JAKARTA, ifakta.co – Nilai tukar rupiah kembali mencatat penguatan hingga penutupan perdagangan pada Jumat (21/8/2026). Rupiah di pasar spot mengakhiri perdagangan di level Rp17.694 per dolar Amerika Serikat.
Posisi tersebut menunjukkan rupiah menguat 0,3 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.748 per dolar AS.
Penguatan rupiah terhadap dolar AS juga berlangsung seiring dengan pergerakan mayoritas mata uang di kawasan Asia.
Iklan
Won Korea Selatan Catat Penguatan Tertinggi
Hingga pukul 15.00 WIB, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di kawasan Asia.
Won melonjak sebesar 0,73 persen terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini.
Selanjutnya, baht Thailand mencatat penguatan sebesar 0,43 persen. Sementara itu, dolar Taiwan juga bergerak naik sebesar 0,25 persen.
Dolar Singapura kemudian menguat 0,19 persen terhadap dolar AS.
Di sisi lain, yen Jepang naik sebesar 0,14 persen. Yuan China juga mencatat penguatan sebesar 0,06 persen.
Sementara itu, dolar Hong Kong menguat tipis sebesar 0,04 persen terhadap dolar AS.
Sejumlah Mata Uang Asia Justru Melemah
Meski mayoritas mata uang Asia menguat, beberapa mata uang regional justru bergerak ke zona negatif.
Peso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah ditutup turun sebesar 0,09 persen terhadap dolar AS.
Selanjutnya, rupee India melemah sebesar 0,03 persen.
Ringgit Malaysia juga mengalami koreksi tipis sebesar 0,005 persen terhadap dolar AS.
Dengan demikian, rupiah menguat ke level Rp17.694 per dolar AS pada akhir perdagangan Jumat. Pergerakan nilai tukar rupiah tersebut sejalan dengan penguatan sejumlah mata uang utama di kawasan Asia.
(den/jo)



