SEMARANG, ifakta.o – Keterbatasan layanan kesehatan di wilayah Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK) masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Kehadiran tenaga medis spesialis di daerah tersebut menjadi kebutuhan mendesak, terutama untuk penanganan kasus-kasus kompleks. Hal ini diwujudkan oleh alumni Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip), dr. Dewi Sartika, yang kini mengabdi sebagai dokter spesialis bedah saraf di RSUD Harapan Insan Sendawar, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Melalui perannya, masyarakat di wilayah tersebut kini dapat mengakses layanan bedah saraf tanpa harus dirujuk ke kota besar yang memerlukan jarak dan waktu tempuh yang panjang.

Di tengah keterbatasan fasilitas dan tantangan geografis, dr. Dewi menjadi salah satu dokter spesialis bedah saraf perempuan yang memilih untuk berkarier di daerah terpencil. Kehadirannya menjadi tonggak penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Kutai Barat.

Iklan

Dalam praktik sehari-hari, dr. Dewi menangani berbagai kasus medis yang kompleks, seperti cedera kepala, stroke perdarahan, hidrosefalus, tumor otak, hingga gangguan tulang belakang. Profesi ini menuntut ketelitian tinggi, kemampuan mengambil keputusan secara cepat, serta ketahanan mental dalam menghadapi kondisi darurat.

Perjalanan profesionalnya tidak terlepas dari peran FK Undip dalam membentuk kompetensi dan karakter. Ia menilai nilai pengabdian yang ditanamkan selama masa pendidikan menjadi faktor utama dalam menentukan arah kariernya.

“Setiap dosen yang mengajar di FK Undip senantiasa mengajarkan bahwa masih banyak daerah di pelosok Indonesia yang belum mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak. Di sanalah peran kita sebagai dokter dibutuhkan,” ungkap dr. Dewi, dikutip dari laman Undip (21/3).

Selain itu, sistem pendidikan klinik dan residensi di FK Undip turut membekali dirinya dalam menghadapi keterbatasan di lapangan. Pengalaman menangani beragam kasus di rumah sakit pendidikan, termasuk RSUP Dr. Kariadi, membentuk kemampuan analisis klinis dan pengambilan keputusan yang cepat.

“Ketika fasilitas penunjang di daerah terbatas, saya kembali mengandalkan kemampuan anamnesis dan pemeriksaan fisik menyeluruh yang diajarkan secara disiplin oleh para guru di Undip. Kemampuan berpikir taktis dan berani mengambil keputusan di bawah tekanan adalah warisan berharga dari masa residensi,” jelasnya.

Kehadiran dr. Dewi tidak hanya memperluas akses layanan kesehatan spesialis di Kutai Barat, tetapi juga menjadi bukti bahwa pelayanan medis berkualitas dapat dihadirkan hingga ke wilayah terpencil. Ia menunjukkan bahwa lulusan FK Undip mampu berkontribusi secara nyata, tidak hanya di pusat layanan kesehatan, tetapi juga di daerah yang paling membutuhkan.

Lebih dari itu, kiprahnya menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya perempuan, bahwa profesi di bidang medis tidak memiliki batas, termasuk dalam bidang bedah saraf yang menuntut ketangguhan dan presisi tinggi.


Sebagai pesan bagi mahasiswa, dr. Dewi menekankan pentingnya integritas dan empati dalam menjalani profesi dokter. Ia mengingatkan bahwa profesi ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk tanggung jawab besar kepada masyarakat.

“Gelar dokter bukan sekadar profesi, melainkan amanah. Jangan hanya mengejar kepintaran akademis, tetapi asahlah empati dan kerendahan hati. Banggalah menjadi bagian dari keluarga besar Diponegoro yang tangguh dan berintegritas,” pesannya.

Kisah dr. Dewi Sartika menjadi gambaran nyata kontribusi pendidikan kedokteran dalam mencetak tenaga medis yang tidak hanya unggul secara klinis, tetapi juga memiliki komitmen pengabdian untuk menghadirkan layanan kesehatan yang merata di seluruh Indonesia.

(naf/kho)