YOGYAKARTA, ifakta.co – Dalam upaya memperkuat riset biomaritim di kawasan perbatasan dan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada menggandeng Center for Biomaritime Studies in Border Area dan 3T Region (CBM-B3T).

Kerja sama ini diarahkan untuk menggali potensi hayati laut sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat di wilayah perbatasan melalui pendekatan ilmiah yang berkelanjutan.

Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Budi S. Daryono, Ph.D., menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif pendirian pusat studi biomaritim tersebut.

Iklan

Menurutnya, langkah menjadi penggagas memang bukan perkara mudah, tetapi inisiatif yang dilandasi kepentingan publik akan memiliki nilai strategis di masa mendatang.

Ia menegaskan bahwa dukungan institusinya tidak semata untuk kepentingan akademik, melainkan sebagai bagian dari agenda nasional.

Indonesia, kata dia, merupakan negara kepulauan dengan sekitar dua pertiga wilayahnya berupa lautan. Namun, perhatian riset dan kebijakan selama ini dinilai masih lebih dominan berorientasi pada daratan.

“Masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kemampuan bangsa dalam memahami dan mengelola potensi kelautan secara berkelanjutan,” kata Budi dalam rilis UGM, Senin (2/3).

Budi juga mengingatkan risiko eksploitasi sumber daya laut yang tidak terkendali, termasuk praktik penambangan pasir laut.

Ia menekankan bahwa pengelolaan sektor maritim tidak boleh semata mengejar keuntungan ekonomi jangka pendek karena kerusakan ekosistem akan membawa dampak lintas generasi.

Dalam pengembangannya, riset biomaritim akan mencakup identifikasi dan karakterisasi keanekaragaman hayati laut. Fokus penelitian meliputi avertebrata seperti moluska dan krustasea, hingga vertebrata seperti ikan, reptil laut, dan mamalia laut.

“Sampai saat ini mungkin pendataan sumber daya hayati laut kita itu masih mungkin kisaran 20–25% sehingga masih banyak tanda tanya besar terutama di laut tengah dan laut dalam,” ujarnya.

Selain inventarisasi, penelitian juga diarahkan pada bioprospeksi serta pengembangan teknologi budidaya. Menurut Budi, eksploitasi tanpa diimbangi kemampuan membudidayakan spesies bernilai ekonomi berisiko memicu overfishing dan kelangkaan sumber daya.

Ia mencontohkan sejumlah komoditas seperti udang dan bandeng yang telah berhasil dibudidayakan. Sebaliknya, tuna sirip biru hingga kini masih sangat bergantung pada penangkapan alam.

“Kalau kelebihan nanti habis dan kita belum bisa membudidayakan. Jadi upayakan sebelum habis itu kita meneliti bagaimana bisa membudidayakannya,” harapnya.

Pendekatan kolaboratif yang diusung juga melibatkan pemberdayaan masyarakat pesisir serta penguatan kearifan lokal.

Budi menyinggung praktik nelayan tradisional yang dahulu mengambil hasil laut secukupnya dan melepaskan kembali ikan yang masih kecil atau sedang bertelur. Prinsip keseimbangan tersebut dinilai relevan untuk dihidupkan kembali di tengah praktik eksploitasi modern yang cenderung ekstraktif.

Dalam implementasinya, CBM-B3T akan menggandeng berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, lembaga riset, pemerintah, hingga komunitas pesisir. Di Kepulauan Riau, pusat riset dikembangkan bersama Universitas Maritim Raja Ali Haji.

Fakultas Biologi UGM sendiri berperan sebagai pendukung akademik karena memiliki peminatan biomarine serta fasilitas riset seperti Pantai Porok Biomarine Research Station di Gunungkidul.

Budi menegaskan bahwa sektor maritim semestinya menjadi prioritas nasional, baik dari sisi pendanaan riset maupun pengembangan teknologi.

Ia mencontohkan negara-negara di Eropa Utara yang mampu memanfaatkan potensi kelautan untuk mendorong kemajuan ekonomi.

“Seperti di negara Eropa Utara semua punya laut dan itu mereka memanfaatkan laut bisa menjadi negara yang maju dan makmur,” sebutnya.

Sementara itu, Ketua CBM-B3T, Prof. Dr. Agus Salim, menekankan pentingnya integrasi sains dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, terutama di kawasan perbatasan.

Ia menilai pendekatan sederhana yang berpijak pada kearifan lokal justru menjadi kekuatan dalam pengelolaan sumber daya hayati.

Agus mencontohkan pengembangan budidaya ikan lokal seperti wader serta konservasi anggrek yang menjadi salah satu fokus Fakultas Biologi.

“Di sini kita perhatikan hal-hal kecil di sekitar bisa menjadi tempat riset dan pengembangan ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Ke depan, kedua lembaga tengah menyusun proposal riset kolaboratif yang mencakup pengembangan biodiversitas perairan, konservasi flora endemik, serta model pemberdayaan sosial-ekonomi masyarakat pesisir berbasis riset biologi.

Proposal tersebut direncanakan diajukan ke berbagai skema pendanaan nasional maupun internasional sebagai langkah konkret memperkuat kedaulatan maritim berbasis ilmu pengetahuan.

(naf/kho)