“Nanti kita lihat, kemarin memang ada pelantikan minggu lalu dan tentu nanti kita akan lihat pelantikan seperti apa, keputusan Menteri Keuangannya seperti apa dan kita akan tindak lanjuti dari situ,” ujar Suahasil.
Karena itu, keberlanjutan posisi para pejabat yang baru saja dimutasi menjadi salah satu hal yang akan diperhatikan setelah pergantian Menteri Keuangan.
Sementara itu, hingga berita ini ditulis, belum ada penjelasan resmi dari Presiden Prabowo, Kementerian Keuangan maupun pihak terkait yang mengonfirmasi bahwa konflik internal menjadi faktor dalam keputusan mengganti Purbaya Yudhi Sadewa.
Iklan
Suahasil Tegaskan Bukan Perubahan, Melainkan Kelanjutan
Setelah resmi dilantik, Suahasil berusaha memberikan kepastian bahwa pergantian pucuk pimpinan Kementerian Keuangan tidak otomatis mengubah arah kebijakan fiskal secara drastis.
Ia mengatakan Presiden Prabowo memberikan arahan agar dirinya menjaga kesehatan dan kredibilitas keuangan negara. Pada saat yang sama, APBN harus tetap berfungsi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan mempertahankan stabilitas.
“Menurut saya ini bukan perubahan, ini adalah kelanjutan saja, bukan perubahan,” ujar Suahasil.
Ia juga meminta seluruh jajaran Kementerian Keuangan meneruskan pekerjaan yang selama ini telah berjalan.
Menurut Suahasil, APBN harus mampu memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat. Instrumen tersebut harus mendukung konsumsi, investasi, belanja pemerintah hingga ekspor.
Selain itu, ia menekankan pentingnya komunikasi publik yang kredibel. Pemerintah juga perlu memastikan APBN tetap mampu menopang program prioritas yang telah ditetapkan.
Kementerian Keuangan sendiri memiliki sekitar 77.000 pegawai yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Dengan jumlah tersebut, Suahasil memastikan proses transisi membutuhkan koordinasi yang baik agar kegiatan kementerian tetap berjalan normal.
Salah satu perhatian utama Suahasil adalah efisiensi APBN. Ia mengingatkan bahwa efisiensi tidak boleh hanya diterjemahkan sebagai pemotongan anggaran.
“Efisiensi itu bukan hanya sekadar potong belanja. Efisiensi itu adalah menggunakan belanja yang ada untuk menghasilkan output yang maksimal yang kemudian bermanfaat bagi masyarakat,” tegas Suahasil.
Ia menjelaskan bahwa APBN memiliki tiga komponen utama, yakni penerimaan, belanja dan pembiayaan. Pada sisi belanja, pemerintah akan terus mencari ruang efisiensi tanpa mengurangi target output yang telah ditetapkan.
Lima Pekerjaan Rumah Suahasil
Pengamat pajak Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Fajry Akbar menilai Suahasil menghadapi sejumlah pekerjaan rumah setelah kembali menduduki posisi strategis di Kementerian Keuangan.
Menurut Fajry, latar belakang akademis Suahasil yang kuat berpotensi mendorong kebijakan fiskal, terutama sektor perpajakan, menjadi lebih teknokratis.
Selain itu, gaya komunikasi Suahasil diperkirakan lebih berhati-hati dibandingkan Purbaya.
Fajry kemudian merinci lima agenda yang menurutnya perlu menjadi perhatian Menteri Keuangan baru.
Pertama, Suahasil perlu mengembalikan restitusi pajak kepada wajib pajak. Fajry menilai restitusi merupakan hak wajib pajak sehingga proses pengembaliannya tidak boleh dibuat semakin sulit.
Kedua, kredibilitas Kementerian Keuangan perlu dipulihkan. Menurut Fajry, kepercayaan terhadap kementerian, terutama dalam bidang perpajakan, perlu diperkuat karena belakangan muncul keraguan terhadap data maupun pernyataan kementerian.
Ketiga, Fajry mendorong peningkatan transparansi. Hal itu mencakup informasi mengenai kondisi keuangan negara dan penggunaan anggaran.
Ia juga berharap penyusunan kebijakan melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan sehingga keputusan pemerintah memiliki dasar yang semakin kuat.
Keempat, Suahasil diminta tidak menjadikan pegawai Kementerian Keuangan sebagai pihak yang disalahkan ketika muncul persoalan.
Fajry menilai pegawai, khususnya di Direktorat Jenderal Pajak serta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, juga menghadapi tekanan untuk memenuhi target penerimaan negara.
Kelima, Fajry berharap Suahasil mengembalikan tata kelola yang baik di lingkungan Kementerian Keuangan.
Di sisi lain, pakar ekonomi Ferry Latuhihin menilai pergantian Menteri Keuangan tidak otomatis membuat kondisi fiskal Indonesia menjadi lebih baik.
Menurut Ferry, tantangan Suahasil bukan sekadar meneruskan kebijakan yang sudah berjalan. Ia juga harus berani mengevaluasi program pemerintah yang dinilai berpotensi membebani ruang fiskal.
Ferry secara khusus menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
“Apakah Suahasil akan lebih baik? Belum tentu juga. Dia harus punya nyali menghentikan MBG dan KDMP,” ujar Ferry.
Pandangan Ferry tersebut berseberangan dengan sinyal awal Suahasil yang justru menekankan kesinambungan kebijakan dan pelaksanaan program prioritas pemerintah.
Dengan demikian, pergantian Purbaya oleh Suahasil bukan hanya menyangkut pergantian figur di posisi tertinggi Kementerian Keuangan.
Pergantian Menteri Keuangan secara mendadak tersebut juga membuka sejumlah pertanyaan. Isunya mencakup keberlanjutan restrukturisasi pejabat, dinamika internal Kementerian Keuangan hingga arah kebijakan fiskal pemerintah.
Untuk sementara, Suahasil menegaskan dirinya tidak akan mengubah arah kebijakan secara drastis. Ia memilih meneruskan pekerjaan yang sudah berjalan dengan menitikberatkan pada kesehatan, kredibilitas dan efisiensi APBN.
Namun, bagaimana Suahasil menangani hasil perombakan besar-besaran yang dilakukan Purbaya serta menghadapi tekanan terhadap ruang fiskal akan menjadi ujian penting bagi Menteri Keuangan baru tersebut.
Pasar Mencermati Pergantian Menteri Keuangan
Pergantian Purbaya oleh Suahasil juga mendapat perhatian dari pelaku pasar. Head of Research NH Korindo Sekuritas Ezaridho Ibnutama menilai perubahan tersebut berpotensi memunculkan respons positif dalam jangka pendek.
Meski demikian, dalam jangka panjang, dampaknya diperkirakan cenderung netral selama tidak terjadi perubahan besar terhadap kebijakan makroekonomi dan visi Presiden Prabowo.
Kehadiran Suahasil dinilai dapat memberikan angin segar dari sisi administrasi dan gaya kepemimpinan. Namun, arah kebijakan ekonomi dan fiskal tetap sangat dipengaruhi keputusan Presiden.
Pada perdagangan Senin, 14 September 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melemah tipis 0,10% ke level 6.534,69.
Penurunan tersebut jauh lebih kecil dibandingkan kondisi pada sesi siang ketika IHSG sempat tertekan sekitar 2% hingga mencapai level 6.377.
Di tengah pelemahan IHSG, sejumlah saham bank besar justru mencatat penguatan. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) naik 3,98% menjadi Rp3.400 per saham.
Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menguat 3,20%. Kemudian, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 2,77% dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) meningkat 1,83%.
Sementara itu, saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) menguat 3,4% ke level Rp1.215 per saham.
Guru Besar Universitas Indonesia Budi Frensidy menilai keberlanjutan sentimen positif di pasar akan sangat bergantung pada kemampuan Suahasil meyakinkan investor bahwa disiplin fiskal tetap terjaga.
“Jika Suahasil mampu meyakinkan pasar bahwa disiplin fiskal dan defisit di bawah 3% tetap dijaga, dampaknya terhadap rupiah dan IHSG bisa justru positif,” ujarnya.
(my/my)



