YOGYAKARTA, ifakta.co – Giga Hidjrika Aura Adkhy, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), mengembangkan inovasi berbasis artificial intelligence (AI) bernama UGM-AICare (Aika).

Inovasi tersebut mengantarkannya meraih Juara Pertama (First Winner) kategori “Play Track” dalam kompetisi internasional EDU Chain Hackathon 2025 dengan total hadiah 250 ribu dollar Amerika Serikat.

Inspirasi pengembangan Aika muncul saat Giga mengikuti program pertukaran mahasiswa di University of Liverpool, Inggris, pada 2024.

Iklan

Ia melihat salah satu temannya yang memiliki keluhan kesehatan mental dapat dengan mudah mengakses layanan psikolog kampus hanya melalui percakapan di telepon seluler.

Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dengan di Indonesia, di mana jumlah psikolog belum sebanding dengan mahasiswa yang membutuhkan layanan, sehingga interaksi intensif seperti di luar negeri masih sulit terwujud.

Giga, yang merupakan mahasiswa Program Studi Teknologi Informasi Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi UGM, kemudian merancang Aika sebagai AI agent yang mampu menjadi jembatan antara mahasiswa dan psikolog.

“Motivasi proyek UGM-AICare ini selain untuk syarat kelulusan saya adalah untuk mendukung teman-teman mendapatkan proper mental health care,” katanya dalam rilis UGM, Rabu (4/3).

Aika dirancang sebagai layanan berbasis percakapan teks yang mampu menggali dan menganalisis keluhan psikologis pengguna. Sistem ini bekerja menyerupai metode psikolog, yakni melakukan eksplorasi melalui dialog untuk memahami kondisi pengguna secara komprehensif.

Jika keluhan tergolong ringan, Aika dapat memberikan saran mandiri seperti teknik pernapasan atau anjuran istirahat yang cukup. Namun, apabila diperlukan penanganan lebih lanjut, sistem akan langsung menghubungkan pengguna dengan psikolog profesional.

Berbeda dengan AI large language model (LLM) generatif yang cenderung bersifat responsif pasif, Aika dikembangkan sebagai AI agent yang lebih otonom.

Dari hasil percakapan, Aika akan menyusun rangkuman kondisi, penilaian awal, kemungkinan diagnosis, serta rekomendasi bantuan yang diteruskan kepada psikolog untuk ditindaklanjuti.

Dalam implementasinya, Aika melibatkan tiga peran utama, yakni mahasiswa sebagai pengguna layanan, psikolog atau konselor sebagai penerima laporan sekaligus pemberi tindak lanjut, serta admin yang mengelola sistem.

“Aika tidak menggantikan peran psikolog, melainkan berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan mahasiswa dengan konselor secara lebih cepat dan terarah, termasuk menghubungkan langsung ke psikolog apabila dibutuhkan pendampingan lebih lanjut,” ujarnya.

Selain mendukung tahap awal konseling, Aika juga memiliki fitur pemantauan pascakonseling melalui pengingat e-mail. Ke depan, platform ini direncanakan terintegrasi dengan Telegram untuk membentuk support group antar pengguna.

“Penggunaan AI sebagai lapisan awal layanan kesehatan mental membantu mengurangi hambatan psikologis seperti rasa malu, takut, atau ragu untuk bercerita,” paparnya.

Giga menilai pendekatan berbasis AI ini dapat menjaga privasi pengguna sekaligus memberi ruang yang lebih aman untuk menyampaikan keluhan. Ia berharap inovasi tersebut terus dikembangkan agar semakin banyak mahasiswa berani mengakses layanan psikologi sejak dini.

Keberhasilan Aika meraih juara dalam ajang internasional menjadi bukti bahwa inovasi teknologi karya mahasiswa Indonesia mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat.

Dengan pendekatan yang mengedepankan aksesibilitas, privasi, dan kolaborasi dengan tenaga profesional, Aika diharapkan menjadi solusi pendamping layanan kesehatan mental yang lebih inklusif dan responsif di lingkungan perguruan tinggi.

(naf/kho)