BANDUNG, ifakta.co – Dua mahasiswa Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) angkatan 2023, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), Institut Teknologi Bandung (ITB), Ni Ketut Ayu Ratih Antari dan Aldrin Zaydan Muhtadi, menorehkan prestasi di tingkat nasional. Keduanya yang tergabung dalam Tim Helios meraih Juara 2 sekaligus penghargaan People’s Choice dalam ajang Indonesia Economic Outlook (IEO) 2026 pada kategori Policy Case Study Competition.
Kompetisi yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia tersebut menantang peserta untuk merumuskan solusi kebijakan terhadap isu ekonomi nasional dengan pendekatan berbasis analisis dan data.
Dalam ajang ini, Tim Helios mengangkat isu reformasi kebijakan pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia. Berbeda dari sebagian besar peserta yang berlatar belakang ekonomi, mereka menghadirkan pendekatan khas keilmuan PWK.
Iklan
Analisis yang dilakukan dimulai dari telaah kebijakan UMKM yang telah berlaku, dilanjutkan dengan identifikasi permasalahan di lapangan, hingga perbandingan kebijakan dengan negara lain seperti Thailand dan Vietnam untuk melihat kesenjangan yang ada.
“Sebagai mahasiswa PWK, kami mencoba memulai dari membaca kebijakan UMKM yang ada saat ini dan memahami tantangan riil di lapangan, baru kemudian diperkuat dengan data kuantitatif dan fiskal,” ujar Ni Ketut Ayu Ratih Antari, dilansir dari laman ITB pada Selasa (31/3).
Berdasarkan hasil analisis tersebut, Tim Helios merumuskan tiga rekomendasi utama, yakni harmonisasi regulasi, penyederhanaan perizinan dan pengawasan, serta penguatan digitalisasi dan pendampingan produktif bagi UMKM. Rekomendasi ini ditujukan untuk meningkatkan efektivitas kebijakan sekaligus mendorong daya saing UMKM di tengah perkembangan ekonomi digital dan global.
Gagasan tersebut dinilai relevan dengan kondisi UMKM di Indonesia yang masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kompleksitas regulasi, keterbatasan akses perizinan, hingga minimnya pendampingan dan adopsi teknologi.
Melalui pendekatan yang komprehensif, solusi yang ditawarkan berpotensi mendukung optimalisasi peran UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Aldrin Zaydan Muhtadi mengungkapkan bahwa partisipasi mereka dalam kompetisi ini juga dilandasi keinginan untuk menguji kemampuan di bidang ekonomi yang masih berkaitan dengan keilmuan PWK. Selain itu, pengalaman sebelumnya yang belum berhasil mencapai tahap final menjadi motivasi untuk bangkit.
“Tahun ini kami ingin ‘comeback’ dari kegagalan sebelumnya. Kami melihat ini sebagai kesempatan untuk berkembang sekaligus menguji sejauh mana kemampuan kami,” ujarnya.
(naf/kho)



