YOGYAKARTA, ifakta.co – Prestasi membanggakan kembali datang dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Mahasiswa Program Studi Teknik Nuklir Fakultas Teknik UGM, Marchelino Chrisrichy Cosmo Hutama, berhasil mewakili Indonesia dalam ajang internasional CyberCon26 yang berlangsung di Wina, Austria.
CyberCon26 atau International Conference on Computer Security in the Nuclear World: Securing the Future 2026 merupakan konferensi yang diselenggarakan oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Forum tersebut mempertemukan para pakar keamanan siber dan nuklir dari berbagai negara.
Tidak hanya hadir sebagai peserta, Marchelino juga tampil sebagai panelis. Bahkan, ia menjadi panelis termuda dalam konferensi tersebut. Ia berdiskusi bersama perwakilan dari Belanda, Ukraina, Kanada, Inggris, dan sejumlah negara lainnya.
Iklan
Dalam forum itu, Marchelino mempresentasikan penelitian berjudul Regulatory Frameworks Technical Session: Practical Use of International Standards and Guidance to Enhance Computer Security. Melalui riset tersebut, ia menawarkan rekomendasi untuk memperkuat regulasi keamanan komputer bagi pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Indonesia.
“Saya bersyukur kedua penelitian hasil kolaborasi saya dengan rekan-rekan saya berhasil dipilih oleh IAEA dan dipresentasikan dalam konferensi CyberCon26,” ujarnya dalam rilis UGM, Selasa (2/6).
Dorong Penguatan Regulasi Keamanan Siber Nuklir
Marchelino menyusun penelitian tersebut untuk menjawab kebutuhan Indonesia yang tengah mempersiapkan pengembangan PLTN. Menurutnya, Indonesia telah memiliki pengalaman panjang dalam mengoperasikan tiga reaktor nuklir riset. Selain itu, pemerintah juga menargetkan pengoperasian PLTN pertama pada 2032.
Namun, ia menilai aspek keamanan komputer masih memerlukan perhatian lebih besar. Padahal, keamanan siber memiliki peran penting dalam melindungi infrastruktur vital dari ancaman digital yang terus berkembang.
“Riset ini menekankan prinsip-prinsip standardisasi dan penilaian kesesuaian menggunakan studi komparatif kualitatif dengan analisis kesenjangan kondisi, standar, regulasi teknis, dan praktik industri yang ada,” terangnya.
Melalui kajian tersebut, Marchelino membandingkan standar internasional, regulasi teknis, serta praktik industri yang berlaku di berbagai negara. Hasil analisis itu kemudian menjadi dasar penyusunan rekomendasi bagi penguatan ekosistem keamanan komputer di sektor energi nuklir Indonesia.
Raih Apresiasi dari Pakar Berbagai Negara
Presentasi Marchelino mendapat respons positif dari para peserta dan panelis internasional. Mereka menilai topik yang diangkat relevan dengan kebutuhan banyak negara yang sedang mempersiapkan program energi nuklir.
Jenna Decastro dari Sandia National Laboratories, Amerika Serikat, yang memimpin sesi diskusi tersebut, memberikan apresiasi atas kualitas presentasi mahasiswa UGM.
Apresiasi serupa juga datang dari Natasha Edeh, delegasi asal Jerman.
“Saya sangat mengapresiasi Marchelino dalam memaparkan penelitian, presentasi yang sangat energik, jelas, dan menarik. Saya yakin Marchelino akan sukses,” ujar Natasha.
Sementara itu, Technical Officer IAEA, Yannick Reboul, menilai kolaborasi antara regulator dan operator nuklir menjadi langkah penting untuk memperkuat sistem keamanan komputer di masa depan.
“Presentasi yang sangat baik. Tentunya, kerja sama dengan otoritas nuklir dan sinergi dengan operator nuklir akan menjadi langkah strategis untuk memperkuat regulasi dan ekosistem keamanan komputer di bidang energi nuklir,” kata Yannick.
Dukungan juga datang dari Abraham Parbhunath, Senior Specialist in Nuclear Security dari Federal Authority for Nuclear Regulation (FANR) Uni Emirat Arab. Ia menilai penelitian tersebut dapat menjadi fondasi awal bagi pengembangan infrastruktur keamanan nuklir di negara-negara berkembang.
“Terlebih lagi, penelitian ini juga diinisiasi oleh generasi muda,” ujarnya.
Tiga Kali Wakili Indonesia di Forum IAEA
CyberCon26 menjadi konferensi internasional ketiga yang diikuti Marchelino selama menempuh pendidikan di UGM. Sebelumnya, ia tampil dalam International Conference on Nuclear Security: Shaping the Future 2024 (ICONS 2024) dan International Conference on Advances in Radiation Oncology (ICARO-4) 2025 yang juga berlangsung di Wina.
Melalui berbagai forum tersebut, Marchelino terus memperluas wawasan sekaligus membangun jejaring dengan para pakar nuklir dunia. Ia juga memanfaatkan kesempatan itu untuk mempelajari berbagai pendekatan terkait regulasi, keamanan, dan pengembangan teknologi nuklir.
Selain mempresentasikan penelitian, Marchelino mengikuti sesi pendampingan karier dan diskusi profesional bersama para ahli dari berbagai negara. Pengalaman itu memberinya kesempatan untuk memahami perkembangan sektor nuklir dari berbagai perspektif.
Menurutnya, pengalaman tampil di forum internasional menjadi motivasi untuk terus mengembangkan penelitian yang bermanfaat bagi Indonesia. Ia juga berharap pencapaiannya dapat mendorong lebih banyak mahasiswa Indonesia untuk berani menunjukkan kemampuan di tingkat global.
“Semoga pengalaman ini dapat menginspirasi teman-teman mahasiswa, khususnya dalam mengembangkan nuklir untuk Indonesia dan dunia,” pungkasnya.
CyberCon26 sendiri merupakan forum global yang mempertemukan pemerintah, regulator, operator, akademisi, dan pakar keamanan siber dari berbagai negara. Forum tersebut berfokus pada penguatan keamanan komputer di sektor nuklir sekaligus mendorong kolaborasi internasional dalam menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks.
(naf/lex)



