JAKARTA, ifakta.co – Pemerintah Indonesia terus memperkuat kerja sama ekonomi dengan Australia melalui peningkatan investasi yang berkualitas dan berorientasi pada sektor strategis.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mempercepat hilirisasi industri sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Todotua Pasaribu, mengatakan hubungan ekonomi Indonesia dan Australia saat ini berada pada momentum yang positif karena kedua negara memiliki potensi yang saling melengkapi.

Iklan

“Kedua negara memiliki ekonomi yang saling melengkapi, didukung oleh kerangka kerja sama IA-CEPA (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement) yang semakin matang,” kata Todotua dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Menurutnya, berbagai agenda yang dilakukan selama kunjungan kerja ke Australia, mulai dari pertemuan dengan pelaku usaha hingga keikutsertaan dalam Indonesia-Australia Business Summit (IABS) for Indonesia Updates 2026, menjadi langkah konkret untuk memperluas investasi di berbagai sektor prioritas.

Pemerintah, lanjut Todotua, mendorong investasi yang berfokus pada hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur, ketahanan pangan, transisi energi, serta pengembangan ekonomi hijau.

“Kami mengundang investor Australia untuk menjadi bagian dari babak baru pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui investasi yang berorientasi pada hilirisasi, infrastruktur, ketahanan pangan, transisi energi, dan ekonomi hijau,” ujarnya saat menjadi pembicara kunci dalam Indonesia-Australia Business Summit (IABS) for Indonesia Updates 2026 di Sydney, Australia, Selasa.

Industri Baterai dan Hilirisasi Jadi Fokus Kerja Sama

Dalam agenda kunjungannya, Todotua juga bertemu dengan jajaran Pure Battery Technologies (PBT), perusahaan teknologi material baterai asal Australia yang dipimpin Chairman Stephen Wilmot.

Pertemuan tersebut membahas rencana investasi pembangunan fasilitas precursor Cathode Active Material (pCAM) di Indonesia. Proyek ini dinilai memiliki peran penting dalam melengkapi rantai pasok industri baterai nasional.

Selain membicarakan pembangunan fasilitas pCAM, kedua pihak juga mendiskusikan peluang kerja sama, kesiapan lokasi investasi, serta percepatan realisasi proyek agar dapat segera beroperasi.

Todotua menjelaskan Indonesia telah memiliki fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) dan dalam waktu dekat akan memiliki manufaktur sel baterai. Namun, masih terdapat tahapan penting yang harus dilengkapi agar ekosistem industri baterai nasional menjadi terintegrasi.

“Indonesia sudah memiliki fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) dan dalam waktu dekat akan memiliki manufaktur sel baterai. Mata rantai yang tersisa adalah pCAM dan katoda. Di sinilah investasi seperti Pure Battery Technologies menjadi krusial untuk melengkapi ekosistem baterai yang terintegrasi penuh,” ujarnya.

Selain industri baterai, pemerintah juga membahas peluang investasi bersama BCI Minerals terkait pengembangan hilirisasi garam industri. Langkah ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan bahan baku bagi industri nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Di sisi lain, Todotua menilai penguatan konektivitas logistik kawasan juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing investasi Indonesia. Salah satunya melalui optimalisasi Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II yang menjadi jalur strategis perdagangan internasional.

Menurutnya, ALKI II menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia melalui Selat Lombok serta Selat Makassar. Jalur tersebut memiliki nilai perdagangan yang sangat besar pada 2024 sehingga membuka peluang bagi Indonesia dan Australia untuk memperkuat rantai pasok, sistem logistik, serta investasi kawasan secara lebih terintegrasi.

(yes/my)

Iklan