CILACAP, ifakta.co – Sebanyak 361 siswa SMAN 1 Sampang, Kabupaten Cilacap, mengalami sejumlah keluhan kesehatan pada Rabu (23/9). Para siswa melaporkan gejala seperti mual, pusing, sakit perut, hingga diare.
Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kabupaten Cilacap langsung mengirim tim untuk menangani para siswa. Petugas juga mengambil sampel makanan dan air dari sekolah untuk mencari penyebab keluhan tersebut.
Kepala Dinkes PPKB Kabupaten Cilacap Hasanuddin mengatakan keluhan muncul pada siswa dari seluruh tingkat kelas. Rinciannya mencakup 108 siswa kelas 10, 125 siswa kelas 11, dan 128 siswa kelas 12.
Iklan
“Yang mengalami keluhan itu kelas 10 ada 108 siswa, kelas 11 ada 125, dan kelas 12 ada 128,” jelas Hasanuddin.
Petugas kemudian memberikan penanganan sesuai kondisi masing-masing siswa. Sebanyak 70 siswa memperoleh pengobatan di sekolah.
Selanjutnya, 15 siswa menjalani rawat jalan di Puskesmas Sampang. Enam siswa lainnya menjalani rawat inap. Sementara itu, 19 siswa mendapat rujukan ke RSUD Cilacap.
Dinkes PPKB belum menyimpulkan penyebab keluhan tersebut. Karena itu, petugas mengambil sampel makanan dan air untuk pemeriksaan laboratorium.
Langkah tersebut penting untuk memastikan apakah keluhan siswa berkaitan dengan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau faktor lain. Petugas juga terus memantau kondisi siswa yang menjalani rawat jalan.
Selain itu, Dinkes PPKB membuka kemungkinan melakukan pemantauan pada siswa dari sekolah lain. Langkah tersebut akan dilakukan jika muncul laporan gejala serupa.
Siswa Alami Keluhan Setelah Konsumsi Menu MBG
Salah satu siswa kelas 10, Yesilia Suwita, mengaku mulai merasakan gangguan kesehatan pada malam hari setelah mengonsumsi menu MBG.
Saat itu, menu yang ia santap terdiri atas sayur kangkung, tahu, ayam rica-rica, dan semangka. Pada awalnya, Yesilia masih mencoba mengikuti kegiatan sekolah seperti biasa.
Namun, kondisi tubuhnya semakin menurun. Ia tetap berangkat sekolah pada pagi hari meski sudah merasakan mual, pusing, dan diare sejak malam sebelumnya.
“Semalam sudah mulai kerasa mual, pusing, sama diare. Tadi pagi dipaksakan berangkat sekolah, tapi tambah parah, sampai penglihatan kunang-kunang,” ujarnya.
Keluhan tersebut kemudian muncul bersamaan pada sejumlah siswa lain. Kondisi itu membuat pihak sekolah dan petugas kesehatan melakukan penanganan terhadap para siswa.
Salah satu orang tua siswa, Hary Sudrajat, mengaku menerima informasi mengenai kejadian tersebut sekitar pukul 13.30 WIB. Ia kemudian datang ke sekolah untuk menjemput anaknya.
Hary mengatakan anaknya mengeluhkan mual dan sakit perut. Setelah itu, ia membawa anaknya ke IGD RS Priscilia untuk mendapatkan pemeriksaan dokter.
“Saya dikabari siang ada peristiwa dugaan keracunan di SMA 1 Sampang. Saya ke sekolah, anak saya mengeluh mual dan sakit perut. Saya bawa ke IGD RS Priscilia untuk diperiksa dokter,” katanya.
Setelah mendapat penanganan, anak Hary menjalani rawat jalan. Meski kondisi anaknya membaik, ia tetap merasa khawatir terhadap dampak kejadian tersebut.
Hary juga berharap ada evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG. Ia memahami tujuan program tersebut untuk memenuhi kebutuhan gizi siswa. Namun, ia meminta pelaksana memperhatikan proses penyediaan dan distribusi makanan secara lebih ketat.
“Saya paham program ini untuk kebaikan, tapi kadang eksekusinya kurang tepat dan kurang pas,” ucapnya.
Hary juga meminta agar anaknya tidak kembali mengonsumsi menu MBG apabila kondisi tersebut memungkinkan. Ia memiliki kekhawatiran khusus karena anaknya tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti pendidikan kedinasan.
“Anak saya bercita-cita masuk sekolah kedinasan Akpol atau Akmil, dan sudah rutin berlatih fisik dengan teman-temannya. Sehingga saya khawatir, peristiwa ini mempengaruhi kondisi fisiknya,” ucapnya.
Sementara itu, Dinkes PPKB Cilacap masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Hasil tersebut nantinya akan membantu petugas memastikan sumber masalah dan menentukan langkah penanganan selanjutnya.
Pemerintah juga terus memantau kondisi para siswa yang mendapat perawatan. Selain itu, petugas akan memperhatikan laporan dari sekolah lain untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya keluhan serupa.
Hingga pemeriksaan selesai, dugaan keracunan akibat MBG masih memerlukan pembuktian lebih lanjut. Karena itu, hasil uji laboratorium menjadi salah satu acuan penting untuk mengetahui penyebab pasti keluhan yang dialami para siswa.
(naf/lex)



