BANYUMAS, ifakta.co – Risiko kerja masih menjadi tantangan besar bagi para penderes kelapa di Kabupaten Banyumas. Aktivitas memanjat pohon kelapa setiap hari menyimpan potensi bahaya yang tidak kecil.

Karena itu, Pemerintah Kabupaten Banyumas kembali menunjukkan kepeduliannya dengan menyalurkan bantuan sosial kepada para penderes yang mengalami kecelakaan saat bekerja.

Program tersebut menyasar pekerja pengolah nira kelapa yang mengalami musibah ketika menderes, termasuk keluarga penderes yang meninggal dunia akibat kecelakaan kerja. Penyaluran bantuan berlangsung di Pendopo Si Panji Purwokerto, Senin (20/7).

Iklan

Pemerintah daerah memandang penderes sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat Banyumas. Selain menghasilkan gula kelapa yang menjadi produk unggulan daerah, profesi tersebut juga menjadi sumber penghasilan bagi banyak keluarga. Namun, tingginya risiko saat memanjat pohon membuat para penderes membutuhkan perlindungan yang lebih kuat.

Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DinsosP3A) Kabupaten Banyumas, Joko Siswoyo, menjelaskan bahwa bantuan sosial tersebut berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Banyumas Tahun 2026.

Ia mengatakan program itu menyasar penderes yang belum memperoleh perlindungan dari BPJS Ketenagakerjaan sehingga pemerintah daerah hadir untuk memberikan dukungan ketika musibah terjadi.

“Bantuan ini bersumber dari APBD Kabupaten Banyumas Tahun 2026 dan diberikan kepada penderes yang belum memperoleh perlindungan melalui BPJS Ketenagakerjaan,” ujar Joko Siswoyo.

Nilai bantuan menyesuaikan kondisi penerima. Penderes yang mengalami luka akibat kecelakaan memperoleh santunan sebesar Rp10 juta per orang. Sementara itu, keluarga penderes yang meninggal dunia menerima bantuan sebesar Rp5 juta.

Secara keseluruhan, pemerintah mengalokasikan anggaran senilai Rp195 juta untuk program tersebut.

Sebanyak 26 penderes menerima bantuan sosial pada tahun ini. Mereka berasal dari berbagai wilayah di Kabupaten Banyumas. Kecamatan Ajibarang menyumbang dua penerima, Cilongok lima orang, Kemranjen dua orang, Pekuncen satu orang, Purwojati satu orang, Rawalo satu orang, Somagede tiga orang, Sumbang satu orang, Sumpiuh tujuh orang, Tambak satu orang, serta Wangon dua orang.

Joko berharap program bantuan sosial tersebut dapat terus berjalan pada tahun-tahun berikutnya. Menurutnya, keberlanjutan program akan memperkuat perlindungan sosial bagi para penderes sekaligus membantu pemerintah mengurangi dampak ekonomi yang muncul setelah kecelakaan kerja.

“Kami berharap program bantuan sosial bagi penderes dapat terus berlanjut dan semakin kuat sehingga mampu memberikan perlindungan terhadap risiko sosial sekaligus mendukung upaya pengentasan kemiskinan di Kabupaten Banyumas,” katanya.

Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, turut menyampaikan harapannya kepada seluruh penerima bantuan. Menurutnya, santunan tersebut memang tidak mampu menghapus duka maupun mengembalikan kondisi seperti semula. Namun, bantuan itu diharapkan mampu meringankan beban keluarga, terutama untuk kebutuhan pengobatan bagi korban maupun biaya pemakaman bagi penderes yang meninggal dunia.

“Bantuan ini kami harapkan dapat membantu meringankan beban keluarga, terutama untuk kebutuhan biaya pengobatan maupun pemakaman akibat musibah yang dialami penderes,” ujar Sadewo.

Selain memberikan bantuan, pemerintah daerah juga mengajak seluruh pihak untuk meningkatkan kesadaran terhadap keselamatan kerja. Pemerintah desa, kelompok tani, hingga para penderes memiliki peran penting dalam membangun budaya kerja yang lebih aman.

Sadewo menilai penggunaan alat pelindung diri harus menjadi kebiasaan saat bekerja. Selain itu, para penderes juga perlu memastikan kondisi tubuh tetap sehat sebelum memanjat pohon kelapa. Langkah sederhana tersebut mampu mengurangi potensi kecelakaan yang selama ini masih sering terjadi.

Pemerintah Kabupaten Banyumas juga berharap sektor gula kelapa tetap berkembang sebagai salah satu penopang ekonomi daerah. Oleh sebab itu, perlindungan terhadap para penderes menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan usaha yang telah berlangsung secara turun-temurun.

Melalui bantuan sosial tersebut, pemerintah tidak hanya memberikan dukungan finansial. Lebih dari itu, program ini menjadi bentuk perhatian kepada para penderes yang setiap hari menghadapi risiko tinggi demi memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus menjaga keberlangsungan industri gula kelapa di Banyumas.

(naf/lex)

Iklan