BANYUMAS, ifakta.co – Sejarah batik Banyumas memiliki jejak yang lebih luas daripada kain dan ragam motif. Rumah Arsip Banjoemas kini membawa sekitar 140 foto lama ke panggung pelestarian arsip nasional.
Koleksi tersebut masuk dalam nominasi Memori Kolektif Bangsa (MKB) Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) 2026. Rumah Arsip Banjoemas menyumbangkan koleksi itu untuk nominasi bertajuk Arsip Batik Indonesia: Jaringan Dagang dan Budaya 1900–2023.
Foto-foto tersebut merekam penggunaan batik dan kehidupan masyarakat Banyumas pada masa lalu. Sebagian koleksi mengambil rentang waktu sekitar 1900 hingga 1970-an.
Iklan
Karena itu, nilai foto tidak hanya terletak pada usia arsip. Setiap gambar juga menyimpan informasi mengenai kehidupan sosial, budaya, serta perkembangan batik pada zamannya.
Founder Rumah Arsip Banjoemas, Jatmiko Wicaksono, mengatakan foto lama dapat menjadi sumber penting untuk memahami perjalanan batik Banyumas.
“Mengumpulkan arsip foto batik bukan hanya mencari gambar lama. Setiap foto merupakan jejak peradaban yang menyimpan cerita tentang para pembatik, motif yang berkembang, cara batik digunakan, sampai identitas masyarakat Banyumas pada zamannya,” kata Jatmiko, Senin (31/8).
Menurut Jatmiko, masyarakat dapat membaca banyak informasi melalui sebuah foto. Misalnya, foto dapat menunjukkan pakaian yang masyarakat gunakan, aktivitas pembatik, serta perkembangan motif pada periode tertentu.
Selain itu, arsip foto juga dapat membantu peneliti melihat hubungan antara budaya dan kehidupan ekonomi masyarakat.
Namun, proses penyelamatan arsip lama menghadirkan tantangan tersendiri. Koleksi bersejarah tidak selalu tersimpan pada satu tempat. Sebagian foto berada pada kolektor pribadi. Sebagian lainnya berpindah tangan melalui pengepul barang bekas atau pasar barang antik.
Bahkan, sejumlah arsip lama berada di luar negeri. Kondisi tersebut membuat upaya pencarian dan pengumpulan arsip membutuhkan ketekunan.
“Sejarah tidak hanya ditulis melalui buku, tetapi juga dapat direkam dan diwariskan melalui sebuah foto,” ujar Jatmiko.
Arsip Batik Banyumas Dibawa ke Konteks Sejarah Nasional
Rumah Arsip Banjoemas mengikuti nominasi tersebut bersama 16 lembaga dan pemilik koleksi lainnya. Mereka berasal dari beragam unsur. Ada lembaga kearsipan, perpustakaan, museum, komunitas, yayasan, hingga pelaku usaha batik.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian arsip tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat dan komunitas juga dapat mengambil peran dalam menjaga rekam jejak sejarah.
Bagi Rumah Arsip Banjoemas, keterlibatan dalam nominasi MKB menjadi kesempatan untuk membawa sejarah lokal Banyumas ke dalam narasi yang lebih luas. Koleksi mereka tidak hanya mencatat perkembangan batik. Arsip tersebut juga menggambarkan aktivitas ekonomi, kebudayaan, serta kehidupan masyarakat pada masa lalu.
Selanjutnya, Rumah Arsip Banjoemas tidak sekadar menyimpan koleksi. Komunitas juga memanfaatkan arsip untuk kegiatan riset, digitalisasi, pameran, serta edukasi publik.
Dengan cara tersebut, masyarakat dapat mengakses kembali arsip lama melalui berbagai bentuk kegiatan. Langkah ini juga membantu menjaga arsip agar tetap relevan bagi generasi berikutnya.
Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyumas, Agus Anggraito AP, menyatakan pemerintah daerah turut mendukung lembaga dan individu yang membawa nama Banyumas dalam nominasi MKB 2026.
“Kami akan membantu semampu kami, misalnya terkait administratif dan serta yang menjadi kewenangan kami,” kata Agus dalam rapat koordinasi bersama 17 lembaga dan individu yang berkolaborasi dalam khazanah arsip batik.
Sementara itu, Rumah Arsip Banjoemas terus mengembangkan kegiatan pelestarian memori lokal. Ruang komunitas tersebut berada di bawah pengelolaan Banjoemas History Heritage Community.
Komunitas itu mengumpulkan berbagai sumber sejarah Banyumas Raya. Koleksinya mencakup foto lama, dokumen bersejarah, serta materi visual lainnya.
Selain mengumpulkan arsip, komunitas juga mendorong kegiatan penelitian dan edukasi. Mereka mengajak masyarakat memahami arsip sebagai sumber pengetahuan, bukan sekadar benda lama.
Khusus untuk arsip batik, koleksi foto dapat membantu masyarakat memahami perubahan budaya dari masa ke masa. Foto juga dapat memperlihatkan bagaimana masyarakat menggunakan batik dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan masuknya 140 foto Banyumas dalam nominasi MKB, arsip lokal kini memiliki ruang untuk memperkenalkan sejarah batik Banyumas pada tingkat nasional. Langkah tersebut sekaligus memperkuat upaya menjaga memori masyarakat agar tidak hilang bersama perubahan zaman.
(naf/lex)
