SURABAYA, ifakta.co – Keputusan Uni Emirat Arab (UEA) untuk keluar dari Organisasi Negara-Negara Eksportir Minyak (OPEC) mulai 2026 memunculkan perhatian global. Langkah tersebut muncul di tengah situasi geopolitik Timur Tengah yang belum stabil. Selain itu, keputusan UEA juga memicu spekulasi terkait masa depan OPEC sebagai organisasi pengendali produksi minyak dunia.
Pakar Ekonomi Internasional Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Prof. Rossanto Dwi Handoyo SE MSi PhD, menilai keputusan tersebut bukan langkah mendadak. Menurutnya, pemerintah UEA telah menyiapkan rencana keluar dari OPEC sejak beberapa tahun terakhir.
Ambisi Produksi Minyak Jadi Faktor Utama
Prof. Rossanto menjelaskan UEA memiliki target peningkatan produksi minyak yang jauh lebih besar daripada kuota OPEC saat ini. Selama menjadi anggota OPEC, UEA harus mengikuti pembatasan produksi sekitar 3 hingga 3,5 juta barel per hari. Padahal, kapasitas produksi negara tersebut dinilai mampu mencapai 5 sampai 6 juta barel per hari.
Iklan
Kondisi itu membuat UEA ingin memiliki fleksibilitas lebih besar dalam menentukan kebijakan energi nasionalnya. Terlebih lagi, sektor minyak masih menjadi sumber pendapatan utama negara tersebut.
“Mereka sudah lama berencana keluar dari OPEC. Sudah sejak dua tahun yang lalu ada wacana tersebut. Tapi waktu itu harga minyak masih sekitar 70 dolar per barel, sehingga belum menjadi pilihan yang menguntungkan,” jelas Prof. Rossanto dalam laman UNAIR, Senin (18/5).
Ia menilai UEA ingin memaksimalkan potensi ekspor minyak tanpa terikat kuota produksi organisasi.
Konflik Timur Tengah Dinilai Jadi Pemicu Tambahan
Selain persoalan produksi minyak, situasi geopolitik kawasan Timur Tengah ikut memengaruhi keputusan tersebut. Namun, Prof. Rossanto menegaskan konflik Iran dan Amerika Serikat bukan faktor utama keluarnya UEA dari OPEC.
Menurutnya, konflik kawasan hanya mempercepat realisasi keputusan yang sebelumnya sudah direncanakan. Ia juga menyoroti perbedaan kepentingan politik antara UEA dan Arab Saudi dalam konflik Yaman.
Arab Saudi selama ini mendukung pemerintah resmi Yaman. Sementara itu, UEA justru lebih dekat dengan kelompok separatis di wilayah Yaman Selatan. Perbedaan arah politik tersebut memperlihatkan adanya ketidaksepahaman di internal OPEC.
“Situasi geopolitik yang tidak menguntungkan termasuk ancaman terhadap infrastruktur energi di kawasan menjadi momentum yang tepat bagi UEA untuk merealisasikan rencana tersebut,” ujarnya.
Pakar Sebut OPEC Bisa Hadapi Efek Domino
Prof. Rossanto mengingatkan keluarnya UEA berpotensi memicu efek domino di dalam OPEC. Jika negara anggota lain mengikuti langkah serupa, maka kekuatan organisasi dalam mengatur produksi minyak global bisa melemah.
Saat ini, OPEC menguasai sekitar 40 persen pasokan minyak dunia. Sementara itu, negara-negara di luar OPEC tetap dapat memproduksi dan mengekspor minyak secara bebas.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat memicu persaingan produksi antarnegara. Akibatnya, harga minyak dunia justru berpotensi turun drastis karena pasokan meningkat tajam.
“Kalau OPEC sampai bubar karena perbedaan kepentingan, masing-masing negara akan berlomba meningkatkan produksi. Ini justru akan membuat harga minyak jatuh, dan pihak yang paling rugi adalah negara-negara produsen itu sendiri,” paparnya.
Indonesia Bisa Dapat Keuntungan Sementara
Di sisi lain, Prof. Rossanto menilai Indonesia berpotensi memperoleh keuntungan jangka pendek jika harga minyak dunia turun. Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia dapat mengurangi tekanan subsidi energi apabila harga minyak global melemah.
Meski demikian, ia meminta pemerintah tidak bergantung pada kondisi tersebut. Ia menilai momentum ini harus dimanfaatkan untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan agar ketahanan energi nasional semakin kuat.
Menurutnya, ketergantungan terhadap energi fosil tetap memiliki risiko besar di tengah situasi geopolitik global yang mudah berubah. Karena itu, pengembangan energi alternatif perlu terus dipercepat agar Indonesia tidak terlalu terdampak fluktuasi harga minyak dunia.
Melalui kondisi tersebut, keputusan UEA keluar dari OPEC dinilai bukan sekadar isu ekonomi energi. Langkah itu juga mencerminkan perubahan arah kepentingan politik dan strategi ekonomi negara-negara produsen minyak di kawasan Timur Tengah.
(naf/lex)





