JAKARTA, ifakta.co – Panitia Sidang Bersama Tahunan MPR-DPR-DPD 2026 memutuskan hanya akan memutar lagu nasional dan lagu daerah selama rangkaian acara berlangsung.

Panitia mengambil kebijakan tersebut untuk menjaga suasana Sidang Tahunan MPR 2026 tetap khidmat sebagai agenda kenegaraan. Selain itu, keputusan itu juga menjadi bagian dari evaluasi atas pelaksanaan sidang pada tahun sebelumnya.

Pada Sidang Tahunan 2025, sejumlah peserta sempat berjoget ketika panitia memutar lagu populer setelah rangkaian acara selesai. Aksi tersebut kemudian memicu sorotan publik.

Iklan

Kepala Biro Protokol, Humas, dan Media Sekretariat Jenderal DPD RI, Mahyu Darma, mengatakan panitia telah mengevaluasi berbagai respons yang muncul setelah pelaksanaan sidang tahun lalu.

“Kami sudah mengevaluasi, mungkin tidak kita lakukan [putar lagu-lagu memancing joget],” kata Mahyu di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (12/8).

Menurut Mahyu, panitia juga menyiapkan dekorasi gedung dengan konsep yang lebih sederhana. Langkah itu bertujuan memperkuat kesan resmi dan menjaga kekhidmatan seluruh rangkaian Sidang Bersama Tahunan MPR-DPR-DPD 2026.

“Sehingga, itu evaluasi kami, sehingga acara tersebut hikmat, hikmat terhadap pelaksanaannya semua,” katanya.

Evaluasi tersebut dilakukan setelah aksi joget sejumlah anggota dewan saat pemutaran lagu populer pada Sidang Tahunan 2025 menuai sentimen publik. Peristiwa itu bahkan menjadi salah satu sorotan yang muncul sebelum gelombang demonstrasi pada akhir Agustus tahun lalu.

Ketua DPR RI Puan Maharani juga memastikan Sidang Tahunan MPR 2026 akan berlangsung dengan suasana yang lebih khidmat. Ia mengatakan seluruh pihak telah melakukan introspeksi dan akan lebih fokus mengikuti agenda kenegaraan.

Meski demikian, Puan menilai masyarakat tetap perlu menyambut peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan rasa bahagia dan penuh kegembiraan.

Puan menjelaskan aksi joget yang terjadi dalam Sidang Tahunan MPR 2025 berlangsung secara spontan setelah rangkaian pidato selesai dan lagu diputar. Menurutnya, para peserta tetap mengikuti jalannya sidang serta pidato Presiden dengan khidmat.

“Hanya saat kemudian mendengarkan lagu di saat penyampaian pidatonya sudah selesai, ya itu karena spontan. Jadi tidak ada hal yang kemudian membuat kami sepertinya tidak menghargai,” kata dia yang juga politikus PDIP itu.

Untuk pelaksanaan Sidang Tahunan MPR 2026, Puan memperkirakan jumlah peserta mencapai sekitar 1.200 orang.

Jumlah tersebut mencakup 732 anggota DPR dan DPD. Selain itu, sejumlah mantan presiden dan wakil presiden, anggota kabinet, serta tamu VIP dari kalangan duta besar negara sahabat juga dijadwalkan hadir.

Sidang Tahunan MPR-DPR-DPD 2026 juga akan menghadirkan delapan tamu khusus atas undangan Presiden Prabowo Subianto.

Delapan tamu tersebut merupakan penerima manfaat program strategis pemerintah yang telah merasakan langsung dampak dari program yang dijalankan.

“Dan undangan-undangan khusus, ada penerima manfaat dari Bapak Presiden yang selama ini sudah menerima program tersebut dan merasakan manfaatnya,” katanya.

(mam/mam)

Iklan