JAKARTA, ifakta.co – Memanasnya konflik di kawasan Selat Hormuz mulai memicu tekanan besar terhadap industri plastik global. Gangguan pasokan energi dan petrokimia dunia membuat harga berbagai bahan baku plastik melonjak tajam sepanjang 2026.

Kondisi tersebut kini menjadi perhatian serius bagi Indonesia. Pasalnya, industri nasional masih bergantung tinggi pada impor bahan baku plastik, sementara kebutuhan plastik terus meningkat di banyak sektor industri dan aktivitas masyarakat sehari-hari.

Peneliti dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia menilai konflik geopolitik di kawasan Teluk dapat menjalar langsung ke rantai pasok industri nasional.

Iklan

Dalam Trade and Industry Brief edisi April 2026, LPEM FEB UI menjelaskan bahwa tekanan global tidak hanya memengaruhi harga minyak dunia, tetapi juga meningkatkan biaya produksi berbagai industri berbasis plastik di Indonesia.

Harga Resin Plastik Naik Signifikan

Hingga akhir April 2026, harga resin plastik utama dunia masih bertahan jauh di atas posisi tahun sebelumnya. Data LPEM FEB UI menunjukkan harga polipropilen (PP) naik 23,8 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Selain itu, harga polietilen (PE) meningkat 16,3 persen yoy. Sementara itu, harga polivinil klorida (PVC) ikut melonjak sebesar 11 persen yoy.

Kenaikan tersebut muncul akibat terganggunya distribusi minyak mentah dan bahan baku petrokimia global. Di sisi lain, konflik geopolitik di jalur perdagangan strategis dunia juga meningkatkan biaya energi fosil dan logistik internasional.

Tekanan biaya tersebut kemudian langsung memengaruhi rantai produksi industri plastik global, termasuk Indonesia yang masih mengandalkan pasokan impor.

Industri Nasional Hadapi Tekanan Produksi

LPEM FEB UI menilai industri plastik nasional kini menghadapi tekanan berat. Sebab, kapasitas industri hulu petrokimia dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan industri hilir secara penuh.

Akibat kondisi itu, kenaikan harga bahan baku global langsung meningkatkan biaya produksi perusahaan nasional. Situasi tersebut juga berpotensi menurunkan daya saing industri Indonesia di pasar domestik maupun internasional.

Peneliti LPEM FEB UI memperkirakan gangguan pasokan minyak mentah dari Timur Tengah sebesar 20 hingga 30 persen dapat menekan Produk Domestik Bruto (PDB) industri plastik nasional sekitar Rp960 miliar sampai Rp1,4 triliun.