JAKARTA, ifakta.co – Israel dilaporkan meminta persetujuan Amerika Serikat untuk memperluas operasi militernya hingga wilayah Beirut, Lebanon. Permintaan ini muncul di tengah gelombang serangan yang menarget kelompok Hezbollah di Lebanon selatan.
Menurut laporan Jerusalem Post yang mengutip pejabat senior Israel, langkah itu menjadi bagian dari strategi Tel Aviv untuk meningkatkan tekanan terhadap Hezbollah seiring berlanjutnya bentrokan di perbatasan kedua negara. Sumber yang sama menyebut permintaan otorisasi mencerminkan niat Israel untuk memperluas jangkauan operasi jika diperlukan.
Minggu lalu, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan militer telah menguasai Beaufort Castle, benteng bersejarah di Lebanon selatan. Klaim penguasaan situs tersebut disusul perintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk memperluas serangan terhadap Hezbollah sekaligus memperkuat kontrol Israel di sektor perbatasan.
Iklan
Di tingkat diplomasi, kedua negara sempat menjalani pembicaraan langsung pada tingkat duta besar di Washington pada 16 April. Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian mengumumkan bahwa pertemuan itu menghasilkan kesepakatan gencatan senjata.
Meski demikian, serangan ke beberapa permukiman di Lebanon selatan dilaporkan masih berlangsung setelah pengumuman tersebut.
Hezbollah merespons eskalasi dengan terus melancarkan serangan terhadap pasukan Israel di area konflik. Perkembangan ini menunjukkan bahwa meski ada upaya diplomatik, situasi keamanan di garis perbatasan tetap rentan dan rawan memburuk.
Secara keseluruhan, laporan mengenai permintaan Israel kepada AS serta klaim penguasaan situs strategis menandai potensi peningkatan operasi militer yang dapat memperluas konflik lintas perbatasan.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi yang lebih luas meski ada upaya mediasi internasional.
(faz/my)



