JAKARTA, ifakta.co – Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan komitmen pemerintah dalam memenuhi hak-hak anak, khususnya hak memperoleh pendidikan yang layak serta lingkungan belajar yang aman dan berkualitas.
Pernyataan tersebut disampaikan Gus Ipul saat menjadi narasumber dalam Program Talkshow Spesial Hari Anak Nasional di TV One bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi, pakar neurosains dr. Ryu Hasan, dan pemerhati anak Shahnaz Haque, Senin (20/7) malam.
Menurut Gus Ipul, perkembangan teknologi menghadirkan tantangan baru dalam upaya melindungi anak. Oleh karena itu, pemerintah terus memperkuat berbagai program perlindungan, pendampingan, hingga rehabilitasi bagi anak-anak yang membutuhkan.
Iklan
“Dengan adanya kemajuan teknologi, tantangan-tantangan kita dalam rangka memberikan perlindungan, pendampingan, dan tadi juga kadang-kadang juga dibutuhkan rehabilitasi. Ini menjadi hal yang penting,” ujar Gus Ipul.
Ia menjelaskan, salah satu strategi yang dijalankan pemerintah adalah memperkuat ketahanan keluarga, khususnya keluarga yang berada dalam kelompok rentan. Langkah tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengurangi kesenjangan sosial.
“Bagaimana kita mempersiapkan keluarga-keluarga rentan, di desil 1, desil 2, keluarga yang belum beruntung, keluarga yang belum terbawa dalam proses pembangunan. Salah satu pekerjaan rumah besar bangsa kita hari ini adalah masalah ketimpangan,” lanjut Gus Ipul.
Pada peringatan Hari Anak Nasional, pemerintah juga ingin memastikan setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas di lingkungan yang mendukung tumbuh kembang mereka.
Menurut Gus Ipul, upaya tersebut menjadi tantangan bersama di tengah berbagai persoalan yang dihadapi anak-anak, mulai dari pergaulan bebas hingga ancaman penyalahgunaan narkoba.
Ia menambahkan, perhatian pemerintah difokuskan kepada keluarga rentan atau kelompok yang disebut sebagai The Invisible People, yakni masyarakat yang selama ini belum sepenuhnya merasakan manfaat pembangunan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat hampir empat juta anak yang belum bersekolah, tidak bersekolah, putus sekolah, maupun berisiko putus sekolah. Untuk menjangkau kelompok tersebut, pemerintah menghadirkan program Sekolah Rakyat.
“Maka itulah sekarang kita ini sedang bekerjasama agar bagaimana bisa menjangkau seluruh anak-anak kita memperoleh pendidikan yang baik, pendidikan dengan lingkungan yang berkualitas,” kata Gus Ipul.
“Salah satunya adalah Sekolah Rakyat. Ini adalah sekolah berasrama, tidak ada tes akademik, tapi menjangkau anak tidak sekolah, belum sekolah, putus sekolah. Sehingga mereka ini diharapkan memperoleh pendidikan yang baik sehingga masa depannya lebih baik,” tambahnya.
Gus Ipul mengungkapkan, lebih dari 65 persen orang tua siswa dari keluarga kurang mampu merupakan lulusan sekolah dasar. Melalui Sekolah Rakyat, pemerintah berharap anak-anak tersebut dapat menyelesaikan pendidikan dan menjadi agen perubahan bagi keluarga maupun lingkungan sekitarnya.
Selain meningkatkan akses pendidikan, program ini juga diharapkan menjadi model pemberdayaan bagi keluarga rentan di berbagai daerah.
Meski demikian, Gus Ipul mengakui pemerintah masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari penyaluran bantuan sosial yang belum sepenuhnya tepat sasaran hingga perlindungan anak yang terus perlu diperkuat melalui kolaborasi lintas kementerian.
“Ini adalah hal yang kita kerjakan bersama dengan Bu Arifah, dengan kementerian lain, banyak sekali kementerian yang terlibat dan ini untuk pertama kalinya diselenggarakan di era Bapak Presiden Prabowo ini,” pungkasnya.
es/my)



