JAKARTA, ifakta.co – Bahasa Indonesia menjadi bahasa sehari-hari yang digunakan masyarakat dalam komunikasi lisan maupun tulisan. Meski begitu, masih banyak orang yang tanpa sadar memakai kata tidak baku dalam percakapan, tugas sekolah, hingga media sosial.
Kesalahan tersebut sering terjadi karena pengaruh kebiasaan berbicara, lingkungan, atau penulisan yang sudah telanjur populer. Akibatnya, banyak orang menganggap bentuk yang salah sebagai penulisan yang benar. Oleh sebab itu, penting untuk memahami penggunaan kata baku sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Pengertian Kata Baku dan Tidak Baku
Kata baku merupakan kata yang penulisannya sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia dan tercatat dalam KBBI. Biasanya, kata baku digunakan dalam karya ilmiah, artikel resmi, surat, pendidikan, dan dokumen formal lainnya.
Iklan
Sementara itu, kata tidak baku adalah kata yang penulisannya tidak sesuai dengan aturan bahasa yang berlaku. Meski sering terpakai dalam percakapan sehari-hari, bentuk tersebut tidak dianjurkan dalam penulisan resmi.
Penyebab Munculnya Kata Tidak Baku
Penggunaan kata tidak baku muncul karena beberapa faktor. Pertama, banyak orang terbiasa menulis sesuai cara pengucapan sehari-hari. Selain itu, pengaruh bahasa daerah dan bahasa asing juga membuat penulisan kata sering berubah.
Di sisi lain, perkembangan media sosial turut memengaruhi kebiasaan menulis masyarakat. Banyak pengguna internet lebih memilih bentuk singkat dan populer tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu.
Karena itu, memahami bentuk baku sebuah kata menjadi hal penting agar tidak terjadi kesalahan berulang.
Contoh Kata Baku dan Tidak Baku yang Sering Keliru
Berikut beberapa contoh kata yang sering salah penulisannya beserta bentuk bakunya.
| Kata Tidak Baku | Kata Baku |
|---|---|
| Praktek | Praktik |
| Apotik | Apotek |
| Akte | Akta |
| Lembab | Lembap |
| Resiko | Risiko |
| Nafas | Napas |
| Hembus | Embus |
| Goa | Gua |
| Jomblo | Jomlo |
| Analisa | Analisis |
| Silahkan | Silakan |
| Antri | Antre |
| Sekedar | Sekadar |
| Dimana | Di mana |
| Aktifitas | Aktivitas |
| Nasehat | Nasihat |
| Perduli | Peduli |
| Ijin | Izin |
| Jaman | Zaman |
| Hapal | Hafal |
| Fikir | Pikir |
Penjelasan Kata yang Sering Salah
1. Silakan, Bukan Silahkan
Banyak orang menggunakan kata silahkan dalam percakapan maupun tulisan. Padahal, bentuk baku yang benar adalah silakan. Kata tersebut berasal dari kata dasar sila, bukan silah.
Contoh:
- Silakan duduk terlebih dahulu.
- Silakan masuk ke ruangan rapat.
2. Antre, Bukan Antri
Selain itu, kata antri juga termasuk bentuk tidak baku. Penulisan yang tepat menurut KBBI ialah antre.
Contoh:
- Para pengunjung mulai antre di loket tiket.
- Siswa harus antre dengan tertib.
3. Praktik, Bukan Praktek
Kesalahan ini cukup sering ditemukan, terutama dalam dunia pendidikan dan kesehatan. Kata baku yang benar adalah praktik.
Contoh:
- Siswa mengikuti praktik laboratorium.
- Dokter membuka praktik pada sore hari.
4. Risiko, Bukan Resiko
Meski pengucapannya hampir sama, bentuk baku yang sesuai KBBI adalah risiko.
Contoh:
- Investasi selalu memiliki risiko.
- Pengendara harus memahami risiko kecelakaan.
5. Analisis, Bukan Analisa
Dalam karya ilmiah, penggunaan kata analisis jauh lebih tepat dibandingkan analisa.
Contoh:
- Peneliti melakukan analisis data secara mendalam.
- Analisis tersebut membantu menemukan solusi.
Pentingnya Menggunakan Kata Baku
Penggunaan kata baku memberikan banyak manfaat, terutama dalam komunikasi resmi. Selain membuat tulisan terlihat lebih profesional, kata baku juga membantu menghindari kesalahpahaman.
Di samping itu, penggunaan bahasa yang benar menunjukkan kepedulian terhadap perkembangan Bahasa Indonesia. Karena itu, pelajar, mahasiswa, hingga penulis perlu membiasakan diri memakai kata sesuai KBBI.
Cara Membiasakan Penggunaan Kata Baku
Agar semakin terbiasa menggunakan kata baku, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan.
1. Membaca Kamus atau KBBI Daring
Saat ragu dengan penulisan suatu kata, segera periksa melalui KBBI.
2. Membaca Artikel Berkualitas
Selain itu, membaca artikel dari media terpercaya membantu memperkaya kosakata baku.
3. Membiasakan Menulis dengan Benar
Semakin sering menulis menggunakan kata baku, kemampuan berbahasa juga akan meningkat.
4. Mengurangi Penggunaan Bahasa Gaul Berlebihan
Bahasa santai memang tidak masalah dalam percakapan sehari-hari. Namun, penggunaan bahasa baku tetap penting dalam situasi formal.
Kesimpulan
Kata baku dan tidak baku memiliki perbedaan yang cukup penting dalam penggunaan Bahasa Indonesia. Kata baku mengikuti aturan KBBI dan digunakan dalam situasi resmi, sedangkan kata tidak baku lebih sering muncul dalam percakapan sehari-hari.
Oleh sebab itu, memahami bentuk penulisan yang benar dapat membantu meningkatkan kualitas komunikasi dan kemampuan menulis. Selain membuat tulisan lebih rapi, penggunaan kata baku juga menunjukkan sikap menghargai Bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
(naf/lex)





