BANDA ACEH, ifakta.co – Sejumlah anggota diaspora Aceh di Denmark menyuarakan penolakan terhadap rencana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada mantan Presiden Soeharto, aksi tersebut berlangsung di kediaman Tgk H. Bahgia, Sabtu (8/11/2025).
Dalam pertemuan itu, Tgk Hanif bersama para anggota diaspora menyampaikan bahwa pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto dianggap mencederai memori kolektif rakyat Aceh.
Mereka menilai, masa pemerintahan Soeharto menyisakan luka mendalam bagi masyarakat di sejumlah daerah, termasuk Aceh, Papua, dan Timor Timur.
Iklan
“Soeharto bukan simbol kepahlawanan bagi kami, tetapi pengingat akan operasi militer yang menelan banyak korban jiwa.
Ribuan warga sipil dibunuh, disiksa, dan hilang tanpa jejak,” tegas Tgk Hanif saat dikonfirmasi wartawan ifakta.co.
Menurutnya, usulan menjadikan Soeharto sebagai pahlawan nasional sama saja dengan menulis ulang sejarah dan mengabaikan penderitaan yang dialami masyarakat.
Ia menilai, bangsa ini seharusnya memberi penghormatan kepada para pejuang sejati seperti Cut Nyak Dhien, Teungku Umar, dan Sultan Iskandar Muda.
“Di Aceh Besar bahkan ada bukit bernama Bukit Suharto, tapi banyak yang tak tahu siapa sosok di balik nama itu. Seorang diktator yang meninggalkan darah dan trauma bagi rakyat,” ujarnya.
Diaspora Aceh menilai, upaya mengagungkan Soeharto sebagai pahlawan merupakan bentuk pelupaan sejarah yang berbahaya.
Mereka menegaskan bahwa keadilan bagi korban di masa lalu harus terus diperjuangkan.
“Kami dari Aceh, Papua, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan, terus menuntut keadilan. Bagi kami, solusi satu-satunya adalah kemerdekaan,” tambah Tgk Hanif.
Gerakan diaspora ini menyerukan agar pemerintah tidak lagi “melukai hati nurani bangsa” dengan memberikan gelar kehormatan kepada sosok yang dianggap bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi manusia.
“Sejarah tidak boleh dihapus, sejarah harus dikenang,” tutup pernyataan diaspora tersebut.
(mhd_amin)



