JAKARTA, ifakta.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Timur menutup sementara akses pada pagar pembatas jalur rel kereta api yang rusak di wilayah Pondok Kopi. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mencegah pelaku tawuran memanfaatkan jalur tersebut untuk keluar masuk lokasi bentrokan.
Lurah Pondok Kopi, Sandy Adamsyah, mengatakan penutupan akses dilakukan sambil menunggu perbaikan permanen yang akan dikoordinasikan dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI).
“Untuk sementara, dilakukan penutupan sebagai langkah pencegahan, sembari berkoordinasi dengan pihak terkait, yaitu PT KAI (Kereta Api Indonesia) agar dilakukan perbaikan secara permanen,” kata Sandy di Jakarta, Jumat.
Iklan
Ia menjelaskan, pemerintah kelurahan bersama Bhabinkamtibmas, TNI-Polri, Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK), dan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) telah meninjau langsung kondisi pagar pembatas yang mengalami kerusakan.
Berdasarkan hasil peninjauan, akses yang terbuka pada pagar rel tersebut diduga menjadi salah satu jalur yang kerap dimanfaatkan pelaku tawuran untuk memasuki maupun meninggalkan lokasi bentrokan.
Menurut Sandy, tawuran yang terjadi beberapa waktu lalu di Jalan I Gusti Ngurah Rai melibatkan kelompok warga dari Kelurahan Pulogebang, Penggilingan, dan Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, dengan kelompok warga dari Kelurahan Bintara, Kota Bekasi.
“Kami terus memperkuat langkah pencegahan tawuran di wilayah atau sepanjang Jalan I Gusti Ngurah Rai, Kelurahan Pondok Kopi, Kecamatan Duren Sawit ini,” ujarnya.
Selain menutup akses sementara, Pemerintah Kelurahan Pondok Kopi juga telah berkoordinasi dengan Kepala Stasiun Klender Baru. Dalam waktu dekat, pihak kelurahan akan mengirimkan surat kepada Direktorat Jenderal Perkeretaapian agar dilakukan perbaikan permanen terhadap pagar pembatas di sepanjang jalur rel wilayah Pondok Kopi.
Sebagai langkah lanjutan, pemerintah juga akan membentuk posko pemantauan terpadu di sejumlah titik yang dinilai rawan tawuran.
Posko tersebut akan melibatkan unsur pemerintah, aparat keamanan, organisasi kemasyarakatan, serta masyarakat yang akan melakukan pengawasan secara bergiliran.
“Kami juga mengajak seluruh unsur di wilayah Pondok Kopi untuk bersama-sama menjaga keamanan lingkungan. Nantinya, dibuat jadwal piket guna memantau wilayah yang rawan terjadi tawuran,” tutur Sandy.
Ia juga mengajak Pemerintah Kota Bekasi memperkuat koordinasi dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, serta seluruh pemangku kepentingan untuk mencari akar persoalan sekaligus menyusun strategi pencegahan tawuran secara berkelanjutan.
Sementara itu, Ketua Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK) Pondok Kopi, Ega Harimurti, mengatakan hasil pemantauan menunjukkan para pelaku tawuran bukan berasal dari warga Pondok Kopi, melainkan hanya menjadikan kawasan tersebut sebagai lokasi bentrokan.
“Kami sangat prihatin karena Pondok Kopi hanya dijadikan arena tawuran. Jangan sampai kondisi ini memengaruhi anak-anak dan remaja di wilayah kami untuk ikut terlibat,” ungkap Ega.
Menurutnya, penanganan tawuran tidak dapat dilakukan oleh satu wilayah saja, melainkan membutuhkan sinergi lintas daerah yang melibatkan pemerintah daerah, aparat keamanan, PT KAI, serta pemerintah wilayah asal para pelaku.
Ega berharap penutupan akses pada pagar rel kereta menjadi solusi cepat untuk mengurangi potensi tawuran di kawasan perbatasan Jakarta Timur dan Kota Bekasi.
“Saya berharap kolaborasi semua pihak dapat segera diwujudkan sehingga keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah perbatasan Jakarta Timur dan Kota Bekasi dapat terus terjaga,” ucap Ega.
(yes/lex)



