JAKARTA, ifakta.co – Perkembangan teknologi mengubah cara remaja berkomunikasi, belajar, dan membangun hubungan sosial. Kondisi ini menuntut orang tua untuk menyesuaikan pola pengasuhan tanpa mengabaikan nilai yang ingin mereka tanamkan kepada anak.

Psikolog Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Anita Aisah, M.Psi., Psikolog, menekankan pentingnya keseimbangan antara kasih sayang, ketegasan, dan konsistensi. Ketiga unsur tersebut membantu orang tua membimbing remaja menghadapi perubahan lingkungan sekaligus mempertahankan prinsip hidup.

Menurut Anita, orang tua perlu memahami tantangan yang muncul seiring perkembangan teknologi dan perubahan pergaulan. Oleh karena itu, mereka perlu membangun pendekatan pengasuhan yang relevan dengan kehidupan remaja masa kini.

Iklan

1. Bimbing Remaja Beradaptasi Tanpa Meninggalkan Prinsip Hidup

Remaja perlu mengembangkan kemampuan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Namun, kemampuan tersebut tetap perlu berjalan bersama pemahaman tentang nilai dan tanggung jawab.

Anita mengingatkan orang tua agar tidak selalu membandingkan kehidupan anak dengan pengalaman mereka pada masa lalu. Perbedaan lingkungan, teknologi, dan pola interaksi membuat setiap generasi menghadapi tantangan yang berbeda.

“Meskipun kondisinya sudah berubah, teknologinya semakin canggih, anak tetap adaptif, bisa menyesuaikan diri, tapi ada nilai yang dipegang,” ujar Anita.

Karena itu, orang tua perlu menjelaskan alasan di balik setiap aturan keluarga. Anak akan memiliki kesempatan untuk memahami tujuan sebuah batasan ketika orang tua mengajak mereka berdiskusi.

Sebaliknya, tuntutan untuk selalu patuh tanpa penjelasan berisiko membuat anak hanya mengikuti aturan karena takut terhadap hukuman. Padahal, pemahaman terhadap nilai dapat membantu remaja mempertimbangkan perilakunya secara mandiri.

2. Terapkan Disiplin Tanpa Mengandalkan Bentakan

Ketegasan tidak harus hadir melalui suara keras, ancaman, atau kemarahan. Orang tua dapat menetapkan batas perilaku secara jelas sambil tetap menghargai perasaan anak.

Anita menilai cara penyampaian pesan turut menentukan keberhasilan komunikasi dalam keluarga. Orang tua perlu memperhatikan pilihan kata, nada bicara, dan situasi ketika mereka menegur anak.

“Pengasuhan itu bukan hanya kalimatnya saja yang sampai ke anak. Tapi bagaimana kalimat itu diberikan,” katanya.

Dengan pendekatan tersebut, orang tua dapat membedakan perasaan anak dari tindakannya. Remaja boleh merasa kecewa, marah, atau tidak setuju. Namun, mereka tetap perlu belajar menyampaikan perasaan tanpa menyakiti orang lain atau melanggar kesepakatan keluarga.

Selain itu, orang tua perlu menerapkan aturan secara konsisten. Jika keluarga membatasi penggunaan ponsel pada waktu belajar, misalnya, orang tua perlu menjelaskan tujuan aturan tersebut dan membantu anak menjalankannya.

Pendekatan yang tenang bukan berarti membiarkan perilaku bermasalah. Sebaliknya, orang tua tetap perlu memberikan konsekuensi yang masuk akal dan sesuai dengan kesepakatan.

3. Tunjukkan Keteladanan melalui Kebiasaan Sehari-hari

Nasihat akan lebih bermakna ketika anak melihat orang tua menjalankan pesan yang sama. Oleh sebab itu, orang tua perlu memeriksa kesesuaian antara ucapan dan tindakan mereka.

Anita mencontohkan orang tua yang melarang anak merokok, tetapi masih melakukan kebiasaan tersebut di rumah. Contoh lainnya muncul ketika orang tua membatasi penggunaan ponsel anak, sedangkan mereka sendiri terus menatap layar sepanjang waktu.

“Anak itu lebih mudah melihat kegiatan sehari-harinya daripada ucapan orang tuanya,” ujar Anita.

Kebiasaan sehari-hari dapat membentuk pemahaman anak tentang perilaku yang dianggap wajar. Ketika orang tua menunjukkan perilaku yang bertentangan dengan nasihatnya, anak dapat kesulitan memahami alasan di balik aturan keluarga.

Karena itu, orang tua perlu memulai perubahan dari diri sendiri. Mereka dapat menunjukkan kebiasaan menggunakan teknologi secara bijak, menghargai orang lain, mengelola emosi, serta menepati janji.

Keteladanan juga memberi kesempatan bagi orang tua untuk membangun hubungan yang lebih setara tanpa menghilangkan tanggung jawab mereka sebagai pendamping anak.

4. Libatkan Ayah dan Ibu dalam Pengasuhan

Pengasuhan remaja membutuhkan keterlibatan kedua orang tua. Anita mengingatkan keluarga agar tidak menyerahkan seluruh tanggung jawab mendampingi anak kepada ibu, sementara ayah hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan ekonomi.

Menurutnya, ayah juga perlu terlibat dalam pekerjaan rumah, komunikasi keluarga, dan pendampingan perkembangan anak.

“Meskipun putra kita laki-laki ya memang kita didik sebagai pemimpin ya, tapi pemimpin yang ringan tangan membantu pekerjaan istrinya. Dan terlibat di dalam pengasuhan,” ujarnya.

Keterlibatan ayah dan ibu dapat membantu anak melihat contoh kerja sama, tanggung jawab, serta penghargaan terhadap anggota keluarga. Selain itu, pembagian peran yang lebih seimbang membantu orang tua menjaga konsistensi dalam menerapkan aturan.

Keduanya juga perlu membicarakan perbedaan pendapat mengenai pola asuh secara terbuka. Dengan begitu, anak tidak terus-menerus menerima pesan yang saling bertentangan ketika menghadapi persoalan yang sama.

5. Evaluasi Pola Asuh dan Terus Belajar Memahami Anak

Mengasuh remaja bukan sekadar mengarahkan perilaku anak. Orang tua juga perlu mengevaluasi cara mereka berkomunikasi, menyelesaikan konflik, dan merespons perubahan kebutuhan anak.

Anita mendorong orang tua untuk terus belajar serta membangun kedekatan emosional dengan remaja. Kasih sayang tetap menjadi bagian penting dalam pengasuhan, tetapi orang tua juga perlu menetapkan batas yang jelas.

Orang tua dapat memulai langkah tersebut melalui percakapan rutin, kebiasaan mendengarkan tanpa langsung menghakimi, dan kesediaan mengakui kesalahan. Selanjutnya, mereka dapat mengajak anak membahas persoalan digital, pertemanan, tanggung jawab, dan konsekuensi dari setiap pilihan.

(naf/sib)

Iklan