JAKARTA, ifakta.co – Kapal kargo berbendera Iran, MV Touska, yang disita dan ditembaki pasukan Angkatan Laut Amerika Serikat di Teluk Oman, sebelum kejadian sempat menunjukkan pola pelayaran yang mengarah ke China.

Kapal ini disebut sebagai “dual‑fungsi” karena potensi muatannya dapat digunakan baik untuk keperluan sipil maupun militer.

Analisis data perkapalan yang dikutip Newsweek menunjukkan Touska kerap berkunjung ke pelabuhan‑pelabuhan di China sebelum kemudian diserang dan disita oleh AS akhir pekan lalu di kawasan Teluk Oman.

Iklan

Menurut analisis tersebut, Touska terakhir kali meninggalkan perairan Iran pada 22 Februari melalui Pelabuhan Shahid Rajaee. Kapal itu kemudian melintasi Selat Malaka pada awal Maret dan melanjutkan perjalanan ke timur.

Pada 9 Maret, Touska singgah di Pelabuhan Zhuhai, di China Selatan. Data pelacakan perkapalan menunjukkan pelabuhan ini bukan sekadar titik persinggahan biasa, melainkan salah satu lokasi kunci yang disebut terkait pengadaan bahan baku bahan bakar roket untuk rudal balistik Iran.

Jalur dan rute tersebut dinilai membantu Iran mempertahankan rantai pasok strategisnya di tengah tekanan sanksi AS.

Organisasi maritim non‑pemerintah Global Fishing Watch berhasil menangkap sinyal Automatic Identification System (AIS) kapal Touska.

Data menunjukkan kapal sempat berlayar ke arah utara dan berada di perairan China di lepas pantai Shanghai selama setidaknya 11 hari.

Namun, Touska kemudian mematikan transponder AIS selama dua setengah hari, tindakan yang melanggar aturan keselamatan dan transparansi navigasi maritim internasional.

Sejumlah ahli menilai pemadaman AIS ini sering digunakan kapal‑kapal dengan profil sensitif untuk menghindari pengawasan dan mengurangi jejak digital.

Touska baru muncul kembali di layar pelacakan ketika kapal kembali berlayar menuju dan singgah di Pelabuhan Zhuhai pada 29 Maret.

Transit di Perairan Malaysia dan Persinggahan Port Klang

Setelah meninggalkan Zhuhai, Touska rencananya pulang ke wilayah Iran. Pada 3 April, kapal sempat berlabuh di lepas pantai Port Klang, Malaysia.

Perairan ini dikenal sebagai salah satu titik transit kapal‑kapal yang kerap dikaitkan dengan armada “shadow fleet” Iran atau jaringan kapal yang beroperasi di batas‑batas hukum dan sanksi internasional.

Touska hanya berhenti sementara di area jangkar Port Klang sebelum kembali melanjutkan perjalanan sembilan hari kemudian. Posisi dan pola pemberhentian kapal ini menarik perhatian analis maritim dan intelijen karena kerap menjadi skenario pengalihan muatan atau pengisian ulang sebelum memasuki wilayah Teluk Oman.

Saat Touska memasuki Teluk Oman, pasukan AS melakukan penembakan dan penyitaan kapal pada 16 April. Pusat Komando Militer AS (CENTCOM) dalam rilis resmi menyatakan kapal mencoba menerobos blokade dan mengabaikan peringatan beberapa kali.

“Spruance melumpuhkan propulsi Touska dengan menembakkan beberapa peluru dari meriam MK 45,5 inci kapal perusak ke ruang mesin Touska,” demikian pernyataan Pusat Komando Militer AS (CENTCOM) pada Minggu.

Marinir AS kemudian naik ke kapal dan mengambil alih kendali penuh atas Touska, sementara pihak berwenang mulai melakukan pemeriksaan mendalam terhadap muatannya.

Kapal “Penggunaan Ganda” dan Dugaan Kargo Sipil–Militer

Direktur organisasi maritim SeaLight, Ray Powell, mengatakan keberadaan kapal Iran di tengah zona intens pengawasan angkatan laut AS mengisyaratkan muatannya mungkin bersifat strategis.

“Kapal itu mencoba menerobos blokade, yang tampaknya merupakan tindakan sangat bodoh, yang sepertinya mengindikasikan ada sesuatu di atas kapal itu yang mungkin sangat mereka butuhkan di Iran,” kata Powell dikutip Fox News.

Powell juga menekankan pentingnya mengamati rute kapal melalui Malaysia dan persinggahannya di China, karena kedua titik ini kerap menjadi bagian dari jaringan pasokan material dual‑use‑—barang yang dapat digunakan untuk keperluan industri sipil sekaligus militer.

Kunjungan Touska ke pelabuhan China terjadi di tengah laporan yang mengaitkan pelabuhan‑pelabuhan di China dengan pengiriman material dwiguna ke Iran.

Namun, hingga saat ini, belum ada bukti langsung yang menghubungkan kargo Touska dengan pemasok tertentu.

Pemeriksaan Lanjutan dan Status Kargo Touska

Saat ini, pemeriksaan muatan kapal Touska masih berlangsung di bawah koordinasi militer AS dan instansi intelijen terkait.

Pelacakan maritim dan analisis sumber terbuka mendukung asumsi awal bahwa Touska kemungkinan mengangkut barang “penggunaan ganda”—baik logam, pipa, komponen elektronik, maupun material lain yang dapat dipakai di sektor industri maupun militer.

“Sumber maritim juga sempat mengatakan Touska kemungkinan besar adalah kargo ‘penggunaan ganda’ untuk tujuan sipil dan militer,” ditegaskan analis yang mengikuti pergerakan kapal ini.

Sejumlah analis menilai bahwa penyitaan Touska bukan sekadar insiden isolatif, melainkan bagian dari perang pasif melalui sektor maritim, di mana pembatasan jalur pengiriman menjadi instrumen politik dan keamanan.

Dengan demikian, jejak Touska dari Iran, melalui China dan Malaysia, hingga akhirnya disita di Teluk Oman, menegaskan betapa strategisnya ruang laut dan pelabuhan dalam konstelasi geopolitik global.

(den/jo)