SLEMAN, ifakta.co – Gunung Merapi bukan sekadar gunung api yang berdiri kokoh di antara Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Bagi masyarakat yang hidup di lerengnya, Merapi adalah bagian dari kehidupan, sumber penghidupan sekaligus kekuatan alam yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi ancaman mematikan.
Sejarah panjang Merapi mencatat sejumlah erupsi besar. Namun, dua peristiwa pada 2006 dan 2010 meninggalkan jejak yang sangat kuat dalam ingatan publik. Dua erupsi itu juga tidak dapat dilepaskan dari sosok Mbah Maridjan, juru kunci Merapi yang kemudian menjadi simbol keteguhan masyarakat lereng gunung.
Memasuki 2006, aktivitas vulkanik Merapi mulai meningkat. Pertumbuhan kubah lava di puncak diikuti guguran dan luncuran awan panas. Status aktivitas gunung pun meningkat hingga akhirnya berada pada level Awas pada Mei 2006.
Iklan
Pada 13 Mei 2006, Merapi memasuki fase erupsi. Aktivitas terus berkembang hingga Juni. Luncuran awan panas mencapai sejumlah kawasan di lereng, termasuk Kaliadem dan kawasan aliran Kali Gendol.
Saat itu, perhatian publik tertuju kepada Mbah Maridjan. Sosok yang dikenal sebagai juru kunci Merapi tersebut memilih tetap berada di kawasan Kinahrejo meski ancaman erupsi meningkat.
Peristiwa 2006 menjadi semacam alarm bahwa kehidupan masyarakat di lereng Merapi selalu berada dalam bayangan ancaman vulkanik. Bertahun-tahun kemudian, alarm itu kembali berbunyi, dan kali ini dengan kekuatan yang jauh lebih dahsyat.
Galeri Photo


Museum petilasan mbah Maridjan. (Foto: ifakta.co/Jojo)
Aktivitas Merapi kembali meningkat sejak 2009 dan semakin intensif memasuki 2010. Pemantauan menunjukkan peningkatan gempa vulkanik serta deformasi tubuh gunung.
Pada 20 September 2010 status Merapi dinaikkan menjadi Waspada. Status kemudian meningkat menjadi Siaga pada 21 Oktober dan akhirnya Awas pada 25 Oktober 2010.
Sehari kemudian, 26 Oktober 2010, Merapi memasuki fase erupsi. Tepat pukul 17.02 WIB, awan panas mulai meluncur. Rentetan awan panas berikutnya terjadi sepanjang sore hingga malam. Catatan Kementerian ESDM menyebut luncuran awan panas bergerak ke sektor barat-barat daya serta selatan-tenggara.
Di tengah situasi genting itu, proses evakuasi warga dilakukan. Namun tidak semua orang sempat menyelamatkan diri. Dusun Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, menjadi salah satu kawasan yang paling dikenang dari tragedi Merapi 2010. Di tempat inilah Mbah Maridjan tinggal.
Ketika Merapi memasuki fase Awas, ia kembali memilih bertahan di rumahnya. Pada sore 26 Oktober, awan panas menerjang kawasan Kinahrejo.
Mbah Maridjan kemudian ditemukan meninggal dunia di rumahnya. Laporan saat itu menyebut jenazahnya ditemukan dalam posisi sujud di kamar mandi, tertimpa reruntuhan.
Kematian Mbah Maridjan bukan hanya menjadi berita nasional. Peristiwa tersebut menjadi simbol tragedi erupsi Merapi 2010, ketika kedekatan manusia dengan gunung yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai bagian dari kehidupan berubah menjadi bencana dalam hitungan menit.
Penelitian ilmiah tentang tragedi 26 Oktober 2010 juga mencatat bahwa peristiwa tersebut merupakan ledakan lateral mendadak yang menyapu kawasan Cangkringan dan Kinahrejo.
Aktivitas Merapi terus meningkat. Pada awal November, letusan semakin eksplosif. Puncaknya terjadi pada 5 November 2010.
Erupsi 2010 sebagai erupsi terbesar Merapi dalam sekitar satu abad terakhir. Material erupsi diperkirakan mencapai lebih dari 120 juta meter kubik, sementara awan panas guguran dapat meluncur hingga sekitar 15 kilometer dari puncak.
BNPB mencatat besarnya dampak bencana tersebut: 386 orang meninggal dan hilang, ratusan lainnya mengalami luka-luka, serta ratusan ribu warga harus mengungsi.
Merapi tidak hanya menghancurkan rumah. Ia memutus kehidupan, memindahkan manusia dari kampung halaman, mengubur kenangan, sekaligus meninggalkan trauma yang bertahan jauh lebih lama dibandingkan suara letusannya.
Di balik tragedi Merapi 2010, terdapat pula kisah para relawan dan jurnalis yang berusaha membantu warga.
Kronologi yang terdokumentasi dalam materi yang menjadi dasar tulisan ini mencatat Agus Wiyarto, H. Tutur Priyanto dan Yuniawan Wahyu Nugroho mendatangi Kinahrejo pada 26 Oktober 2010 untuk memberi tahu warga mengenai bahaya erupsi.
Sekitar pukul 17.30, mereka berupaya meyakinkan warga agar turun menuju tempat pengungsian. Pukul 18.15, sirene tanda bahaya berbunyi. Kendaraan evakuasi yang tersedia sangat terbatas.
Setelah mengantarkan sebagian warga ke lokasi pengungsian, Tutur Priyanto dan Yuniawan kembali menuju Kinahrejo sekitar pukul 18.40 untuk mencari warga lain yang belum berhasil dievakuasi.
Sekitar pukul 18.50, tragedi terjadi. Mobil evakuasi yang mereka gunakan terbakar setelah diterjang awan panas ketika keduanya berupaya menyelamatkan lebih banyak warga.
Kisah itu menjadi bagian lain dari sejarah kelam Merapi 2010, ketika keberanian untuk kembali ke zona bahaya demi menyelamatkan manusia harus dibayar dengan risiko yang sangat besar.
<--nextpage-->
Erupsi 2006 dan 2010 memperlihatkan satu kenyataan. Merapi dapat memberikan tanda, tetapi manusia tetap harus membaca tanda tersebut dengan disiplin dan ilmu pengetahuan.
Kisah Mbah Maridjan juga seharusnya tidak semata-mata dibaca sebagai kisah keberanian seorang juru kunci. Di baliknya terdapat pelajaran mengenai bagaimana masyarakat, pemerintah, relawan dan seluruh pihak yang berada di kawasan rawan bencana harus memahami risiko.
Tetapi Merapi juga bukan sesuatu yang bisa dianggap jinak. Gunung itu hidup dalam siklusnya sendiri. Dan setiap kali aktivitasnya meningkat, yang dipertaruhkan bukan hanya rumah dan harta benda, melainkan nyawa manusia.
Kini, lebih dari satu dekade setelah tragedi 2010, nama Kinahrejo, Kaliadem dan Mbah Maridjan tetap menjadi bagian penting dari sejarah Merapi. Sebuah pengingat bahwa di balik keindahan lereng gunung, selalu ada kekuatan alam yang harus dihormati.
Sebab sejarah Merapi telah berulang kali membuktikan, ketika alam mulai memberi peringatan, manusia tidak boleh menunggu sampai suara peringatan itu berubah menjadi bencana.
(den/jo)



