RIAU, ifakta.co – Generasi Z (Gen Z) memegang peran penting dalam menjaga persatuan bangsa di tengah derasnya arus informasi digital dan keberagaman masyarakat Indonesia. Karena itu, berbagai pihak terus mendorong penguatan nilai Pancasila, toleransi, dan cinta tanah air melalui pendekatan yang lebih relevan dengan kehidupan anak muda.

Di Provinsi Riau, upaya tersebut terus berjalan melalui kolaborasi antara pemerintah dan organisasi kepemudaan. Mereka berupaya menanamkan nilai kebangsaan sejak dini agar generasi muda mampu menjaga keharmonisan sosial di tengah perbedaan suku, budaya, dan latar belakang masyarakat.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Riau, Boby Rachmat, menegaskan bahwa seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga persatuan bangsa.

Iklan

“Menjaga persatuan bangsa bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, melainkan juga seluruh elemen masyarakat. Mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga komunitas sosial memiliki peran penting dalam menanamkan nilai toleransi dan rasa cinta tanah air,” katanya, Minggu (31/5).

Boby menjelaskan, Kesbangpol Riau terus menggandeng berbagai organisasi kepemudaan untuk memperluas edukasi kebangsaan. Menurutnya, pendekatan tersebut lebih efektif karena generasi muda cenderung lebih mudah menerima pesan dari komunitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka.

“Pemerintah Provinsi Riau melalui Badan Kesabangpol terus melakukan edukasi dan sosialisasi bersama pihak-pihak yang berada di bawah naungan kami.” jelasnya.

Melalui kerja sama tersebut, pemerintah berharap generasi muda tidak hanya memahami makna toleransi secara teori. Sebaliknya, mereka dapat menerapkan nilai tersebut dalam lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Keberagaman Jadi Kekuatan Anak Muda Riau

Ketua Duta Pancasila Paskibraka Indonesia (DPPI) Riau, Josua Sihite, menilai kehidupan masyarakat Riau selama ini menunjukkan praktik toleransi yang baik. Ia melihat keberagaman justru memperkuat persatuan di kalangan generasi muda.

“Riau ini sangat toleran. Contohnya seperti adik-adik peserta pelatihan Paskibraka, mereka berasal dari 12 kabupaten yang berbeda tapi tetap rukun dan kompak. Malahan karena adanya perbedaan itu, mereka jadi lebih menyatu dan saling peduli,” ungkapnya.

Menurut Josua, para peserta Paskibraka dari berbagai daerah saling mengenal budaya, adat, dan kebiasaan yang berbeda selama menjalani kegiatan bersama. Proses tersebut membantu mereka memahami kekayaan budaya Indonesia secara langsung.

“Bahkan mereka saling berbagi informasi tentang keunikan suku masing-masing dan cara beradaptasi di Pekanbaru ini. Dari sana mereka menambah wawasan bahwa kita ini kaya akan budaya. Perbedaan itu yang merekatkan,” terangnya.

DPPI Riau Siapkan Program Khusus untuk Gen Z

DPPI Riau juga menyiapkan program edukasi kebangsaan yang menyasar pelajar dan generasi muda. Organisasi tersebut berencana menggelar sosialisasi ke berbagai sekolah setelah peringatan bulan Agustus dengan menggandeng organisasi Paskibra.

Josua menegaskan bahwa pihaknya akan terus mengajak generasi muda memahami pentingnya persatuan tanpa membedakan latar belakang suku, agama, maupun budaya.

“Kami terus berkomitmen mengedukasi adik-adik calon Paskibraka dan generasi muda. Apa pun latar belakangnya, kita tetap satu darah sebagai bangsa Indonesia.” tegasnya.

Menurutnya, banyak pelajar masih memandang Pancasila sebagai materi pelajaran yang harus dihafal untuk ujian. Karena itu, DPPI Riau ingin menghadirkan metode edukasi yang lebih menarik dan mudah dipahami.

“Rencana kami nanti setelah bulan Agustus, kami akan melakukan sosialisasi dan edukasi yang lebih luas ke sekolah-sekolah melalui organisasi Paskibra di sana. Kami ingin membedah apa sih sebenarnya Pancasila itu dan apa nilai-nilainya,” tambahnya.

DPPI Riau akan menyesuaikan metode penyampaian materi dengan karakter Gen Z dan Gen Alpha yang tumbuh di era digital. Dengan cara tersebut, generasi muda tidak hanya menghafal lima sila Pancasila, tetapi juga memahami serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Walaupun di sekolah diajarkan, pelajaran itu hanya dianggap sekadar hafalan untuk ujian saja. Nah, nanti kami di DPPI ingin masuk lebih dalam dengan cara-cara yang sesuai dengan gaya Gen Z atau bahkan Gen Alpha supaya mereka bisa memahami Pancasila lewat cara yang sederhana namun melekat,” pungkasnya.

(naf/lex)