YOGYAKARTA, ifakta.co – Ketertarikan pada isu energi dan pembangunan ekonomi berkelanjutan mengantarkan Naufal Mohamad Firdausyan meraih beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk melanjutkan studi magister.
Alumni Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada angkatan 2019 itu diterima dalam program double degree antara Magister Ekonomi Pembangunan (MEP) FEB UGM dan University of Glasgow melalui Adam Smith Business School.
Usai menyelesaikan studi sarjana dan diwisuda pada Agustus 2023, Naufal tidak langsung melanjutkan pendidikan.
Iklan
Ia memilih terjun dalam kegiatan riset dan pengabdian masyarakat di Pusat Studi Energi (PSE) UGM.
Di lembaga tersebut, ia mendalami isu tata kelola hilir minyak dan gas bumi, transisi energi, hingga evaluasi kebijakan energi nasional.
Pengalaman itu memperkaya kapasitasnya dalam pengolahan data kuantitatif, riset lapangan, serta koordinasi dengan berbagai mitra, termasuk institusi pemerintah.
Dari sana, ia semakin menyadari bahwa kebijakan hilirisasi tambang dan proyek berbasis sumber daya alam tidak cukup dinilai dari sisi manfaat ekonomi semata.
Ia menilai, aspek biaya sosial dan kerusakan lingkungan harus diperhitungkan secara serius dalam proses perumusan kebijakan. Valuasi lingkungan, menurutnya, menjadi instrumen penting agar degradasi lingkungan tidak terus diperlakukan sebagai eksternalitas yang diabaikan.
“Sering kali kita menghitung nilai tambah industri, tetapi tidak secara serius memasukkan nilai kerusakan lingkungan ke dalam perhitungan kebijakan. Di situ letak urgensi valuasi lingkungan,” ujarnya melalui rilis UGM, Selasa (3/3).
Ketertarikan itu kemudian ia dalami melalui studi di MEP FEB UGM dengan konsentrasi pembangunan ekonomi berkelanjutan pada 2025.
Program tersebut, kata dia, memberikan fondasi teoretis dan metodologis yang kuat, mulai dari teori ekonomi, analisis kebijakan publik, hingga pendekatan kuantitatif untuk evaluasi dampak.
Skema double degree yang ditempuh membuatnya menjalani tahun pertama di UGM, lalu melanjutkan tahun kedua di University of Glasgow melalui program Master of Science in Environment and Sustainable Development di Adam Smith Business School.
Dalam fase studi di Inggris, ia menitikberatkan pembelajaran pada integrasi aspek lingkungan dalam kerangka pembangunan ekonomi.
Menurutnya, program ini bukan hanya memperkaya perspektif akademik, tetapi juga memperkuat hubungan kelembagaan antara UGM dan University of Glasgow.
Ia menilai pengalaman belajar dalam dua sistem pendidikan berbeda sebagai “double exposure” yang memperluas sudut pandang sekaligus jejaring profesional.
Keputusan melanjutkan studi tersebut dibarengi dengan persiapan beasiswa LPDP sejak akhir 2024.
Ia mendaftar pada Batch 1 tahun 2025, bersamaan dengan proses pendaftaran pascasarjana di UGM. Berbagai dokumen administratif seperti ijazah, transkrip nilai, sertifikat IELTS, curriculum vitae, dan esai dipersiapkan secara paralel.
Tantangan terberat, menurutnya, adalah menyelaraskan linimasa antara pendaftaran kampus dan LPDP, terutama dalam memperoleh Letter of Acceptance (LoA). Selain itu, penyusunan esai menjadi fase yang paling menguras energi karena harus menunjukkan arah studi dan kontribusi yang jelas.
Dalam esainya, Naufal menyoroti pentingnya penguatan kapasitas valuasi lingkungan di Indonesia. Ia mengangkat isu tersebut dari pengalaman risetnya di sektor migas dan pertambangan, serta menjelaskan bagaimana studi lanjut dapat meningkatkan kapasitas analisisnya dalam menjawab persoalan tersebut.
“Esai menjadi inti penilaian karena menunjukkan arah studi dan kontribusi yang bisa diberikan. Saya mengerjakannya hampir dua minggu, berdiskusi dengan teman dan alumni LPDP agar Statement of Intent jelas dan kuat secara akademik maupun praktis,” terangnya.
Ia menambahkan, selain kesiapan akademik, ketelitian dalam melengkapi dokumen, manajemen waktu, dan kesiapan mental menghadapi proses seleksi yang intensif menjadi faktor penentu. Keberhasilannya lolos pada kesempatan pertama ia syukuri sebagai capaian yang tidak lepas dari dukungan keluarga.
Bagi Naufal, pendidikan lanjutan bukan sekadar pencapaian formal. Ia memandangnya sebagai proses konsisten untuk menuntaskan apa yang telah dimulai dan memperdalam kapasitas sebagai peneliti di bidang ekonomi sumber daya alam dan pembangunan berkelanjutan.
“Pendidikan lanjut bukan sebagai tujuan akhir, bagi saya ini sebagai instrumen untuk memperkuat kompetensi analisis yang lebih komprehensif dengan menggabungkan ketajaman teori, ketelitian metodologi, dan kepekaan terhadap implikasi sosial serta lingkungan,” pungkasnya.
(naf/kho)



