JAKARTA, ifakta.co – Peredaran kartrid vape yang mengandung etomidate mulai mendapat perhatian setelah aparat menemukan sejumlah kasus penyalahgunaan zat tersebut di Indonesia. Etomidate sendiri merupakan obat anestesi yang tenaga medis gunakan untuk membantu proses induksi anestesi.
Masalah muncul ketika seseorang menggunakan obat tersebut tanpa pengawasan tenaga kesehatan. Penggunaan melalui vape juga membuat pengguna sulit mengetahui jumlah etomidate yang masuk ke tubuh.
Kondisi itu dapat memicu efek yang sulit diprediksi. Pengguna bahkan berisiko mengalami penurunan kesadaran dan gangguan pernapasan. Pada kondisi tertentu, etomidate dapat memicu apnea atau berhentinya napas untuk sementara.
Iklan
Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat penyitaan 8.276,15 mililiter etomidate dan 3.485 kartrid vape sepanjang 2026. Data yang dihimpun ANTARA menyebut barang bukti tersebut berkaitan dengan 26 kasus di sejumlah wilayah Indonesia.
Kasus etomidate kembali menjadi perhatian setelah Satuan Reserse Narkoba Polresta Bandara Soekarno-Hatta mengamankan figur media sosial Julia Prastini atau Jule pada Senin (14/9). Polisi menyatakan hasil pemeriksaan urine menunjukkan Jule positif mengonsumsi etomidate.
Namun, polisi tidak menetapkan Jule sebagai tersangka. Polisi menempatkannya sebagai pengguna atau korban penyalahgunaan untuk menjalani asesmen dan rehabilitasi melalui pendekatan keadilan restoratif.
Sementara itu, polisi menetapkan tiga orang lain sebagai tersangka dalam jaringan peredaran kartrid yang mengandung etomidate tersebut.
Pakar Farmasi Klinik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), apt. Puguh Novi Arsito, M.Sc., menjelaskan bahwa etomidate termasuk obat anestesi umum intravena. Tenaga medis biasanya menggunakan obat tersebut untuk memulai proses anestesi sebelum operasi atau tindakan medis tertentu.
Etomidate memiliki onset yang cepat dan durasi efek yang relatif singkat. Meski demikian, karakteristik tersebut tidak membuat etomidate aman untuk penggunaan bebas.
“Etomidate sebenarnya merupakan obat anestesi umum intravena. Biasanya obat ini digunakan untuk induksi anestesi sebelum operasi. Efeknya relatif aman dibandingkan beberapa anestesi lain, tetapi aman dalam konteks pengawasan medis. Pemberiannya harus disertai pemantauan napas, jantung, dan kondisi pasien lainnya,” jelas Puguh.
Dalam pelayanan medis, tenaga kesehatan menghitung dosis etomidate berdasarkan kondisi pasien. Mereka juga memantau fungsi pernapasan, tekanan darah, denyut jantung, dan tingkat kesadaran selama pemberian obat.
Karena itu, penggunaan medis sangat berbeda dengan pemakaian etomidate melalui kartrid vape ilegal. Pengguna tidak mengetahui konsentrasi etomidate dalam cairan tersebut. Mereka juga tidak mengetahui bahan pelarut atau zat lain yang mungkin ikut masuk ke dalam tubuh.
Etomidate Dapat Menekan Sistem Saraf dan Pernapasan
Etomidate bekerja pada sistem saraf pusat, terutama melalui reseptor GABA-A di otak. Mekanisme tersebut menekan aktivitas saraf sehingga seseorang dapat mengalami penurunan kesadaran dalam waktu relatif cepat.
Dalam penggunaan medis, etomidate memang memiliki pengaruh terhadap sistem kardiovaskular yang relatif lebih ringan daripada sejumlah obat anestesi lain. Namun, obat ini tetap dapat menimbulkan efek samping pada sistem pernapasan.
Efek tersebut antara lain hipoventilasi atau penurunan ventilasi paru. Selain itu, pengguna dapat mengalami penyempitan jalan napas hingga apnea.
Apnea berarti seseorang berhenti bernapas untuk sementara. Kondisi tersebut dapat menjadi keadaan darurat ketika tubuh tidak memperoleh oksigen yang cukup.
Penggunaan melalui vape juga membuat risiko semakin sulit diperkirakan. Konsentrasi zat, ukuran aerosol, bahan pelarut, frekuensi penggunaan, dan campuran zat lain dapat memengaruhi jumlah etomidate yang masuk ke tubuh.
“Ketika efek sedasi atau kehilangan kesadaran dirasakan, dosisnya lama-kelamaan dapat dinaikkan hingga mencapai tingkat toksik. Pada kondisi tersebut, salah satu fungsi yang dapat terdampak ialah pernapasan. Meskipun efek obatnya relatif singkat, berhentinya napas selama beberapa menit sudah sangat berbahaya,” tutur Puguh.
Selain itu, durasi efek etomidate yang relatif singkat dapat mendorong penggunaan berulang. Ketika efek sedasi mulai berkurang, seseorang dapat kembali menggunakan zat tersebut untuk mendapatkan sensasi serupa.
Pola tersebut meningkatkan paparan etomidate. Risiko keracunan pun semakin sulit diperkirakan, terutama ketika pengguna tidak mengetahui konsentrasi zat dalam kartrid.
Risiko juga dapat meningkat ketika seseorang mencampurkan etomidate dengan alkohol, obat penenang, atau zat lain yang sama-sama menekan sistem saraf pusat.
Sejumlah laporan medis mengenai penyalahgunaan etomidate melalui rokok elektronik juga mengaitkan penggunaannya dengan gangguan hormon adrenal dan penurunan kadar kalium dalam darah. Kondisi tersebut dapat memicu kelemahan otot serta gangguan kesehatan lain.
Karena itu, masyarakat tidak boleh menganggap hilangnya kesadaran sebagai efek rekreasional yang aman. Kondisi tersebut justru menunjukkan bahwa etomidate telah memengaruhi sistem saraf pusat.
Dari sisi regulasi, pemerintah memasukkan etomidate ke dalam Narkotika Golongan II melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2025 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika.
Pemerintah menetapkan aturan tersebut pada 21 November 2025 dan memberlakukannya mulai 28 November 2025. Penggolongan itu mengikuti perhatian terhadap potensi penyalahgunaan dan risiko etomidate bagi kesehatan masyarakat.
Puguh mengatakan perubahan status tersebut membuat pengawasan terhadap peredaran etomidate semakin ketat. Penggunaan secara legal harus mengikuti ketentuan pelayanan kesehatan.
“Melalui jalur legal, obat ini tidak mungkin diperoleh secara sembarangan, baik melalui apotek maupun industri bahan kimia obat. Hal yang perlu diperkuat sekarang ialah peran pemerintah, BPOM, kepolisian, dan BNN dalam mengawasi serta menindak peredaran melalui jalur ilegal,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan etomidate tanpa pengawasan medis. Penggunaan berulang dapat mendorong peningkatan paparan hingga keracunan.
Masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap kartrid vape yang memiliki isi dan sumber tidak jelas. Jika seseorang mengalami penurunan kesadaran, napas melambat, kesulitan bernapas, atau tidak merespons setelah menggunakan zat tersebut, segera cari pertolongan medis darurat.
(naf/lex)



