NGANJUK, ifaktaco.co — Insiden maut di lokasi proyek PT Sreeya Sewu Indonesia memantik sorotan publik. Seorang bocah berusia 14 tahun dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami insiden di area proyek yang diketahui dipersiapkan untuk menjadi rumah potong hewan (RPH) ternak.

Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan serius mengenai pengamanan dan pengawasan lokasi proyek. Masyarakat mendesak pemerintah daerah mengevaluasi aspek perizinan, pelaksanaan proyek, hingga penerapan standar keselamatan kerja.

Gubernur Jawa Timur dinilai perlu memastikan seluruh proses perizinan dan pelaksanaan proyek telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Apabila ditemukan dugaan pelanggaran, masyarakat meminta pemerintah bersama Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) mengambil tindakan tegas sesuai kewenangan, termasuk penghentian kegiatan atau penyegelan apabila memang memenuhi dasar hukum.

Iklan

Sorotan juga diarahkan kepada aspek keselamatan dan kesehatan kerja. Polisi didesak segera mengungkap faktor penyebab insiden yang menewaskan anak di bawah umur tersebut, termasuk memastikan apakah standar keselamatan dan pengamanan area proyek telah diterapkan secara memadai.

Pengamat kebijakan publik Rinto SH turut angkat suara. Ia menilai area proyek semestinya steril dari masyarakat umum, terlebih anak-anak.

“Seharusnya lokasi proyek steril dari masyarakat umum. Yang jadi perhatian dan perlu dievaluasi adalah apakah lokasi proyek tersebut sudah memenuhi standar mutu keselamatan kerja. Tidak seharusnya lokasi proyek jadi tempat bermain anak-anak. Polisi pun diminta untuk segera mengungkap faktor penyebab insiden yang menewaskan anak di bawah umur,” jelas Rinto kepada ifakta.co, Jumat (21/8).

Menurut Rinto, evaluasi tidak cukup berhenti pada penyebab langsung insiden. Aspek pengamanan perimeter proyek, akses keluar-masuk, rambu keselamatan, pengawasan lokasi, serta penerapan prosedur keselamatan perlu diperiksa secara menyeluruh.

PT Seerya Sewu Indonesia diketahui merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan makanan cepat saji, antara lain produk sosis dan nugget dengan merek dagang Belfoods.

Insiden ini kini menjadi perhatian publik. Selain menunggu hasil penyelidikan kepolisian, masyarakat juga menantikan langkah konkret pemerintah untuk memastikan aspek perizinan dan keselamatan proyek tidak diabaikan.

Hingga berita ini diterbitkan, Redaksi masih terus berupaya mengonfirmasi pihak-pihak terkait untuk mendapatkan informasi yang berimbang. Redaksi ifakta.co membuka ruang hak jawab dan koreksi bagi pihak yang merasa disebutkan dalam pemberitaan ini, sesuai dengan Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999.

(may/may)

Iklan