BANYUMAS, ifakta.co – Kematian Sutrimo, warga Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, masih menyisakan berbagai pertanyaan.

Pria yang dikenal bekerja sebagai kepala rumah tangga (karumga) di kediaman mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah itu meninggal dunia di Jakarta Selatan. Hingga kini, belum ada penjelasan resmi mengenai penyebab pasti kematiannya.

Di tengah beredarnya berbagai informasi, keluarga memilih menerima kepergian almarhum dan tidak berencana membawa persoalan tersebut ke ranah hukum. Sementara itu, warga sekitar hanya mengetahui informasi yang mereka peroleh dari pihak keluarga.

Iklan

Salah seorang tetangga Sutrimo mengatakan, kabar yang diterimanya menyebut almarhum diduga mengalami angin duduk. Informasi tersebut berasal dari adik Sutrimo yang sempat berkomunikasi dengannya sebelum peristiwa itu terjadi.

“Kata adiknya kena angin duduk,” ujar seorang tetangga, Selasa (28/7).

Menurut warga, Sutrimo dikenal sebagai sosok pendiam dan tidak banyak bergaul. Karena itu, kabar meninggalnya membuat banyak tetangga terkejut.

Tetangga tersebut juga mengungkapkan bahwa beberapa jam sebelum ditemukan tidak sadarkan diri, Sutrimo masih sempat berkirim pesan melalui WhatsApp dengan adiknya.

“Sekitar pukul 03.00-04.00 WIB masih WhatsApp-an (dengan adiknya), katanya sempat kirim gambar habis makan,” katanya.

Informasi itu menjadi percakapan warga karena menunjukkan Sutrimo masih sempat beraktivitas normal sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi kritis.

Berdasarkan informasi yang beredar, Sutrimo ditemukan tidak sadarkan diri di depan Mordent Aesthetic Clinic, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Kamis (23/7) pagi. Petugas kemudian membawanya ke RS Muhammadiyah Taman Puring untuk memperoleh penanganan medis. Namun, nyawanya tidak tertolong.

Kabar meninggalnya baru ramai beberapa hari kemudian setelah pesan berantai beredar melalui WhatsApp dan media sosial. Setelah proses administrasi selesai, jenazah dipulangkan ke Banyumas pada Kamis malam dan langsung dimakamkan di kampung halamannya.

Sempat Pulang Kampung Sebelum Meninggal

Sejumlah warga juga mengungkapkan bahwa Sutrimo sempat pulang ke Desa Wlahar sekitar sepekan sebelum meninggal dunia. Namun, tidak banyak tetangga yang mengetahui kapan ia kembali ke Jakarta.

“Seminggu sebelum kejadian sempat pulang, tapi tidak tahu berangkatnya lagi,” kata seorang warga.

Menurut warga tersebut, masyarakat baru mengetahui kabar duka pada Kamis pagi.

“Orang sini tahunya meninggal Kamis sekitar pukul 09.00 WIB,” ujarnya.

Sementara itu, pihak keluarga meminta masyarakat menghormati suasana duka yang masih mereka rasakan. Perwakilan keluarga bernama Ardi mengatakan kondisi ibu almarhum sedang sakit sehingga keluarga belum bersedia menerima banyak tamu, termasuk wartawan.

“Mohon maaf, ibu (almarhum Sutrimo) sedang sakit, sekarang kondisinya lagi tenang.”

“Mohon maaf kami tidak bisa menerima kedatangan wartawan, keluarga sudah mengikhlaskan,” ucap Ardi.

Keluarga juga memastikan tidak akan melaporkan peristiwa tersebut kepada kepolisian. Mereka memilih fokus menjalani masa berkabung dan menghormati kepergian almarhum.

Peristiwa ini mendapat perhatian publik karena Sutrimo diketahui bekerja sebagai kepala rumah tangga di kediaman mantan Jampidsus Febrie Adriansyah. Selain itu, waktu kematiannya bertepatan dengan mencuatnya berbagai pemberitaan mengenai dugaan kasus korupsi yang menyeret nama Febrie Adriansyah. Meski demikian, hingga kini belum ada keterangan resmi yang mengaitkan kematian Sutrimo dengan perkara tersebut.

Sampai saat ini, penyebab pasti meninggalnya Sutrimo belum diumumkan secara resmi oleh pihak berwenang. Oleh karena itu, informasi mengenai penyebab kematian masih sebatas keterangan dari keluarga maupun warga sekitar.

Sementara itu, keluarga berharap masyarakat menghormati privasi mereka dan tidak berspekulasi selama belum ada penjelasan resmi mengenai peristiwa tersebut.

(naf/lex)

Iklan