JAKARTA, ifakta.co – Pandangan mengenai kesuksesan karier mulai mengalami perubahan besar di kalangan Generasi Z atau Gen Z. Jika generasi sebelumnya menganggap posisi manajer, direktur, hingga pimpinan perusahaan sebagai pencapaian tertinggi, banyak pekerja muda kini justru memilih menghindari jabatan struktural.

Fenomena tersebut semakin terlihat di dunia kerja modern. Tidak sedikit anak muda yang merasa posisi kepemimpinan membawa tekanan mental terlalu besar, menyita waktu pribadi, serta menguras energi sosial. Akibatnya, sebagian Gen Z lebih memilih pekerjaan fleksibel daripada mengejar kursi “bos”.

Pakar Psikologi Perkembangan Universitas Airlangga, Dr. Dewi Retno Suminar MSi Psikolog, menilai perubahan pola pikir ini muncul akibat kombinasi perkembangan teknologi, pola asuh, hingga bergesernya definisi sukses di era digital.

Iklan

Menurut Dewi, Gen Z tumbuh dalam lingkungan yang penuh arus informasi cepat. Paparan teknologi sejak kecil membuat mereka terbiasa menerima banyak informasi sekaligus dalam waktu singkat.

“Gen Z hadir ketika teknologi sedang berubah cepat. Terpaan bertubi-tubi tersebut membuat kesempatan mengendapkan informasi tidak sekuat dan selama generasi sebelumnya. Akibatnya secara psikologis sering panik, cemas dan ketika berinteraksi sosial sering menganggap energi sosialnya terkuras habis,” ungkap Dewi.

Kondisi tersebut memang membentuk kemampuan multitasking yang tinggi. Namun di sisi lain, tekanan informasi tanpa henti juga memicu kecemasan dan kelelahan mental.

Selain itu, posisi manajemen menuntut kemampuan mengambil keputusan besar serta menghadapi tekanan dari banyak pihak. Situasi tersebut sering membuat generasi muda merasa tidak nyaman karena mereka lebih mengutamakan keseimbangan hidup daripada status jabatan.

Karena itu, sebagian pekerja muda mulai mempertanyakan kembali makna sukses dalam karier. Mereka tidak lagi selalu mengaitkan keberhasilan dengan posisi tinggi atau kekuasaan di kantor.

Makna Kesuksesan Mulai Bergeser

Berbeda dengan generasi terdahulu yang rela bekerja keras demi naik jabatan, Gen Z kini lebih fokus pada kualitas hidup. Banyak anak muda menilai waktu pribadi, kesehatan mental, serta fleksibilitas kerja jauh lebih penting daripada titel formal.

Fenomena tersebut terlihat dari meningkatnya minat terhadap pekerjaan remote, freelance, hingga karier berbasis proyek. Gen Z cenderung memilih lingkungan kerja yang lebih santai, fleksibel, dan tidak terlalu hierarkis.

Selain itu, media sosial ikut memengaruhi perubahan cara pandang tersebut. Anak muda kini melihat banyak alternatif kesuksesan di luar jalur korporasi tradisional. Mereka menyaksikan kreator konten, freelancer, hingga pengusaha digital mampu memperoleh penghasilan tinggi tanpa harus menduduki posisi struktural perusahaan.

Akibatnya, ambisi menjadi pimpinan perusahaan tidak lagi menjadi tujuan utama sebagian generasi muda.

Selain pengaruh teknologi, Dewi juga menyoroti pola asuh orang tua modern yang dinilai terlalu protektif terhadap anak.

Banyak orang tua berusaha melindungi anak dari tekanan, konflik, maupun kegagalan. Meski bertujuan baik, kebiasaan tersebut justru membuat sebagian anak kurang terbiasa menghadapi tantangan besar saat memasuki dunia kerja.

Iklan