JAKARTA, ifakta.co – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengurangi jarak pandang. Paparan asap juga membawa partikel kecil yang dapat terhirup dan masuk jauh ke dalam paru-paru.
Kondisi tersebut dapat mengganggu sistem pertahanan alami paru. Akibatnya, organ pernapasan menjadi lebih rentan terhadap infeksi yang kemudian dapat berkembang menjadi pneumonia.
Salah satu komponen kabut asap yang perlu mendapat perhatian adalah particulate matter (PM), khususnya PM2.5. Partikel ini memiliki diameter tidak lebih dari 2,5 mikrometer sehingga ukurannya sangat kecil.
Iklan
Karena ukurannya tersebut, PM2.5 dapat melewati saluran pernapasan bagian atas. Partikel kemudian bisa mencapai bagian paru yang lebih dalam, termasuk alveolus yang menjadi tempat pertukaran oksigen.
Pada kondisi normal, paru memiliki sistem pertahanan untuk menangkap dan mengeluarkan partikel asing serta mikroorganisme yang ikut masuk saat seseorang bernapas. Namun, paparan kabut asap dapat mengganggu mekanisme perlindungan tersebut.
Mengutip Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), saluran pernapasan memiliki mekanisme alami bernama mucociliary clearance. Mekanisme ini berfungsi sebagai sistem pembersih yang membantu menjaga saluran napas dari partikel dan mikroorganisme.
Lendir pada saluran pernapasan akan menangkap partikel dan mikroorganisme yang masuk. Setelah itu, silia atau rambut-rambut kecil di saluran napas menggerakkan lendir menuju tenggorokan agar dapat dikeluarkan atau ditelan.
Namun, paparan partikel dapat menurunkan efektivitas mekanisme tersebut. Produksi sejumlah zat antimikroba yang berperan melawan mikroorganisme juga dapat terganggu.
Akibatnya, bakteri dan partikel asing yang seharusnya segera dibersihkan dapat bertahan lebih lama di saluran pernapasan. Kondisi ini kemudian dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan kesehatan pada paru.
Selain mucociliary clearance, paru memiliki sel imun bernama alveolar macrophage atau makrofag alveolar. Sel tersebut bertugas menangkap dan menghancurkan mikroorganisme serta partikel asing yang masuk ke jaringan paru.
Mengutip Particle and Fibre Toxicology, paparan particulate matter dapat mengganggu kemampuan makrofag dalam melakukan fagositosis. Fagositosis merupakan proses ketika sel menangkap dan menghancurkan bakteri atau partikel asing.
Salah satu bakteri yang dapat terdampak oleh gangguan mekanisme tersebut adalah Streptococcus pneumoniae. Bakteri ini merupakan salah satu penyebab pneumonia.
Dengan demikian, kabut asap karhutla dapat memberikan dampak lebih serius daripada sekadar gangguan jarak pandang. Paparan PM2.5 dapat mencapai bagian dalam paru dan mengganggu sejumlah mekanisme pertahanan organ pernapasan.
Sederhananya, paparan asap membuat sistem pembersih dan pertahanan paru tidak bekerja seoptimal biasanya. Kondisi tersebut dapat membuat paru lebih mudah mengalami infeksi, termasuk infeksi yang dapat berkembang menjadi pneumonia.
(rom/cing)



