JAKARTA, ifakta.co – Arus informasi di media sosial bergerak semakin cepat. Namun, kemudahan tersebut juga memicu penyebaran hoaks dan disinformasi dalam skala besar. Menariknya, kelompok yang paling rentan menyebarkan informasi palsu ternyata bukan gen z, melainkan generasi milenial.
Pengurus DPW Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Malang, Anak Agung Ayu Mira, menilai Generasi Milenial masih sering membagikan informasi tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu.
Menurut Mira, banyak pengguna media sosial dari kalangan generasi Milenial langsung meneruskan pesan yang mereka terima tanpa melakukan verifikasi sumber. Kebiasaan tersebut akhirnya mempercepat penyebaran hoaks di ruang digital.
Iklan
Mira melihat Gen Z memiliki pola komunikasi yang berbeda daripada generasi sebelumnya. Anak muda saat ini cenderung lebih sadar privasi dan lebih selektif saat membagikan informasi pribadi di media sosial.
“Kalau Gen Z sekarang justru lebih pintar dan lebih menjaga privasi mereka. Gen Z kalau posting itu lebih banyak menunjukkan hobinya, bukan identitas lengkap. Yang mengkhawatirkan justru Generasi Milenial yang sering sharing tanpa disaring,” kata Mira, dikutip dari RRI, Rabu (20/5).
Menurutnya, Gen Z lebih memahami risiko penyalahgunaan data pribadi di internet. Karena itu, mereka lebih jarang mengunggah informasi sensitif secara terbuka.
Sebaliknya, banyak pengguna dari kalangan Generasi Milenial masih terbiasa mengunggah data pribadi, aktivitas harian, hingga informasi keluarga tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Mira menjelaskan bahwa kebiasaan oversharing membuat seseorang lebih rentan terkena penipuan digital. Pelaku scam biasanya memanfaatkan data pribadi yang tersebar di media sosial untuk menjalankan aksinya.
Selain itu, penyalahgunaan identitas juga semakin mudah terjadi ketika seseorang terlalu banyak membagikan informasi pribadi secara online.
Karena itu, Mafindo meminta masyarakat lebih berhati-hati saat menggunakan media sosial. Pengguna internet perlu membatasi informasi pribadi yang mereka unggah agar tidak dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab.
Literasi Digital Harus Menjangkau Semua Usia
Mafindo menilai edukasi literasi digital tidak boleh hanya menyasar anak muda. Orang tua dan kelompok usia dewasa juga perlu memahami etika digital serta cara mengenali hoaks.
“Jadi jangan hanya anak muda yang diedukasi. Orang tua juga perlu belajar etika dan keamanan digital, tidak oversharing,” ujar Mira.
Ia menilai banyak masyarakat masih terlalu mudah percaya pada informasi yang beredar di media sosial maupun aplikasi percakapan. Padahal, tidak semua konten di internet memuat fakta yang benar.
Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa sumber berita sebelum membagikan ulang sebuah informasi.
Mira juga mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap pesan berantai di WhatsApp. Menurutnya, pesan yang terus diteruskan berkali-kali sering memuat informasi palsu atau penipuan.
“Kalau ada pesan forward berkali-kali itu lebih baik jangan percaya dulu karena sering kali itu hoaks atau penipuan,” ujarnya.
Ia menyarankan masyarakat mencari informasi pembanding dari media terpercaya sebelum mempercayai isi pesan tersebut.
Hoaks Politik dan Kesehatan Masih Mendominasi
Mira menyebut isu politik masih mendominasi penyebaran hoaks di media sosial. Selain itu, konten kesehatan dan pendidikan juga sering menjadi sasaran manipulasi informasi.
Banyak pihak memanfaatkan judul bombastis atau clickbait untuk menarik perhatian pengguna internet. Akibatnya, masyarakat sering langsung percaya tanpa membaca isi informasi secara menyeluruh.
“Termasuk tips kesehatan dan iklan-iklan clickbait yang judulnya bombastis tapi isinya tidak sesuai,” tuturnya.
Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terpancing narasi provokatif.
Selain membahas hoaks, Mira juga menyoroti fenomena phubbing. Kondisi tersebut muncul ketika seseorang lebih fokus pada gadget daripada orang di sekitarnya.
Menurutnya, kebiasaan itu dapat mengurangi kualitas komunikasi dan hubungan sosial. Bahkan, penggunaan gadget secara berlebihan juga bisa memicu kecanduan digital.
Di sisi lain, perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI membuat manipulasi informasi semakin sulit dikenali. Karena itu, masyarakat perlu lebih cermat saat menerima konten digital.
Mafindo mengajak masyarakat menggunakan media sosial secara lebih bijak dan bertanggung jawab. Sebelum membagikan informasi, pengguna internet perlu memastikan sumber berita berasal dari media terpercaya.
Selain itu, masyarakat juga perlu membatasi penyebaran data pribadi di internet agar terhindar dari risiko penipuan digital.
Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan menyaring konten menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran hoaks dan disinformasi di ruang digital.
(naf/lex)





