JAKARTA, Ifakta.co – Pemerintah Indonesia dan Jepang memperkuat kemitraan strategis di sektor energi melalui penandatanganan kerja sama di bidang mineral kritis dan teknologi nuklir. Kesepakatan tersebut menjadi bagian dari upaya kedua negara untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong transisi menuju energi bersih di kawasan Indo-Pasifik.

Kerja sama tersebut disepakati dalam pertemuan bilateral antara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia Bahlil Lahadalia dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang Ryosei Akazawa. Pertemuan berlangsung di sela forum energi regional Indo-Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum yang digelar di Tokyo, Jepang, Minggu (15/3).

Dalam pertemuan tersebut, kedua negara menandatangani Memorandum of Cooperation (MoC) yang mencakup dua sektor strategis, yakni pengembangan mineral kritis dan kerja sama teknologi energi nuklir. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat sistem energi yang lebih terintegrasi, tangguh, serta berkelanjutan di kawasan Asia-Pasifik.

Iklan

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyambut positif kerja sama tersebut dan menegaskan bahwa Indonesia membuka peluang luas bagi investasi dan kolaborasi pengelolaan sumber daya mineral strategis.

“Kami sangat menyambut baik memorandum yang hari ini ditandatangani, khususnya di bidang mineral kritis. Pemerintah Indonesia terbuka bagi pemerintah maupun pengusaha Jepang untuk bersama-sama mengelola mineral kritis yang kami miliki,” ujar Bahlil.

Indonesia dikenal memiliki cadangan mineral strategis yang besar dan penting bagi pengembangan teknologi energi bersih. Bahlil menyebutkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 43 persen cadangan nikel dunia, serta menjadi salah satu produsen utama bauksit, timah, dan tembaga. Selain itu, Indonesia juga memiliki potensi logam tanah jarang yang dapat mendukung pengembangan teknologi energi masa depan.

“Jika kerja sama ini dapat diimplementasikan secara optimal, saya pikir ini akan menjadi langkah yang sangat baik bagi kedua negara,” tambahnya.

Sementara itu, Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang Ryosei Akazawa menekankan pentingnya memperkuat kolaborasi internasional di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.

Menurutnya, kerja sama lintas negara menjadi kunci untuk menjaga stabilitas pasokan energi dan meningkatkan ketahanan energi di kawasan.

“Dalam situasi krisis global saat ini, penting bagi kita untuk memperkuat kerja sama demi menjaga ketahanan energi. Jepang juga telah menyiapkan cadangan energi strategis sebagai langkah antisipasi,” ujar Akazawa.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah Indonesia atas dukungan terhadap izin ekspor Liquefied Natural Gas (LNG) ke Jepang. Jepang, kata Akazawa, berkomitmen untuk terus mendukung berbagai proyek kerja sama energi dengan Indonesia.

Salah satu proyek yang disoroti adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Legok Nangka yang menjadi bagian dari kemitraan energi kedua negara.

Selain mineral kritis, kerja sama juga mencakup pengembangan teknologi energi nuklir dengan tetap mengedepankan standar keselamatan tinggi. Melalui kolaborasi ini, Indonesia diharapkan dapat memanfaatkan pengalaman dan teknologi Jepang dalam pengembangan energi rendah karbon.

Ke depan, kedua negara juga akan memperluas diskusi mengenai penguatan rantai pasok energi, termasuk pasokan LNG dan batu bara, serta percepatan proyek transisi energi di bawah kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC).

Sejumlah proyek strategis yang turut dibahas dalam kerangka tersebut antara lain operasional Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Sarulla serta penyelesaian proyek PLTSa Legok Nangka.

Melalui kerja sama ini, Indonesia dan Jepang berharap dapat memperkuat ketahanan energi regional sekaligus mempercepat upaya dekarbonisasi di kawasan Indo-Pasifik.

(FA/FZA)