JAKARTA, ifakta.co – Puasa Ramadan mewajibkan umat Muslim menahan makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, yang rata-rata berlangsung sekitar 14 jam. Bagi sebagian orang, kondisi ini tidak menimbulkan masalah.

Namun bagi individu yang memiliki gangguan lambung atau maag, puasa kerap menimbulkan kekhawatiran tersendiri terkait kesehatan pencernaan.

Data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2015 menunjukkan bahwa kasus gangguan lambung atau gastritis di dunia mencapai sekitar 1,8 hingga 2,1 juta kasus setiap tahun. Meski demikian, penderita maag tetap dapat menjalankan puasa dengan aman selama kondisi kesehatannya terkontrol.

Iklan

Jenis Gangguan Lambung

Dokter spesialis penyakit dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP menjelaskan bahwa gangguan lambung atau dispepsia merupakan kondisi yang menyebabkan rasa tidak nyaman pada perut bagian atas akibat meningkatnya asam lambung.

“Secara garis besar maag dikelompokkan menjadi dua yaitu maag fungsional yang pada saat dilakukan endoskopi ataupun USG tidak ditemukan kelainan. Kedua adalah maag organik yaitu adanya kelainan berupa luka, polip atau bahkan sampai tumor pada kerongkongan atau lambung,” jelas Prof Ari dalam program Dokter Edukasi yang disiarkan oleh Unair TV.

Ia menyebutkan bahwa sebagian besar kasus gangguan lambung termasuk dalam kategori maag fungsional, dengan persentase sekitar 60–70 persen.

Penyebab Maag dan Faktor Risiko

Menurut Prof Ari, penyebab utama maag fungsional umumnya berkaitan dengan pola makan yang tidak teratur. Kebiasaan mengonsumsi camilan tidak sehat seperti gorengan, cokelat, dan keju juga dapat memicu gangguan lambung.

Selain itu, faktor psikologis seperti stres dan kecemasan turut berperan dalam meningkatkan produksi asam lambung. “Pengendalian diri pada saat stres atau terlalu cemas juga dapat memicu naiknya asam lambung,” ungkapnya.

Sementara itu, maag organik lebih sering dipicu oleh faktor medis tertentu. Konsumsi obat-obatan, terutama obat rematik, dapat memicu luka pada lambung. Selain itu, infeksi bakteri Helicobacter pylori juga diketahui menjadi penyebab sekitar 20 persen kasus gangguan lambung.

Puasa bagi Penderita Maag

Meski memiliki gangguan lambung, penderita maag tetap dapat menjalankan puasa selama kondisi penyakitnya tidak berada pada tahap akut. Kondisi akut biasanya ditandai dengan gejala seperti muntah berulang dan nyeri perut yang cukup berat.

“Seperti yang dijelaskan sebelumnya, kebanyakan orang-orang menderita penyakit maag adalah maag fungsional. Maka saat berpuasa pola makan menjadi lebih teratur, yaitu pada sahur dan berbuka,” ujar Prof Ari.

Ia menambahkan bahwa selama Ramadan umat Muslim juga dianjurkan memperbanyak ibadah seperti salat, berzikir, serta menahan amarah. Aktivitas spiritual tersebut dapat membantu mengontrol stres yang juga berpengaruh terhadap kondisi lambung.


Prof Ari menegaskan bahwa puasa bahkan dapat memberikan manfaat bagi sebagian penderita maag. Pada kasus tertentu, puasa dapat menjadi bagian dari proses pemulihan karena pola makan menjadi lebih teratur dan stres dapat dikendalikan dengan lebih baik.

“Sedangkan penderita maag kategori organik, puasa juga dapat menjadi alternatif proses penyembuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penderita maag yang berpuasa jauh lebih cepat sembuh,” pungkasnya.

(naf/kho)