Dibahas dalam Seminar, Sejumlah Aktivis Bedah Hari Jadi DPRD Nganjuk

ifakta.co, NGANJUK – DPRD Kabupaten Nganjuk menggelar seminar guna menelusuri hari jadinya dengan menggali potensi sejarah sesuai data yang akurat melalui fase sejarah terdahulu dan sejarah sekarang.

Seminar yang digelar pada Rabu 21 Oktober 2020 itu dihadiri oleh Ketua DPRD Tatit Heru Tjahyono dan beberapa anggota dewan, mantan Bupati Nganjuk Sutrisno, Disparporabud , komunitas pecinta sejarah Nganjuk (Kotasejuk), Yayasan Sadang Nganjuk, Rokok Masya dan LSM.

Sedangkan narasumber ada tiga orang yaitu Prof. Dr. Aminudin Kasdi, Sukadi dan Rudi Handoko.

Sebelum membuka Seminar Tatit Heru Tjahyono mengatakan, kegiatan ini berawal dari diskusi – diskusi kecil para pegiat budaya, LSM dan media yang sering berkonsultasi tentang sejarah Nganjuk khususnya hari jadi DPRD.

“Akhirnya kami tindak lanjuti dengan mengadakan seminar ini dan mendatangkan narasumber yang kompeten di bidangnya,” kata Tatit.

Tatit sangat optimis dari seminar itu nantinya akan di hasilkan kajian – kajian sebagai statement ke depannya.

“Kami berharap pasca seminar digelar akan menghasilkan kajian yang benar – benar valid terkait hari jadi DPRD Nganjuk, sehingga minimal bisa sebagai acuan dasar dalam melaksanakan tugas agar menambah spirit dan mengetahui  DPRD di fase dahulu fungsinya apa saja,” jelas Tatit.

Menurutnya, menilik dari fungsi sejarahnya Tatit berharap hendaknya DPRD lebih memaksimalkan kinerjanya dari 3 pungsi yang sudah dimiliki sekarang yaitu pungsi legislasi, pungsi penganggaran dan pungsi budgeting.

Usai senimar salah satu narasumber Sukardi mengatakan, temuan-temuan dan penelusuran sejarah DPRD Kabupaten Nganjuk kemudian di tuangkan dalam naskah berjudul “Sejarah Cikal Bakal Nama Anjukladang”.

Ia menggaris bawahi data sementara dari kajiannya itu adalah DPRD Nganjuk sudah ada sejak 1 Januari 1929. Hal ini dilihat berdasarkan Staadsblad No.310 tanggal 9 Agustus 1928.

“DPRD Kabupaten Nganjuk saat itu beranggotakan 21 orang yang terdiri dari orang Belanda, orang Cina, penunjukan dan perwakilan dari 5 distrik di Nganjuk,” kata Sukadi.

Kelima distrik itu adalah distrik Lengkong 1 orang, distrik Kertosono 2 orang, distrik Warujayeng 3 orang, distrik Nganjuk 3 orang, dan distrik Berbek 2 orang.

“Perwakilan dilaksanakan secara pilihan dan DPRD Nganjuk saat itu di pimpin langsung oleh Bupati Nganjuk,” papar Guru SMPN Bagor dan Tutor UT sekaligus Pimred Nganjuk TV itu.

Sementara salah satu anggota komunitas Kota Sejuk Stevano Rudy Handoko memiliki kesimpulan yang sama dengan Sukadi,  bahwa cikal bakal hari jadi DPRD Kabupaten Nganjuk jatuh pada 1 Januari 1929, kemudian di atur lagi dalam UU No.22 tahun 1948 tentang pemerintahan daerah.

Rudy menerangkan dalam Pemilu DPR yang pertama kali di gelar di Nganjuk pada tahun 1955 memperebutkan 35 kursi yakni; 13 kursi PNI, 11 kursi PKI, 7 NU, 2 Masjumi, 1 perwari dan 1 ilmu Sejati dan hal itu di atur dalam UU No.12 tahun 1950 yang di berlakukan sejak 8 Agustus 1950.

Pada kesempatan yang sama, Purna Guru Besar Sejarah Indonesia di Universitas Airlangga Surabaya, Aminudin Kasdi mempelajari sejarah hari jadi DPRD Nganjuk dari berbagai kriteria dan sudut pandang yaitu, mempelajari penanggalan yang tertua, arti dan makna dalam  kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

“Peristiwa penting yang bermakna dan membanggakan bagi kehidupan di wilayah suatu bangsa,” katanya.

Lalu menurut dia nilai kesejarahannya, misalkan proklamasi, kebangkitan nasional. Kemudian sebagai kesepakatan luhur antar bebagai pihak.

“Terakhir adalah masa menurut tradisi,” ujar kakek 72 tahun ini.

Aminudin juga memetakan sejarah DPRD Kabupaten Nganjuk berdasarkan sudut pandang ( View of standpoint) masanya yaitu, pada masa UU dan peraturan pada jaman kolonial India Belanda, Lalu pada masa UU setelah proklamasi kemerdekaan dan pada masa menurut tradisi bangsa yang pernah hidup (Overlevering).

“Dari ke tiga hal tersebut jika dibedah belum diketahui tanggal bulan dan tahun yang pasti yang di tetapkan sebagai hari jadi DPRD Kabupaten Nganjuk.

Menurut dia itu masih kriteria secara umum dan masih perlu pembahasan lebih dalam lagi.
“Kalau saya terserah pada hasil musyawarah nantinya,” pungkasnya.

▪ed.my

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here