JAKARTA, ifakta.co – Sekitar 100 orang yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Bencana (AMPB) menggelar aksi solidaritas untuk masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7.
Massa AMPB menyampaikan aspirasi di kawasan Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (21/8/2026). Aksi dimulai sekitar pukul 15.00 WIB dan berlangsung hingga selesai.
AMPB menggelar aksi tersebut sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat NTT yang menjadi korban bencana. Mereka menilai tragedi kemanusiaan di Flores tidak boleh hanya menjadi perhatian pemerintah daerah.
Iklan
Menurut AMPB, pemerintah pusat, DPR RI, serta masyarakat luas juga perlu mengambil peran dalam membantu warga terdampak. Solidaritas nasional, kata mereka, harus diwujudkan melalui dukungan dan bantuan nyata.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam pemberitaan terkait penanganan bencana, jumlah korban meninggal dunia mencapai 78 orang. Sebanyak 953 orang mengalami luka-luka, sementara sekitar 95 ribu warga harus mengungsi akibat gempa tersebut.
Bencana itu juga menyebabkan kerusakan pada puluhan ribu rumah dan sejumlah fasilitas publik. Kondisi tersebut membuat masyarakat terdampak membutuhkan penanganan cepat, terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar selama berada di lokasi pengungsian.
Koordinator Lapangan AMPB, Isnan Gading, mengatakan aksi tersebut menjadi bentuk solidaritas mahasiswa sekaligus dorongan kepada pemerintah agar mempercepat penanganan dan pemulihan bagi korban gempa NTT.
“Kita adalah satu kesatuan sebagai bangsa Indonesia. Duka saudara-saudara kita di NTT adalah duka seluruh bangsa Indonesia. Karena itu, yang dibutuhkan saat ini adalah empati, solidaritas, dan bantuan nyata,” ujar Gading.
AMPB menilai warga yang masih berada di pengungsian membutuhkan perhatian serius. Kebutuhan pangan, layanan kesehatan, tempat tinggal sementara, hingga pemulihan fasilitas umum menjadi sejumlah persoalan yang harus segera ditangani.
Dalam aksinya, massa AMPB membawa sejumlah tuntutan kepada pemerintah dan DPR RI. Mereka mendesak pemerintah mengerahkan seluruh sumber daya untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana.
Selain itu, AMPB meminta pemerintah mempercepat proses evakuasi dan pemulihan serta memastikan seluruh bantuan dapat tersalurkan secara tepat sasaran kepada masyarakat yang membutuhkan.
Massa juga mendorong percepatan pembangunan kembali rumah warga dan fasilitas publik yang rusak akibat gempa. Fasilitas tersebut meliputi sekolah, fasilitas kesehatan, jalan, jembatan, jaringan listrik, hingga sarana komunikasi.
Di tengah kondisi tersebut, AMPB turut mengajak masyarakat Indonesia memperkuat kepedulian terhadap korban bencana di NTT. Mereka berharap solidaritas masyarakat tidak berhenti pada dukungan moral, tetapi juga diwujudkan melalui bantuan konkret.
“Sekarang saatnya kita menunjukkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang saling peduli. Jangan biarkan saudara kita di NTT menghadapi bencana sendirian,” tegas Gading.
Sekitar 100 peserta kemudian menyampaikan aspirasi di kawasan Gedung DPR RI. AMPB memastikan seluruh rangkaian aksi berjalan secara damai, tertib, dan bertanggung jawab.
Massa juga menyatakan komitmennya untuk tetap menghormati ketertiban umum serta tidak mengganggu aktivitas pengguna jalan selama menyampaikan tuntutan.
Melalui aksi tersebut, AMPB berharap pemerintah dan DPR RI memberikan perhatian lebih besar terhadap kondisi masyarakat NTT. Mereka meminta penanganan bencana berjalan cepat, konkret, dan berkelanjutan hingga proses pemulihan selesai.
Bagi AMPB, solidaritas terhadap korban gempa NTT bukan sekadar seruan. Gerakan tersebut menjadi bentuk kepedulian antarsesama anak bangsa sekaligus pesan bahwa masyarakat terdampak bencana tidak boleh menghadapi masa sulit seorang diri.
(mam/mam)



