JAKARTA, ifakta.co – Badan Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (BP3) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menggelar seminar internasional bertema “Bridging Inclusive Learning and Professional Readiness for Future Educators”. Kegiatan ini menyoroti pentingnya pembelajaran inklusif serta kesiapan calon pendidik dalam menghadapi tantangan global.

Kepala BP3 UNJ, Prof. Johansyah Lubis, dalam sambutannya menyampaikan harapan agar seminar ini menjadi ruang diskusi yang produktif sekaligus memperluas wawasan dan memperkuat jejaring kolaborasi antar akademisi.

“UNJ berdedikasi untuk pendidikan inklusif,” ungkapnya saat membuka seminar internasional yang berlangsung di Aula Maftuchah Yusuf, Kampus UNJ, Jumat (27/3).

Iklan

Ia menambahkan bahwa forum ini juga menjadi sarana berbagi pengetahuan serta perspektif mengenai pendidikan inklusif dan peran pendidik masa depan dalam menghadapi dinamika global.

Sementara itu, Wakil Rektor UNJ Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni, Prof. Ifan Iskandar, yang hadir sebagai pembicara utama, menekankan bahwa pendidikan inklusif merupakan konsep yang membuka akses seluas-luasnya bagi semua individu untuk memperoleh pendidikan. Ia juga menegaskan bahwa isu ini menjadi bagian penting dari agenda pembangunan berkelanjutan.

Prof. Ifan mengungkapkan sejumlah tantangan dalam implementasi pendidikan inklusif, di antaranya keterbatasan akses bagi kelompok marjinal. Berdasarkan data global, sekitar 17 persen anak, remaja, dan pemuda di dunia tidak bersekolah.

Selain itu, di negara berpenghasilan rendah, anak penyandang disabilitas memiliki peluang 19 persen lebih rendah untuk mencapai kemampuan membaca minimum.

“Pendidikan inklusif adalah pendekatan sistemik menyeluruh yang memastikan semua siswa, tanpa memandang kemampuan atau latar belakang belajar bersama di kelas umum,” katanya.

Ia juga menyoroti bahwa pendidikan profesional erat kaitannya dengan standar nilai, atribut profesional, praktik, serta proses pembelajaran yang berkelanjutan.

Menurutnya, pembelajaran inklusif harus didukung pendekatan kolaboratif, praktik reflektif, serta pembelajaran berbasis inkuiri.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pendekatan tersebut juga terintegrasi dengan berbagai model pembelajaran modern, seperti pembelajaran berbasis proyek, personalisasi, hybrid learning, literasi kecerdasan buatan (AI), pendidikan STEM, pembelajaran sosial-emosional, kewarganegaraan global, serta penguatan keterampilan abad ke-21.

Seminar ini juga menghadirkan sejumlah pembicara internasional dan nasional. Di antaranya Prof. Bonifacio Gaverza dari West Visayas State University dengan materi “Beyond the Lesson Plan: Thriving in the Real World of Practice Teaching”, Mia Phoebe B. Ajo dari Xavier University dengan topik “Inclusive Learning Strategies for Students in Teaching Practice”, Prof. Asep Supena dari UNJ dengan materi “Inclusive Education”, serta Prof. Hanafi dari INTI University Malaysia yang membahas “Inclusive Learning Technology”.

Melalui penyelenggaraan seminar ini, UNJ menegaskan komitmennya dalam mendorong transformasi pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berorientasi global.

Kolaborasi lintas negara serta pertukaran gagasan yang terbangun diharapkan mampu melahirkan inovasi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman, sekaligus memperkuat peran UNJ sebagai pusat pengembangan pendidik profesional yang kompeten dan berwawasan inklusif.

(naf/kho)