YOGYAKARTA, ifakta.co – Masalah sampah masih menjadi tantangan serius di kawasan kampus dengan aktivitas tinggi. Oleh karena itu, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengambil langkah konkret dengan mengoperasikan Tempat Pengolahan Sampah Mandiri (TPSM) sejak 2024. Melalui fasilitas ini, UMY memperkuat sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan sekaligus terintegrasi.

Sebelumnya, selama hampir 28 tahun, UMY bergantung pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul dan vendor swasta untuk pengangkutan sampah. Namun, keterbatasan sistem tersebut tidak mampu mengimbangi volume sampah harian kampus.

Direktur Direktorat Operasi dan Infrastruktur Berkelanjutan (DOIB) UMY, Dr. Surya Budi Lesmana, menegaskan kondisi tersebut.

Iklan

“Dalam kondisi tersebut, bahkan proses pemilahan sampah pun belum dilakukan oleh internal kampus, melainkan oleh pihak luar,” jelas Surya pada Senin (20/4).

Selain itu, penutupan TPS Piyungan yang memicu darurat sampah di Yogyakarta semakin mendorong UMY untuk berbenah. Karena itu, kampus memilih untuk mandiri dalam mengelola sampah.

“Dari situ muncul kesadaran bahwa kami tidak bisa terus bergantung pada pihak luar. Sebagai kampus dengan komitmen green campus, kami memiliki tanggung jawab untuk mengurangi dan mengolah sampah secara mandiri,” tegasnya.

Sistem Pengolahan Sampah Terpadu dan Efisien

Melalui TPSM, UMY kini menerapkan sistem pemilahan sampah yang lebih disiplin. Pertama, kampus memisahkan sampah menjadi organik dan anorganik. Selanjutnya, setiap jenis sampah diproses sesuai karakteristiknya.

Untuk sampah organik seperti daun, petugas mencacah material menggunakan mesin, kemudian memfermentasikannya selama 30–35 hari hingga menjadi kompos. Setelah itu, kampus memanfaatkan kompos tersebut untuk menyuburkan tanaman di lingkungan kampus.

Sementara itu, petugas memilah sampah anorganik seperti kertas dan plastik yang memiliki nilai ekonomi untuk dijual kembali. Di sisi lain, petugas mengolah sampah residu menggunakan incinerator bersuhu tinggi yang dilengkapi sistem penyaringan emisi, sehingga tetap aman bagi lingkungan.

TPSM Jadi Pusat Edukasi dan Kolaborasi

Tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas pengolahan, TPSM juga berkembang menjadi pusat edukasi. Bahkan, berbagai instansi pemerintah dan perguruan tinggi, termasuk dari luar negeri, datang untuk melakukan studi tiru.

“TPSM ini bukan hanya soal pengelolaan sampah, tetapi juga menjadi media pembelajaran. Banyak pihak datang untuk studi tiru, mulai dari instansi pemerintah hingga dari luar negeri,” ungkap Surya.

Namun demikian, keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada teknologi. UMY juga mendorong seluruh sivitas akademika untuk berperan aktif dalam memilah sampah sejak dari sumbernya. Dengan demikian, kampus dapat mempercepat pencapaian target zero waste campus.

(naf/kho)