MEDAN, ifakta.co – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengganggu jarak pandang di sejumlah wilayah Sumatera Utara (Sumut). Asap yang menyelimuti wilayah tersebut diduga terbawa angin dari kawasan Sumatera bagian selatan dan Kalimantan.
Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan, Hendro Nugroho, mengatakan citra satelit menunjukkan adanya sebaran asap di wilayah Sumatera Utara pada Kamis (15/10) pagi.
” Berdasarkan pemantauan citra satelit sebaran asap di wilayah Sumatra pada 15 Oktober 2026 pukul 08.00 WIB, terdeteksi sebaran asap di wilayah Sumatera Utara, dari analisis angin permukaan, angin bertiup dari arah timur – tenggara menuju barat laut – utara,” ujar Hendro, Kamis (15/10).
Iklan
Menurut Hendro, pola pergerakan angin tersebut mengindikasikan kemungkinan asap berasal dari wilayah Sumatera bagian selatan dan Pulau Kalimantan. Massa udara membawa asap menuju Sumatera Utara.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa asal asap belum dapat dipastikan hanya berdasarkan pengamatan tersebut. BMKG masih memerlukan analisis lanjutan dengan mempertimbangkan dinamika atmosfer dan data pendukung lainnya.
“Namun demikian, penentuan sumber asal asap secara pasti memerlukan analisis lebih lanjut dengan mempertimbangkan dinamika atmosfer dan data pendukung lainnya,” urainya.
Hendro menjelaskan, pemantauan pada Kamis (15/10) menunjukkan kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatera Utara berada dalam kategori sedang hingga tidak sehat. Kondisi ini perlu diwaspadai, terutama oleh masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.
“Hasil pengamatan Stasiun Meteorologi Kualanamu, Stasiun Meteorologi Aek Godang, dan Stasiun Meteorologi Silangit pada 15 Oktober 2026 pukul 09.00 WIB juga menunjukkan penurunan jarak pandang berkisar antara 1-3 km,” jelasnya.
BMKG mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati saat berkendara di wilayah yang terdampak kabut asap. Pengendara diminta mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, serta menyalakan lampu kendaraan sesuai kebutuhan untuk mengurangi risiko kecelakaan.
Selain itu, warga disarankan membatasi kegiatan di luar ruangan apabila kualitas udara memburuk. Penggunaan masker yang sesuai juga dianjurkan untuk membantu mengurangi paparan partikel asap.
“Masyarakat juga diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kualitas udara memburuk dan menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel asap,” ujarnya.
Hendro turut meminta para kepala daerah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, dan Polri di wilayah masing-masing. Koordinasi tersebut diperlukan untuk mengantisipasi dampak sebaran asap sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.
“Masyarakat diharapkan terus mengikuti informasi resmi yang disampaikan oleh Balai Besar Meteorologi Klimatologi Geofisika Wilayah I Medan,” kata dia.
(sib/sib)







