SURABAYA, ifakta.co – Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) menggandeng National Taiwan University Hospital (NTUH) Yunlin Branch untuk menggelar konferensi internasional pada Selasa (5/5). Kegiatan ini berlangsung di Hall Dharmawangsa Lantai 8 RSUA.
Konferensi tersebut mengangkat tema Personalized Approaches to Cancer and Metabolic Disorders. Selain itu, forum ini menyoroti integrasi sains dan teknologi mutakhir dalam pencegahan, diagnosis, dan pengobatan penyakit.
RSUA menghadirkan pakar medis dari berbagai negara. Di antaranya delegasi dari Taiwan, Amerika Serikat, Jepang, dan Australia. Karena itu, forum ini menjadi ruang strategis untuk bertukar gagasan lintas negara.
Iklan
AI dan Kolaborasi Jadi Kunci Layanan Medis Modern
Dalam forum tersebut, para ahli membahas pemanfaatan artificial intelligence (AI) serta kolaborasi interdisiplin. Mereka menilai pendekatan ini mampu mengubah cara tenaga medis mendiagnosis dan menangani penyakit.
Direktur RSUA, Dr. Muhammad Ardian CL, menegaskan bahwa dunia medis sedang memasuki fase baru. Ia menilai teknologi telah mengubah cara tenaga kesehatan mengambil keputusan.
“Pembelajaran terbaru dalam kecerdasan omik dan artificial intelligence (AI), serta profiling metabolik, telah mengubah cara kita menentukan risiko. Mengetahui penyakit lebih awal, mengawasi respons pengobatan, dan memperbaiki keputusan terapeutik,” jelasnya.
Selain itu, ia menilai perkembangan tersebut menuntut kolaborasi lebih erat. Ia mengajak seluruh pihak untuk menghubungkan praktik klinis, riset, dan teknologi.
Kolaborasi Ilmiah Percepat Inovasi Kesehatan
Lebih lanjut, Dr. Ardian mendorong peserta untuk aktif berdiskusi. Ia menilai pertukaran ide akan memperkuat solusi nyata di lapangan.
“Saya mengundang para peserta untuk aktif bertukar ide dan berbagi pengetahuan. Bukan hanya memperkuat perspektif kita, tetapi juga menciptakan perbaikan nyata yang membawa banyak manfaat dalam praktik,” tegasnya.
Selain itu, RSUA juga menegaskan perannya sebagai rumah sakit pendidikan. Institusi ini terus mendorong integrasi antara pelayanan, pendidikan, dan penelitian.
“Sebagai rumah sakit pendidikan, Universitas Airlangga tetap berkomitmen pada pelayanan, pendidikan, dan penelitian. Kami percaya bahwa pembelajaran dan kolaborasi berkelanjutan adalah kunci untuk meningkatkan kualitas luaran kesehatan,” paparnya.
Pendekatan Personal Gantikan Metode Konvensional
Sementara itu, Superintendent NTUH Yunlin Branch, Prof. Matthew Huei-Ming Ma, menyoroti perubahan pendekatan dalam dunia medis. Ia menilai sistem lama sudah tidak relevan untuk kebutuhan saat ini.
“Di masa lalu, ilmu kedokteran sering kali mengikuti model one-size-fits-all. Namun hari ini, kita belajar menggunakan pendekatan yang lebih personal untuk memberikan perawatan paling optimal,” ungkapnya.
Selain itu, Taiwan terus mengembangkan integrasi teknologi dan layanan kesehatan. Mereka memanfaatkan kekuatan industri semikonduktor untuk mendukung inovasi medis.
Teknologi Jadi Harapan Baru Penyelamatan Nyawa
Prof. Matthew menjelaskan bahwa teknologi komputasi dan AI kini membantu praktik medis secara nyata. Ia mencontohkan penerapan inovasi dalam berbagai bidang kesehatan.
“Mulai dari karya Dr Wood dalam perawatan diabetes, hingga strategi praktis Dr Chen untuk skrining kanker paru sejak dini. Kami ingin menunjukkan bagaimana investasi teknologi ini dapat menyelamatkan banyak nyawa,” paparnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya kerja sama global. Ia menilai kolaborasi lintas negara mampu mempercepat kemajuan layanan kesehatan.
Kolaborasi Global Perkuat Masa Depan Kesehatan
Menurutnya, kolaborasi antara Indonesia, Taiwan, Amerika Serikat, Jepang, dan Australia menunjukkan komitmen bersama terhadap pasien. Meski terpisah jarak, para ahli tetap memiliki tujuan yang sama.
“Saya berharap sesi hari ini menginspirasi kolaborasi baru, serta menghasilkan investasi bermakna dan dampak transformatif yang akan kita capai bersama demi kemajuan praktik kesehatan global,” pungkasnya.
Dengan demikian, konferensi ini tidak hanya menjadi forum diskusi. Selain itu, kegiatan ini juga membuka peluang kolaborasi berkelanjutan yang mendorong inovasi kesehatan di tingkat global.
(naf/lex)




