YOGYAKARTA, ifakta.co – Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menghadapi tantangan serius dalam layanan kesehatan menyusul tingginya angka kanker di wilayah tersebut.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi kanker di DIY mencapai 3,6 per 1.000 penduduk. Kasus kanker payudara tercatat paling banyak menyerang perempuan usia produktif, yakni 20 hingga 54 tahun.
Menjawab situasi tersebut, Kota Yogyakarta resmi ditetapkan sebagai kota percontohan nasional dalam penguatan penanganan kanker payudara melalui peluncuran Yogyakarta Breast Cancer Initiative (YBCI).
Iklan
Program ini diperkenalkan dalam agenda resmi di Auditorium Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Jumat (27/1).
Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Koordinator DIY, GKR Hemas, menegaskan bahwa pendekatan terhadap pasien kanker tidak bisa semata-mata berfokus pada aspek medis. Ia menekankan pentingnya layanan yang berorientasi pada manusia secara menyeluruh.
“Obati orangnya, jangan hanya penyakitnya. Kebutuhan pasien berbeda-beda, tidak hanya kebutuhan fisik, tetapi juga ekologis, spiritual, dan sosial,” tegasnya.
Menurut GKR Hemas, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan layanan medis, tetapi juga dukungan pendampingan yang mampu memahami kebutuhan pasien secara personal.
Ia menilai kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat menjadi kunci agar pasien dapat menjalani pengobatan hingga tuntas.
“Melalui pendekatan kolaborasi dengan berbagai elemen, misalnya masyarakat, dapat membantu memberikan dukungan agar pasien kanker payudara dapat tuntas melakukan pengobatan medisnya,” tambahnya.
YBCI sendiri merupakan implementasi konkret dari Rencana Aksi Nasional Kanker Payudara yang dicanangkan Kementerian Kesehatan RI. Dalam pelaksanaannya, Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan City Cancer Challenge Foundation (C/Can) serta menunjuk FK-KMK UGM sebagai Lead Implementing Partner.
Ketua City Executive Committee YBCI, Dr. dr. Kartika Widayati, Sp.PD-KHOM, FINASIM, menjelaskan bahwa inisiatif ini dirancang untuk memetakan kondisi nyata layanan kanker payudara di tingkat kota.
“YBCI membantu mengidentifikasi gap sistem, memperkuat koordinasi layanan, dan menetapkan prioritas aksi yang implementatif serta dapat direplikasi di kota lain di Indonesia,” jelasnya.
Ia memaparkan, program ini diawali dengan proses delapan bulan bertajuk City Engagement Process (CEFP).
Pada fase tersebut, fokus utama diarahkan pada pembentukan tata kelola yang solid guna memperkuat koordinasi antar pemangku kepentingan.
Struktur tersebut mencakup pembentukan City Executive Committee (CEC) sebagai badan pengarah strategis yang melibatkan unsur pemerintah daerah, rumah sakit, akademisi, organisasi masyarakat sipil, hingga perwakilan pasien. Di bawah CEC, dibentuk pula Breast Cancer Working Group (BCWG) yang diisi oleh para pakar teknis.
“Kelompok kerja ini terbagi ke dalam empat pilar utama, yakni manajemen dan mutu layanan kanker, layanan diagnosis, layanan pengobatan, serta akses komunitas dan pasien,” paparnya.
Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, menegaskan bahwa peluncuran YBCI sejalan dengan komitmen institusinya dalam menjawab kebutuhan riil masyarakat.
“Bagi kami, peluncuran program YBCI merupakan sebuah ikhtiar kolektif untuk memastikan kebijakan, ilmu, dan layanan kesehatan benar-benar menjawab tantangan kanker payudara di Indonesia,” ungkapnya.
Ia menambahkan, persoalan kanker payudara tidak terlepas dari tantangan sistemik, mulai dari tata kelola, akses layanan, literasi kesehatan, hingga kebijakan publik.
Dengan penetapan Kota Yogyakarta sebagai Horizon City pertama di Indonesia, YBCI diharapkan menjadi model operasional di tingkat kota yang mampu mengintegrasikan kebijakan nasional, bukti ilmiah, dan layanan kesehatan secara berkelanjutan.
“YBCI hadir sebagai model operasionalisasi rencana aksi nasional di tingkat kota yang menghubungkan antara kebijakan nasional, bukti ilmiah, dan akses layanan,” pungkas Prof. Yodi.
(naf/kho)



