JAKARTA, ifakta.co – Harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat (AS) melonjak tajam imbas perang Iran yang memicu kenaikan harga minyak dunia.

Rata-rata harga bensin di AS tercatat naik sekitar 24 persen menjadi US$3,70 per galon sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu.

Kenaikan harga BBM tersebut terjadi seiring lonjakan harga minyak global akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Iklan

Data dari American Automobile Association (AAA) menunjukkan harga bahan bakar meningkat cukup cepat dalam beberapa pekan terakhir, mengikuti tren kenaikan harga minyak dunia yang dipicu gangguan pasokan energi dari kawasan tersebut.

Dalam sepekan terakhir, harga minyak dunia bergerak di kisaran US$100 per barel.

Kontrak minyak Brent pada perdagangan Jumat (13/3) tercatat naik 2,67 persen dan ditutup di level US$103,14 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 3,11 persen menjadi US$98,71 per barel.

Lonjakan harga energi ini terjadi setelah konflik di Timur Tengah memicu gangguan pada jalur distribusi minyak global, terutama di Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20 persen dari total aliran minyak mentah dunia.

Sejak perang dimulai, pergerakan kapal tanker minyak di kawasan tersebut dilaporkan sebagian besar terhenti. Kondisi ini mengganggu perdagangan minyak dari sejumlah negara produsen utama di Timur Tengah.

Kenaikan harga bensin di Amerika Serikat menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintahan Presiden Donald Trump.

Sebelumnya, Trump sempat menjanjikan penurunan harga bahan bakar sebagai bagian dari agenda ekonominya. Pada Desember lalu, harga bensin bahkan sempat turun di bawah US$3 per galon, level terendah sejak 2021.

Lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik juga berpotensi memicu dampak lanjutan terhadap perekonomian global.

Biaya transportasi yang lebih tinggi diperkirakan dapat mendorong kenaikan harga bahan pangan karena meningkatnya ongkos pengiriman serta harga pupuk.

Selain itu, harga tiket pesawat juga mulai mengalami kenaikan karena maskapai harus menanggung biaya bahan bakar yang lebih mahal. Kondisi ini berpotensi menambah tekanan biaya bagi konsumen dalam beberapa waktu ke depan.

(jo/jo)