Nampak Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi bersama wakilnya Trihandy Cahyo Saputro dan Kapolres Nganjuk AKBP Henri Noveri Santoso bersama para buruh sedang melakukan doa bersama di makam Marsinah.(Poto: istimewa).

NGANJUK, ifakta.co – Peringatan Hari Buruh Internasional 1 Mei 2025 di Kabupaten Nganjuk berlangsung khidmat dan penuh semangat. Ratusan buruh dari berbagai daerah memadati makam Marsinah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Nganjuk, untuk mengenang perjuangan aktivis buruh legendaris tersebut.

Momentum ini menjadi semakin istimewa karena Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, secara tegas menyatakan komitmennya untuk mengusulkan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional.

Iklan

“Marsinah adalah pahlawan buruh yang perjuangannya patut dikenang dan dijadikan inspirasi. Jasanya wajib terus kita ingat bersama,” tegas Marhaen di lokasi ziarah.

Pemkab Siapkan Berkas Pengusulan

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk saat ini tengah mempersiapkan berkas administratif untuk diajukan ke Kementerian Sosial Republik Indonesia. Persyaratan yang tengah disusun meliputi curriculum vitae (CV) dan dokumentasi lengkap perjuangan Marsinah selama menjadi aktivis buruh.

“Pemkab Nganjuk akan mengusulkan Marsinah menjadi Pahlawan Nasional Buruh asal Nganjuk. Urusan disetujui atau tidak, itu belakangan. Yang penting kita serius memperjuangkan ini,” ujar Marhaen.

Rencana Penghargaan Lain: Nama Jalan Marsinah

Sebagai bentuk penghormatan lebih lanjut, Marhaen juga berencana mengabadikan nama Marsinah sebagai nama jalan di wilayah Nganjuk. Langkah ini diharapkan bisa menjadi pengingat abadi bagi generasi muda akan pentingnya perjuangan hak-hak buruh.

Dukungan Kaum Buruh

Antusiasme buruh yang hadir di acara ziarah memperlihatkan bahwa semangat perjuangan Marsinah masih hidup dan relevan. Dukungan dari para buruh dan masyarakat luas diharapkan bisa menjadi dorongan moral bagi Pemkab Nganjuk dalam memperjuangkan gelar kehormatan tersebut.

Marsinah dikenal sebagai sosok pekerja perempuan yang vokal memperjuangkan hak-hak buruh. Ia ditemukan tewas secara tragis pada tahun 1993, dan hingga kini dikenang sebagai simbol perlawanan atas ketidakadilan di tempat kerja.

(may).