JAKARTA, ifakta.co – Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG membuka perdagangan awal pekan dengan pergerakan positif pada Senin (24/8/2026). Indeks terpantau naik 17,08 poin atau 0,26 persen ke posisi 6.542,76.

Pada awal sesi perdagangan, IHSG bergerak di rentang 6.540,08 hingga 6.551,00. Aktivitas transaksi tercatat mencapai Rp273,76 miliar dengan volume perdagangan sekitar 5,78 juta lot dari 56,67 ribu kali transaksi.

Penguatan IHSG hari ini juga mendapat dukungan dari aliran dana investor asing. Berdasarkan data perdagangan terakhir pada 21 Agustus 2026, investor asing mencatatkan pembelian bersih atau net buy sebesar Rp974,57 miliar di seluruh pasar.

Iklan

Pasar reguler mencatat net buy Rp992,64 miliar. Sementara itu, pasar tunai dan negosiasi mengalami net sell sebesar Rp18,07 miliar.

Total pembelian asing atau foreign buy mencapai Rp5,89 triliun. Adapun nilai penjualan asing atau foreign sell tercatat sebesar Rp4,92 triliun.

Hampir seluruh sektor saham ikut menguat dan menopang laju IHSG. Sektor barang baku atau basic industry menjadi sektor dengan kenaikan tertinggi setelah melonjak 0,88 persen.

Selanjutnya, sektor perindustrian atau industrial menguat 0,65 persen. Sektor energi juga mencatat kenaikan 0,64 persen.

Sektor infrastruktur turut bergerak positif dengan penguatan 0,61 persen. Kemudian, sektor kesehatan naik 0,34 persen dan sektor teknologi bertambah 0,24 persen.

Sektor barang konsumen non-primer atau non-cyclical juga menguat 0,23 persen. Sementara sektor properti dan barang konsumen primer atau cyclical masing-masing naik 0,12 persen.

Di sisi lain, sektor transportasi menjadi sektor yang mengalami pelemahan sebesar 0,36 persen. Sektor keuangan atau finance bergerak datar di posisi 0,00 persen.

Di jajaran saham top gainers, PT Pelangi Indah Canindo Tbk dengan kode saham PICO memimpin penguatan. Saham dari sektor barang baku itu melonjak 29,93 persen ke level 178.

Posisi berikutnya ditempati PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk atau PJHB. Saham sektor transportasi tersebut menguat 16,20 persen ke level 208.

PT Mutuagung Lestari Tbk dengan kode saham MUTU juga mencatatkan kenaikan signifikan. Saham sektor perindustrian itu naik 15,00 persen menjadi 138.

Saham PT Alfa Energi Investama Tbk atau FIRE dari sektor energi turut melonjak 13,39 persen ke posisi 127. Sementara itu, PT Ingria Pratama Capitalindo Tbk dengan kode saham GRIA menguat 8,24 persen ke harga 197.

Sementara pada daftar saham top losers, PT Fuji Finance Indonesia Tbk atau FUJI mengalami penurunan terdalam. Saham sektor keuangan itu merosot 10,99 persen ke level 324.

PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk dengan kode saham SPRE melemah 9,89 persen menjadi 82. Setelah itu, saham PT Sidomulyo Selaras Tbk atau SDMU terkoreksi 6,25 persen ke posisi 90.

Saham PT Habco Trans Maritima Tbk atau HATM juga turun 5,26 persen ke level 540. Selain itu, PT Harta Djaya Karya Tbk dengan kode saham MEJA melemah 3,82 persen menjadi 126.

Tim Analis MNC Sekuritas sebelumnya mencatat IHSG melanjutkan penguatan sebesar 0,37 persen hingga berada di level 6.525. Pergerakan tersebut masih didominasi volume pembelian dan telah mencapai target teknikal.

Secara mingguan, IHSG tercatat menguat 1,93 persen dan mampu menutup batas MA20. MNC Sekuritas memperkirakan posisi IHSG saat ini berada dalam bagian dari gelombang v gelombang (c).

Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu mewaspadai potensi koreksi jangka pendek. Area koreksi diperkirakan berada di kisaran 6.429 hingga 6.475.

Apabila penguatan berlanjut, IHSG berpeluang menuju area 6.628 hingga 6.666 saat menguji area gap. Sementara itu, level support berada di 6.373 dan 6.272.

Adapun level resistance IHSG berada di area 6.599 dan 6.705.

Dari pasar global, Wall Street bergerak volatil sepanjang periode 18 hingga 21 Agustus 2026. Pergerakan yield US Treasury dan harga minyak menjadi dua faktor utama yang membentuk sentimen pasar global.

Yield US Treasury tenor 10 tahun mendekati 4,70 persen. Sementara yield tenor 30 tahun berada di sekitar 5,25 persen.

Kenaikan yield tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan biaya pendanaan korporasi. Selain itu, eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran turut mendorong kenaikan harga minyak.

Sentimen pasar sempat membaik pada 19 Agustus 2026. Saat itu, Departemen Keuangan AS memperluas program buyback Treasury jangka panjang hingga sedikitnya US$4 miliar.

Kebijakan tersebut membantu menekan yield dan memberikan ruang bagi pasar saham untuk kembali menguat.

Namun, tekanan kembali muncul pada 20 Agustus. Kenaikan yield dan harga minyak, ditambah penurunan saham Walmart lebih dari 9 persen, memicu kekhawatiran investor terhadap daya beli konsumen dan prospek laba korporasi.

“Namun, tekanan kembali muncul pada 20 Agustus seiring kenaikan yield, harga minyak, serta penurunan saham Walmart lebih dari 9 persen yang memicu kekhawatiran terhadap daya beli konsumen dan prospek laba korporasi,” ujarnya.

Wall Street kemudian kembali rebound pada 21 Agustus 2026. Indeks Dow Jones naik 0,98 persen, S&P 500 menguat 0,43 persen, sedangkan Nasdaq bertambah 0,44 persen.

Penguatan tersebut ditopang aktivitas bisnis Amerika Serikat yang masih solid serta kenaikan saham sektor ritel.

“Secara keseluruhan, pergerakan pekan tersebut menunjukkan pasar masih sensitif terhadap arah yield dan harga energi, sehingga meski aktivitas ekonomi AS tetap solid, risiko inflasi, fiskal, dan geopolitik masih menjadi faktor pembatas bagi aset berisiko,” kata Brigita.

Dengan kondisi tersebut, IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan selama mampu bertahan di atas area support 6.429 hingga 6.475. Meski demikian, investor tetap perlu mengantisipasi potensi konsolidasi dan koreksi sehat setelah IHSG mencatatkan penguatan sepanjang pekan sebelumnya.

(den/jo)

Iklan