SEMARANG, ifakta.co – Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Universitas Diponegoro (UNDIP) bersama Center for Plasma Research menggelar kuliah umum bertajuk “Indonesian Plasma Research Consortium (IPRC) Development: Toward National Plasma Technology Sovereignty and Global Competitiveness” pada Kamis, (16/4). Kegiatan ini berlangsung di Aula Lantai 6 Gedung Acintya Prasada FSM UNDIP.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian agenda IPRC yang berlangsung pada 14–17 April 2026.

Selain itu, panitia menghadirkan berbagai agenda strategis, seperti diskusi kerja sama dengan Bursa Uludağ University, penandatanganan perjanjian kolaborasi, sesi berbagi bersama Center for Plasma Research, eksperimen plasma untuk pertanian, hingga kunjungan industri ke PT Dipo Technology. Dengan demikian, rangkaian ini tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga aplikatif.

Iklan

Dalam sambutannya, Wakil Dekan Sumber Daya FSM UNDIP, Dr. Eng. Adi Wibowo, menegaskan pentingnya penguasaan dasar keilmuan. Ia juga mendorong mahasiswa agar aktif mengembangkan diri dan memanfaatkan peluang riset.

“Ia menekankan pentingnya pemahaman dasar keilmuan sebagai fondasi agar mahasiswa mampu mengembangkan diri, membuka peluang akademik maupun profesional, serta berkontribusi dalam pengembangan riset dan teknologi plasma di masa depan.”

Teknologi Plasma untuk Industri dan Efisiensi Produksi

Pada sesi pertama, Prof. Dr. Kadir Çavdar dari Bursa Uludağ University memaparkan pemanfaatan plasma atmosfer dalam industri, khususnya pada material polimer seperti polypropylene (PP). Ia menjelaskan bahwa industri otomotif banyak menggunakan material ini, namun sering menghadapi kendala daya lekat.

Melalui teknologi plasma, peneliti mampu meningkatkan energi permukaan material sehingga proses pengecatan dan pelapisan menjadi lebih efektif. Selain itu, metode seperti plasma activation, flame activation, dan corona discharge mampu memperbaiki kualitas adhesi tanpa perlu lapisan tambahan.

Dengan pendekatan ini, industri dapat menghemat waktu produksi, mengurangi penggunaan bahan kimia, serta meningkatkan efisiensi. Oleh karena itu, teknologi plasma menjadi solusi yang relevan bagi kebutuhan industri modern.

Peran Strategis Plasma dalam Berbagai Sektor

Selanjutnya, Prof. Dr. Muhammad Nur, DEA, Guru Besar Fisika UNDIP, memaparkan perkembangan teknologi plasma dingin. Ia menjelaskan bahwa plasma merupakan wujud materi keempat yang memiliki potensi luas di berbagai sektor.

Ia menyoroti pemanfaatan plasma dalam bidang kesehatan, pangan, lingkungan, pertanian, hingga perikanan. Selain itu, tim peneliti UNDIP telah mengembangkan berbagai teknologi, seperti corona plasma, dielectric barrier discharge, hingga plasma jet.

Lebih lanjut, ia menjelaskan perjalanan panjang riset plasma di UNDIP sejak 1998 hingga berhasil menghasilkan berbagai inovasi berbasis ozon.

“Pengembangan ini juga berkaitan dengan SNI 8759:2019 tentang penyimpanan produk hortikultura pascapanen menggunakan teknologi ozon sebagai salah satu bentuk kontribusi UNDIP dalam standardisasi teknologi nasional.”

Teknologi tersebut mampu memperpanjang masa simpan produk hortikultura, menekan cemaran mikroorganisme, serta mengurangi residu pestisida. Dengan demikian, inovasi ini memberikan dampak langsung bagi sektor pangan dan lingkungan.

Sinergi Kampus dan Industri Perkuat Hilirisasi

Selain akademisi, kegiatan ini juga menghadirkan perwakilan industri. President Director PT Dipo Technology, Azwar Awanta, memaparkan peran industri dalam mengembangkan hasil riset menjadi produk nyata.

Ia menekankan bahwa kolaborasi antara kampus dan industri sangat penting agar inovasi tidak berhenti pada tahap laboratorium. Sebaliknya, kerja sama ini mampu mendorong lahirnya produk yang aplikatif dan memiliki daya saing tinggi.

Di sisi lain, sesi dari David Setiadhi juga menunjukkan bagaimana ekosistem industri dan akademik di Türkiye saling terhubung untuk mendukung inovasi teknologi.

Komitmen UNDIP untuk Kedaulatan Teknologi

Melalui penyelenggaraan IPRC, UNDIP menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem riset yang kuat. Selain itu, kegiatan ini mempertemukan peneliti, mahasiswa, mitra internasional, dan industri dalam satu forum kolaboratif.

Ke depan, UNDIP akan melanjutkan agenda dengan kunjungan industri ke PT Dipo Technology. Kunjungan ini akan memperlihatkan implementasi teknologi plasma secara langsung, mulai dari sistem IPAL hingga pengembangan medical ozone.

Dengan langkah ini, UNDIP tidak hanya mendorong inovasi, tetapi juga mempercepat hilirisasi teknologi. Pada akhirnya, upaya ini diharapkan mampu memperkuat kedaulatan teknologi plasma nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.

(naf/kho)