JAKARTA, ifakta.co – Bahasa Indonesia terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Perubahan tersebut tidak hanya terlihat dari kosakata, tetapi juga dari sistem penulisannya.

Jika kamu pernah menemukan kata seperti “goeroe”, “djalan”, atau “sjair”, itu merupakan bentuk penulisan lama yang dahulu digunakan dalam Bahasa Indonesia.

Seiring waktu, pemerintah dan para ahli bahasa terus menyempurnakan aturan penulisan agar lebih mudah dipahami masyarakat. Karena itu, ejaan Bahasa Indonesia mengalami beberapa kali perubahan hingga akhirnya menggunakan EYD Edisi V seperti sekarang.

Iklan

Lalu, bagaimana perjalanan panjang perkembangan ejaan Bahasa Indonesia? Simak penjelasannya berikut ini.

Pengertian Ejaan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ejaan merupakan kaidah yang mengatur cara menggambarkan bunyi bahasa ke dalam bentuk tulisan. Selain itu, ejaan juga mengatur penggunaan huruf, penulisan kata, hingga tanda baca.

Dengan memahami ejaan, seseorang dapat menulis lebih rapi dan jelas. Oleh sebab itu, penggunaan ejaan yang tepat sangat penting dalam komunikasi tertulis agar tidak menimbulkan salah tafsir.

Fungsi Ejaan dalam Bahasa Indonesia

Ejaan memiliki peran penting dalam penggunaan Bahasa Indonesia sehari-hari. Selain membantu penulisan menjadi lebih teratur, ejaan juga menjaga keseragaman bahasa di seluruh Indonesia.

Berikut beberapa fungsi ejaan Bahasa Indonesia:

  • Menjadi pedoman dalam penulisan bahasa yang benar dan baku.
  • Membantu pembaca memahami isi tulisan dengan lebih mudah.
  • Menjaga konsistensi penggunaan kosakata dan tanda baca.
  • Menjadi dasar pembentukan istilah baru dalam Bahasa Indonesia.
  • Menyaring unsur bahasa asing agar sesuai dengan kaidah bahasa nasional.
  • Menunjukkan profesionalisme dan ketelitian penulis.

Sejarah Perkembangan Ejaan Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan ejaan. Setiap perubahan bertujuan untuk menyederhanakan aturan penulisan dan menyesuaikannya dengan perkembangan bahasa masyarakat.

1. Ejaan Van Ophuijsen

Ejaan Van Ophuijsen merupakan pedoman penulisan pertama yang berlaku di Indonesia sejak tahun 1901. Penyusunan ejaan ini melibatkan Charles Adrian van Ophuijsen bersama Engku Nawawi dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Pada masa itu, sistem penulisannya masih banyak dipengaruhi bahasa Belanda sehingga beberapa bentuk katanya terlihat berbeda dengan ejaan modern saat ini.

Pada masa itu, penulisan masih dipengaruhi bahasa Belanda sehingga terlihat cukup rumit. Misalnya:

  • goeroe → guru
  • boekoe → buku
  • djoedjoer → jujur

Huruf “oe” digunakan untuk bunyi “u”, sedangkan “dj” digunakan untuk bunyi “j”.

2. Ejaan Soewandi atau Ejaan Republik

Setelah Indonesia merdeka, pemerintah memperbarui sistem penulisan melalui Ejaan Soewandi pada tahun 1947. Ejaan ini dikenal juga sebagai Ejaan Republik.

Perubahan paling terkenal dalam ejaan ini adalah pergantian huruf “oe” menjadi “u”. Selain itu, tanda apostrof mulai dihapus.

Contohnya:

  • boekoe → buku
  • ra’yat → rakyat
  • ma’moer → makmur

Karena lebih sederhana, masyarakat lebih mudah menggunakan ejaan ini.

3. Ejaan Pembaharuan

Pada tahun 1954, muncul gagasan penyempurnaan ejaan melalui Kongres Bahasa Indonesia II di Medan. Tokoh yang mengusulkan pembaruan ini adalah Mohammad Yamin.

Ejaan ini mengusung prinsip “satu fonem satu huruf”. Selain itu, beberapa bentuk penulisan juga mulai disederhanakan. Namun, pemerintah tidak pernah meresmikan ejaan ini secara nasional.

4. Ejaan Melindo

Ejaan Melindo merupakan hasil kerja sama antara Indonesia dan Malaysia pada tahun 1959. Nama “Melindo” berasal dari gabungan Melayu dan Indonesia.

Tujuan utama ejaan ini ialah menyamakan sistem penulisan di kedua negara. Sayangnya, kondisi politik saat itu membuat ejaan ini gagal diterapkan.

5. Ejaan Baru atau Ejaan LBK

Pada tahun 1967, Lembaga Bahasa dan Kesusastraan merancang Ejaan Baru sebagai penyempurnaan dari Ejaan Melindo.

Dalam ejaan ini, mulai diperkenalkan penyesuaian kata serapan asing agar lebih sesuai dengan Bahasa Indonesia. Contohnya:

  • extra → ekstra
  • taxi → taksi

Ejaan ini kemudian menjadi dasar lahirnya EYD.

6. Ejaan yang Disempurnakan (EYD)

Pada tahun 1972, pemerintah resmi memberlakukan Ejaan yang Disempurnakan atau EYD. Ejaan ini menjadi pedoman utama Bahasa Indonesia selama puluhan tahun.

EYD membawa banyak perubahan penting, di antaranya:

  • tj → c
    Contoh: tjepat → cepat
  • dj → j
    Contoh: djalan → jalan
  • nj → ny
    Contoh: njata → nyata
  • ch → kh
    Contoh: achir → akhir

Selain itu, huruf seperti f, v, z, q, dan x resmi digunakan dalam Bahasa Indonesia.

7. PUEBI

Pada tahun 2015, pemerintah mengganti EYD menjadi Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia atau PUEBI.

Secara umum, aturan dalam PUEBI masih mirip dengan EYD. Namun, ada beberapa penyesuaian baru, seperti penggunaan huruf kapital, diftong, dan tanda baca.

Contohnya:

  • Penambahan diftong “ei”
  • Penggunaan huruf kapital pada julukan
  • Penggunaan cetak tebal untuk penegasan tertentu

PUEBI membantu masyarakat memahami aturan bahasa secara lebih rinci dan modern.

8. EYD Edisi V

Saat ini, Indonesia menggunakan EYD Edisi V yang mulai berlaku sejak 16 Agustus 2022. Pedoman terbaru ini merupakan penyempurnaan dari PUEBI.

Beberapa perubahan penting dalam EYD Edisi V meliputi:

  • Penambahan monoftong “eu”
  • Penulisan waktu menggunakan tanda titik dua
  • Judul karya tulis dicetak miring tanpa tanda petik
  • Awalan “Maha” ditulis kapital jika merujuk pada sifat Tuhan

Perubahan tersebut dibuat agar penulisan Bahasa Indonesia semakin praktis, jelas, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Mengapa Perkembangan Ejaan Penting?

Perubahan ejaan bukan sekadar mengganti huruf atau tanda baca. Lebih dari itu, perkembangan ejaan membantu masyarakat menggunakan Bahasa Indonesia secara lebih efektif dan seragam.

Selain mempermudah komunikasi, ejaan juga menjaga identitas Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Karena itu, memahami sejarah ejaan dapat membuat kita lebih menghargai perkembangan bahasa nasional.

Kesimpulan

Perjalanan ejaan Bahasa Indonesia menunjukkan bahwa bahasa selalu berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat. Mulai dari Ejaan Van Ophuijsen hingga EYD Edisi V, setiap perubahan bertujuan menyederhanakan penulisan dan memperjelas komunikasi.

Oleh sebab itu, mempelajari ejaan tidak hanya penting bagi pelajar, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin menulis dengan baik dan benar. Dengan menggunakan ejaan yang tepat, kita ikut menjaga kualitas Bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa.

(naf/lex)