al Amrad dalam keterangan yang dikutip detikcom, Selasa.
Sebelum kehilangan kontak, salah satu jurnalis dalam rombongan sempat berkomunikasi dengan rekannya di Lampung. Dalam komunikasi tersebut, dia juga membagikan lokasi terakhir kapal melalui fitur share location.
“Komunikasi terakhir korban dengan jurnalis Lampung atas nama Abay bahwa pada pukul 14.42 (7/9) mengirim share location terakhir dan pada pukul 15.04 terjadi hilang kontak. Sampai berita ini dilaporkan, korban belum ditemukan,” tutur Amrad.
Berdasarkan pemutakhiran data Basarnas pada Selasa malam pukul 19.40 WIB, rombongan yang berangkat menggunakan kapal tersebut berjumlah tujuh orang.
Mereka terdiri atas pewarta foto LKBN Antara M Bagus Khoirunnas, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, Donal yang merupakan pewarta lepas, serta dua orang lainnya yang masih dalam proses pendataan.
Tim SAR Perluas Pencarian
Operasi pencarian yang dilakukan Tim SAR Gabungan pada Selasa dihentikan sementara. Tim kemudian menyiapkan pencarian lanjutan pada Rabu, 9 September 2026.
Al Amrad mengatakan tim SAR pada operasi Selasa telah menyisir wilayah hingga Pulau Krakatau dan Pulau Panjang. Namun, pencarian hingga Selasa petang pukul 18.15 WIB belum menemukan keberadaan rombongan.
Untuk pencarian berikutnya, Basarnas Banten mengerahkan KN SAR Tatuka dan Rigid Inflatable Boat (RIB) Banten. Tim tersebut dilengkapi peralatan SAR air, medis, serta komunikasi.
Operasi pencarian juga melibatkan Polairud Polda Banten. Tim akan memperluas wilayah pencarian berdasarkan hasil evaluasi rute pelayaran dari Carita menuju kawasan Anak Gunung Krakatau.
“Untuk rencana besok tetap nanti kita memperluas area pencarian karena hari ini kita mempelajari rute dari Carita sampai dengan Anak Gunung Krakatau. Seperti itu,” kata Al Amrad kepada wartawan, dikutip dari Antara.
(sib/lex)



