BLITAR, ifakta.co – Ratusan peternak ayam petelur yang tergabung dalam Peternak Rakyat Blitar Raya menggelar aksi menyuarakan keresahan mereka atas anjloknya harga telur ayam yang terjadi selama tiga bulan terakhir.]
Kondisi tersebut dinilai semakin memberatkan karena di saat harga jual terus turun, biaya produksi justru mengalami kenaikan.
Para peternak meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk melindungi usaha peternakan rakyat yang saat ini menghadapi tekanan berat.
Iklan
Koordinator Peternak Rakyat Blitar Raya, Suyanto, mengatakan harga telur ayam di tingkat peternak kini hanya berkisar Rp20.600 per kilogram. Angka tersebut berada jauh di bawah harga pokok produksi (HPP) yang mencapai sekitar Rp23.000 per kilogram.
“Harga telur anjlok. Hari ini di kandang Rp20.600 per kilogram, sementara HPP di kami itu Rp23 ribu per kilogram. Padahal HAP (Harga Acuan Pembelian) sebesar Rp24.500 sampai Rp26.500 per kilogram,” kata Suyanto, Senin (2/6), dikutip dari Antara.
Menurut Suyanto, persoalan yang dihadapi peternak tidak hanya berasal dari turunnya harga telur. Kenaikan biaya pakan juga menjadi beban besar yang menggerus keuntungan usaha.
Ia menjelaskan harga pakan ayam terus mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir. Pakan kemasan 50 kilogram yang sebelumnya dijual sekitar Rp370 ribu per karung kini naik menjadi Rp400 ribu. Sementara pakan yang sebelumnya dibanderol Rp400 ribu kini mencapai Rp430 ribu per karung.
Selain itu, harga jagung yang merupakan bahan baku utama pakan ayam masih bertahan di kisaran Rp6.400 hingga Rp6.500 per kilogram.
Kondisi tersebut membuat banyak peternak kesulitan mempertahankan usaha mereka. Bahkan, sebagian di antaranya terpaksa menjual aset pribadi untuk membeli pakan dan menjaga operasional kandang tetap berjalan.
Menurut Suyanto, tidak sedikit peternak yang kini bertahan dengan menjual barang-barang berharga milik keluarga demi memenuhi kebutuhan produksi.
Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia menunjukkan harga telur ayam ras di tingkat konsumen memang mengalami pelemahan dalam beberapa hari terakhir.
Pada 29 Mei 2026, harga rata-rata nasional tercatat Rp30.500 per kilogram. Angka tersebut turun menjadi Rp30.150 per kilogram pada 1 Juni 2026 sebelum kembali naik tipis ke level Rp30.450 per kilogram pada 2 Juni 2026.
Meski demikian, harga yang diterima peternak masih jauh lebih rendah dibandingkan harga di pasar konsumen.
Karena itu, peternak dari sejumlah daerah sentra produksi telur seperti Blitar, Kediri, Tulungagung, hingga Malang melakukan aksi bersama untuk mendesak pemerintah segera menstabilkan harga telur sekaligus mengendalikan harga pakan ternak.
Selain persoalan harga, para peternak juga menyuarakan kekhawatiran terhadap rencana masuknya investor asing ke sektor peternakan ayam. Mereka menilai kondisi tersebut berpotensi memperketat persaingan dan semakin menekan keberlangsungan usaha peternak rakyat.
Bupati Blitar Rijanto mengaku memahami keresahan yang dirasakan para peternak ayam petelur. Menurutnya, pelaku usaha peternakan saat ini menghadapi situasi yang sulit karena harga jual terus menurun sementara biaya produksi meningkat.
“Informasi terakhir di kandang harga Rp21 ribu. Tentunya kalau semacam ini mereka akan terancam gulung tikar, apalagi harga bahan dasar pokok pakannya terus naik,” ujar Rijanto.
Ia berjanji akan meneruskan aspirasi para peternak kepada pemerintah pusat agar segera ada kebijakan yang mampu melindungi peternak rakyat dari tekanan pasar.
Menurut Rijanto, perhatian pemerintah sangat diperlukan mengingat Kabupaten Blitar merupakan salah satu pusat produksi telur terbesar di Indonesia.
Saat ini, produksi telur dari Kabupaten Blitar mencapai sekitar 450 ton per hari dan menjadi salah satu penopang utama pasokan telur nasional. Jika kondisi harga terus berada di bawah biaya produksi, dikhawatirkan keberlangsungan usaha peternak rakyat akan semakin terancam dan berdampak pada stabilitas pasokan pangan di masa mendatang.
(faz/fza)
